
Kelana agaknya tak ingin melewatkan kesempatan emas, jika Hana sudah merasa tidak enak seperti itu maka apa pun yang dirinya minta pasti akan dituruti. Salah satunya adalah posisi. Pria itu masih berdiri di depan sang istri, mana mungkin dia tidak paham untuk apa Hana berdiri di depan lemari berisi koleksi baju perangnya seperti ini. Kelana tahu hanya saja jual mahal tadi.
“Apa kamu sebenarnya tadi ingin menawarkan itu?” goda Kelana dengan suara mendayu-dayu, bahkan kuduk Hana sukses dibuat merinding.
“Hem … awalnya, tapi melihat raut wajahmu yang cemberut aku jadi takut, bagaimana kalau rudalmu tidak mau meluncur.” Hana mengatakan itu tanpa menatap wajah Kelana, dia bahkan menghindari kontak mata dengan suaminya ini.
“Kamu pikir jika marah, tidak nafsu lalu dia akan lemas begitu?”
“Iya lah,” jawab Hana cepat, setelahnya menekuk bibir karena pikirannya bisa terbaca jelas sekarang. “Aku hanya merasa bersalah, dan ingin menawarkan itu untuk menyenangkan hatimu,” cicit Hana dengan volume suara paling rendah yang biasa dia keluarkan dari mulut.
“Aku tidak mau menyakiti anak kita.” Tarik ulur, Kelana ingin melihat keagresifan Hana.
__ADS_1
“Dia tidak akan sakit kok, dokter juga sudah pernah bilang tidak apa-apa asal dilakukan dengan pelan dan tidak kasar.” Pipi Hana bersemu, dia menunduk malu-malu. Tak biasanya juga dia seperti ini, terkadang jika ingin melakukan itu dia tinggal meraba-raba milik Kelana sebagai kode dan pria itu sudah tahu.
Namun, memang karena kehamilan yang sudah semakin membesar, Kelana bingung. Semua serba baru untuknya, bercinta dengan ibu hamil juga pengalaman pertama baginya, benar-benar takut meski tetap saja mereka pernah melakukan, tapi tak serusuh biasanya.
“Ya sudah kamu diatas,” kata Kelana menawarkan itu kepada Hana, mungkin ini lah yang disebut negosiasi sebelum perang meletus, tapi Hana malah menjawab dengan gelengan kepala.
“Tidak lah, suasana hati kita sedang tidak baik, memaksakan itu hanya akan membuat kita mendapat nirwana semu,” ujar Hana sambil mendongakkan kepala, dia melihat jelas kening suaminya terlipat halus.
Hana pasrah saja, dia balas ciuman Kelana tak kalah bergairah. Mereka cukup lama saling lumaat dan remas, hingga akhirnya lepas kendali. Keduanya mencampakan seluruh baju ke lantai. Melupakan masalah yang baru saja terjadi untuk menikmati sesuatu yang selalu menjadi candu.
Dari percakapan mereka tadi, Hana tahu apa yang sang suami inginkan. Hingga dia pun membiarkan Kelana terbaring di atas ranjang dan dia yang mengendalikan permainan. Sesekali tangan pria itu mengusap permukaan perutnya di mana buah cinta mereka sedang bertumbuh dan berkembang di sana. Kelana sadar akan benar-benar menyesal, jika sampai melewatkan apa yang Hana tawarkan.
__ADS_1
Suasana hati Kelana kembali riang gembira, apa lagi saat dimanjakan oleh Hana karena dia hanya menikmati saja. Gelombang tsunami menghantam, gelenyar aneh itu membuat milik Kelana sampai terbatuk-batuk hingga lemas tak berdaya. Sungguh tak dia sangka, bumil juga bisa sebrutal itu dalam menumbuknya.
“Bayi kita, dia tidak apa-apa ‘kan Hunny?” tanya Kelana khawatir.
“Tenang saja! dia pasti hanya bingung, tapi paling juga tidak mengerti kalau itu rudal,” jawab Hana asal.
_
_
_
__ADS_1
🤣🤣🤣 scroll ke bawah