
Akhirnya mereka pun pindah dari hotel itu, dan ini sangat menjengkelkan bagi Kelana, karena malam-malam harus melakukan mobilisasi, tapi bertahan di hotel itu juga tidak mungkin, belum ada satu kali dua puluh empat jam saja mereka sudah diganggu dengan hal-hal berbau mistis.
Bunga duduk di pojok kursi di dalam bus sambil bersedekap dada, semua orang menyalahkannya. Lagi pula kenapa bisa dia berbuat segila itu dengan membooking hotel yang memang sudah sepi pengunjung. Ulasannya di gulugulu hampir sama – banyak penampakan dan gangguan dari mahkuk tak kasat mata.
Kelana semakin ingin memberi pelajaran ke Bunga, tapi masih dia tahan karena Bagas lah yang akan menjadi target pertamanya.
“Saya kemarin sempat heran, kok rombongan mau menginap di hotel itu,” ucap si sopir yang sudah merasa was-was. Tapi mau bagaimana lagi? dia hanya bisa menuruti keinginan tamu. Dia dan satu temannya yang sesama sopir lebih mimilih tidur di dalam bus juga karena alasan itu, padahal Bunga sudah menawari kamar dan ditolak mentah-mentah. Lagi pula Bunga pasti cuma basa-basi.
Setelah keluar dari wilayah hotel itu, Kelana dan yang lainnya bisa bernapas lega. Mereka memutuskan besok agak siangan saja pergi jalan-jalannya, karena malam itu sungguh melelahkan. Hana bahkan harus membayari dulu semua akomodasi malam itu, karena Bunga beralasan diskon di hotel sebelumnya hanya berlaku untuk member tertentu, sedangkan dia membayar penuh, tak mungkin juga Kelana sebagai CEO melakukan hal yang biasa dilakukan bawahan.
“Aku akan memberinya pelajaran lihat saja nanti, bisa-bisanya membuat setan membelai pipiku yang hanya boleh disentuh olehmu,” ucap Kelana dengan gigi bergemerutuk. Ia masuk ke kamar mandi dan membiarkan Hana mengambilkan baju ganti.
“Dia memang keterlaluan, bisa-bisanya tidak berpikir dulu atau sekadar melihat ulasan saat ingin membooking kamar.” Hana membuang napas panjang, sejatinya dia juga tidak diganggu oleh mahkluk halus seperti yang Kelana dan yang lain alami, apa dia juga termasuk setan jika begitu?
__ADS_1
Hana menggelengkan kepala menepis pikiran buruk tentang dirinya sendiri, dia lebih meyakini bahwa dirinya memang tidak sepeka Dewi maupun Kelana dan staff yang lain.
“Hah … ternyata hal seperti itu ada dan memang mau tidak mau kadang harus dipercaya," gumam Hana sambil membuang napas.
"Tapi jangan sampai aku melihat apa yang Dewi lihat, bisa pingsan aku." pundak Hana mengedik, dia merasa seram.
Sambil menunggu sang suami selesai mandi, Hana pun membuka ponsel melihat apakah ada pesan untuknya. Dia yang sudah hampir merebah seketika urung dan malah memicingkan mata. Ada satu nomor yang tertera di aplikasi berbalas pesan miliknya, tapi itu bukan nomor milik Tantri. Meski tidak menyimpannya ke dalam kontak, Hana ingat betul berapa nomor ponsel ibu tirinya itu.
Hana sedikit heran karena orang yang mengirim pesan itu tahu namanya dan tiba-tiba saja meminta bantuan.
[Aku Amanda]
Syok juga Hana membaca dua kata itu, insting wanitanya seketika berkata bahwa ada sesuatu yang tidak beres akan terjadi, kenapa mantan kekasih suaminya itu mengirim pesan kepadanya tiba-tiba seperti ini. Lalu dari mana Amanda bisa mendapatkan nomornya juga menjadi tanda tanya tersendiri bagi Hana. Meski merasa sedikit aneh, tapi akhirnya dia membalas pesan itu. Toh, tidak seharusnya dia berburuk sangka ke semua wanita yang pernah mengenal atau berada di sekitaran Kelana.
__ADS_1
[Amanda siapa?]
Hana masih berpura-pura, dia tidak ingin menduga, siapa tahu Amanda teman SMP, SMA atau seseorang kenalan yang mungkin dia sudah lupa.
[Aku Dokter Amanda, mantan Kelana]
_
_
_
Scroll ke bawah 👇
__ADS_1