
Datang ke rumah mamanya karena sudah bisa ditebak pasti Dinar meminta istrinya menginap, Kelana yang sudah bertelanjang dada sibuk mengecupi lengan Hana di kamar. Wanita itu duduk di tepian ranjang sambil memilah barangnya dari kardus yang dibawa sang suami.
Kelana tertawa, Hana mengepal bra dan panties-nya lalu sengaja meletakkannya di bawah. Padahal dia sudah tahu, karyawan yang memasukkan dua benda itu ke dalam kardus juga pasti sudah tahu kalau wanita itu menyimpan dalaman di lemari meja kerja. Hana menoleh Kelana, hanya tersenyum malu lalu kembali melihat isi di dalam kardus itu.
Hana lega mendapati perjanjiannya dengan sang suami masih ada di sana. Ia pun menyobek kertas itu menjadi beberapa bagian lalu membuangnya ke tempat sampah. Ia kembali mendekat ke arah ranjang. Matanya terbuai dengan sosok suaminya yang bertelanjang dada meski celana kerja masih melekat di tubuh.
“Mandi! Mama pasti sebentar lagi akan berteriak meminta kita makan malam,” ujar Hana.
“Sini dulu! Mandiku cepat, lagi pula kenapa harus mandi, tidak level dengan mandi, tanpa mandi aku masih tampan, memesona dan keren.” Kelana menarik pergelangan tangan Hana sampai wanita itu berdiri merapat dengan bagian atas tubuh tepat di depan mukanya.
“Meski aku suka mencium aroma tubuhmu tapi jika kamu malas mandi aku juga tidak akan mau lagi,” ucap Hana, bibirnya maju dua senti. Ia mainkan bagian atas rambut suaminya sebelum mendaratkan ciuman di sana. “Apa hari ini semuanya lancar?” tanyanya.
__ADS_1
“Hem … aku tadi sudah ke tempat pengacara, tapi ada sesuatu yang membuatku sedikit kecewa. Pak Rudi berkata akan mendengarkan isi rekaman itu dulu.” Kelana menjeda kata. Ia mendongak menatap manik mata Hana sebelum meminta ciuman ke wanita itu dengan cara nenunjuk keningnya. Setelah dapat, dia pun menjelaskan kembali tentang hasil pertemuannya dengan Rudi.
“Ternyata membuat orang mabuk, dengan tujuan agar mengaku, lalu merekamnya tidak bisa dibenarkan, tidak kuat di mata hukum, apa lagi keterangan yang diberikan tanpa sepengetahuan orang alias dijebak, illegal.”
Hana mengangguk, dia tidak bisa merespon lebih dalam ucapan sang suami. Otaknya buntu, dia tidak ingin hal ini mempengaruhi suasana hati.
Tadi sepulang dari rumah Ayu, dia benar-benar membeli alat uji kehamilan, tapi Hana mewanti-wanti sang mertua untuk tidak membahasnya lebih dulu, karena jika dirinya hamil, dia sudah berjanji Dinar lah orang pertama yang akan dia beri tahu, karena untuk memberitahu Kelana dia ingin membuat kejutan.
“Tapi tidak cukup untukku, dia harus mendapat pelajaran karena membuatmu trauma, pembulian yang dilakukan pria itu dan adik tirimu tidak bisa didiamkan begitu saja, aku sudah berjanji akan membalasnya untukmu.” Kelana melonggarkan pelukannya ke Hana, dia tersenyum dan tatapan matanya berubah nakal.
“Kenapa? ada apa?” tanya Hana yang sudah pasang kuda-kuda takut diterkam Kelana, tapi ternyata dugaannya salah saat suaminya itu buka suara.
__ADS_1
“Aku meminta Bunga untuk membuat catatan dari laporan, aku yakin dia masih lembur malam ini, semoga dia tidak diganggu oleh mba kunti.” Kelana mengedikkan bahu, dia tertawa jahil dan berhasil membuat gelak tawa sang istri pecah.
“Tapi dia temannya setan, jadi mungkin dia malah dibantu menyelesaikan itu.”
_
_
_
Scroll ke bawah 👇
__ADS_1