Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 224 : Pertunjukan


__ADS_3

Bagas pulang pagi, wajahnya lusuh dan kusut. Bunga yang setia menunggu sampai tertidur di depan ruang TV pun kaget, tapi entah kenapa hari itu emosinya tidak meledak-ledak seperti biasa. Ia mengekori Bagas ke kamar mereka, bahkan bertanya apakah suaminya itu mau dibuatkan teh panas atau kopi.


“Terima kasih, tapi aku mau mandi,” ujar Bagas dengan lemah tak bertenaga, seperti sudah merasa bahwa hari ini akan tamat riwayatnya.


Bunga memutuskan untuk tidak mengganggu sang suami. Diam-diam dia mengambil kemeja Bagas yang ada di ranjang cucian, mengendus lalu bergumam, “Tidur di mana dia semalam?”


***


Suasana gedung perusahaan Kelana sedikit berbeda. Beberapa televisi layar datar berukuran besar dipasang di beberapa sudut lobi bahkan di kantin. Seperti biasa, Kelana akan berjalan dengan tegap dan angkuh menuju ruang kerja. Ia tersenyum dengan sudut bibir saat ekor matanya menangkap pemandangan karyawan yang saling berbisik dan bingung untuk apa benda elektronik itu bertebaran di perusahaan.


“Aku akan memberi kalian tontonan.” Kelana memulas smirk, dengan bantuan orang-orang yang mau melakukan pekerjaan dadakan demi uang, diam-diam Kelana memasang kamera di bawah meja kerja Bagas. Ia ingin pria itu merasakan sendiri bagaimana rasanya dimata-matai.

__ADS_1


“Berani-beraninya mengusik wanitaku, rasakan! aku akan membuat semua orang tahu bagaimana tingkahmu.”


Beberapa menit setelah Kelana datang, Bagas dan Bunga juga sampai di perusahaan. Seperti karyawan yang lain, keduanya juga heran mendapati banyak TV layar datar di sana. Bunga mematung sibuk menerka untuk apa benda elektronik itu terpasang di sana, sampai seorang satpam memberitahu bahwa Kelana sudah tiba lebih dulu. Bunga pun lari tunggang langgang meninggalkan Bagas yang mukanya masih saja kusut, tapi pria itu tak berpikir macam-macam.


“Selamat pagi Pak!” sapa Bunga setelah melempar tas dan masuk ke dalam ruangan Kelana. Atasannya itu duduk sambil menyilangkan kaki dan menggoyangkan kursi.


Mata Kelana melirik sebuah berkas yang ada di meja. Ia meminta Bunga mengantarkannya ke koleganya. Bahkan di atas map itu sudah ada kartu nama orang yang dituju.


“Itu berkas penting, kamu pikir kurir bisa bertanggungjawab jika berkas itu tidak sampai? Lagi pula rekan bisnisku tidak ingin ditemui oleh staff biasa, tapi aku sudah menawar dengan berkata akan mengirimkan sekretarisku sendiri untuk mengantar berkas itu. Apa kamu ingin aku mengurungkan niat memerintahmu? Apa kamu ingin kerjasama perusahaan gagal? Jika iya aku akan berangkat sendiri.” Kelana berdiri dan merapikan bagian depan jasnya. “Kembali ke tempatmu dan tulis surat pengunduran diri!” ketusnya.


Bunga menelan ludah, dia secepat kilat menyambar berkas itu dari meja Kelana. Kartu nama yang berada di atasnya pun sampai jatuh, hingga dia harus menunduk dan bergegas memungutnya.

__ADS_1


“Saya akan ke sana Pak!” ucap istri Bagas itu kemudian keluar dari ruangan.


Bunga menyambar lagi tasnya dan bergegas menuju ruangan sang suami untuk meminjam kunci mobil. Hari itu untuk pertama kali mereka berangkat kerja bersama dan mungkin untuk yang terakhir kali. Saat Bunga masuk ke ruangan di mana bagian HRD berada, semua staff Bagas tidak ada yang memerdulikan keberadaan wanita itu. Mereka berpura-pura sibuk seolah tak melihat Bunga datang untuk menemui sang atasan.


Bagas memandangi punggung istrinya yang berjalan keluar. Namun, tiba-tiba saja ada perasaan aneh menyergap saat dia melihat tubuh molek Bunga yang berbalut rok dan kemeja ketat. Pria itu menelan ludah lalu menggelengkan kepala. Bagas duduk kembali ke kursi, tapi teripang laknat miliknya serasa mengganjal, dia seolah tidak nyaman dan bahkan harus menyentuh bagian itu bersamaan dengan semua TV yang terpasang di sudut perusahaan menyala.


_


_


_

__ADS_1


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2