Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 101 : Tumben


__ADS_3

Hana menarik tangannya, tapi Kelana sudah memegangnya erat. Pria itu bahkan menunjukkan sorot mata memelas. Ia bersin-bersin lagi membuat sang istri mau tak mau sedikit luluh.


“Masuklah! Dan tidur di atas ranjang, jika memang demam tidak perlu berangkat kerja hari ini,” ucap Hana.


Kelana pun mengangguk dan menurut. Meski masih dihinggapi sedikit rasa takut tapi pria itu akhirnya meringkuk dan memejamkan mata. Bibirnya tersenyum, ranjang terasa hangat dan nyaman. Tak lama dia pun terbuai ke alam mimpi.


Hana membiarkan suaminya itu tidur, dia pun memilih bersiap untuk berangkat kerja. Tak lupa dia membuatkan bubur untuk Kelana dan meninggalkan sebuah catatan di atas meja makan.


“Aku berangkat kerja, kamu istirahat saja dulu di rumah. Di laci meja riasku ada obat demam dan flu, kalau masih tidak enak badan minumlah itu dulu, malam kita ke dokter.”


Hana menutup pintu, dia berdoa semoga saja demam Kelana mereda. Ia tak tega juga melihat pria itu sakit. Wanita itu melangkah keluar, ada hal yang harus dia kerjakan sebelum berangkat ke kantor.


_


_


“Tumben kamu pagi-pagi ke sini.”

__ADS_1


Sambutan Tantri terdengar seperti sebuah sindirian, tapi Hana memilih untuk mengabaikan. Masa bodoh dia dengan wanita itu, tujuannya datang adalah untuk menemui sang papa dan membawakan buah-buahan.


“Untuk apa sering-sering ke sini dan melihat wajahmu,” ketus Hana. Ia tersenyum miring dan berhasil membuat Tantri tertawa ironi. Hana memilih untuk mengabaikan wanita itu dan menuju bagian belakang rumah. Ia tahu kebiasaan Arman setiap pagi adalah membaca koran di sana.


“Pa!” sapa Hana.


Arman menoleh, sama halnya dengan sang istri dia sejatinya juga kaget mendapati putrinya datang ke rumahnya.


“Hana! Tumben,” ucap Arman.


Tantri yang mengikuti sang anak tiri pun tertawa, dia membalik badan sambil berkata, “Lihat! bahkan papamu saja terkejut.”


“Papa tidak usah memikirkan biayanya, papa datang saja ke rumah sakit untuk periksa dan semua akan ditagihkan ke kami,” ucap Hana. “Maksudku ke aku dan suamiku,” jelasnya.


Arman membuang napas kasar, dia lepas kacamata bacanya dan meraih tangan sang putri. Pria itu menggenggamnya erat sebelum melonggarkan dan mengusap lembut.


“Terima kasih karena kamu dan Kelana sudah peduli, tapi tenang saja! Papa masih punya cukup uang untuk berobat,”kata Arman.

__ADS_1


Tantri yang menguping pun seketika menjadi kesal, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut campur dalam perbincangan antara ayah dan anak itu. Tantri memilih menampakkan diri dan mendekat. Ia langsung menasehati Arman.


“Sudah lah Pa, kalau memang Hana dan suaminya ingin membantu ya terima saja, jangan bersikap sok kaya, kalau perlu Papa minta juga itu bantuan modal.”


Hana bingung harus bersikap bagaimana menanggapi ocehan Tantri di depan Arman, yang pasti dia sengaja tidak menunjukkan ekspresi bencinya melihat kemunculan wanita itu yang bak jailangkung.


“Bukan begitu Ma, tapi Papa tidak ingin membuat repot Hana,” jawab Arman.


“Dia kan anakmu Pa, sudah selayaknya lah dia mengurusimu di masa tua.” Tantri tak mau kalah. Wanita itu bahkan memutar bola matanya.


Hana yang malas berdebat pun memilih diam, dia jelas ingin mengurusi sang papa, tapi jika juga harus mengurusi nenek sihir yang saat ini sedang menatap wajahnya, Hana seperti tak rela. Jika memberi Arman jatah bulanan, dia yakin Tantri pasti akan meminta jatah itu baik sebagian atau keseluruhan dan memakainya untuk berfoya-foya.


Di saat mereka masih berbincang di sana, Bunga ternyata datang. Wanita itu ikut mendekat setelah pembantu di depan memberitahunya bahwa Hana berada di halaman belakang. Bunga awalnya ingin tahu apa yang sedang ketiga orang itu bahas. Namun, melihat kedatangannyaa Hana memilih untuk berpamitan berangkat ke kantor.


“Kenapa cepat sekali mau pergi?” tanya Bunga.


_

__ADS_1


_


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2