Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 104 : Lahar


__ADS_3

Saat lift itu sampai di bawah, Kelana tak membiarkannya terbuka dan menekan tombol naik lagi. Ia bahkan mendorong tubuh Hana dan mengurungnya. Ciuman meraka semakin liar dan panas. Hana bahkan hampir menjatuhkan tasnya. Ia melingkarkan tangan ke leher Kelana. Kepalanya bahkan bergerak ke kanan dan kiri untuk mengimbangi ciuman pria itu.


Pintu lift terbuka dan mereka berjalan masih dengan bibir yang bertautan. Kelana membuka pintu ruang kerjanya, sedikit kesusahan dan pada akhirnya dia baru mau melepaskan pagutannya.


Hana tersenyum mesum, dia usap bibirnya yang basah. Otak sucinya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, sofa ruang tamu di ruangan kerja Kelana pasti akan menjadi medan pertempuran bagi mereka.


Hana mengunci pintu, karena suami nakalnya sudah sibuk melepaskan jas dan bahkan melonggarkan dasi. Benar saja, Kelana langsung merengkuh tubuh Hana kembali, melumaat bibir wanita itu layaknya gelato cokelat yang begitu manis.


Tak hanya sampai di situ, Kelana mendudukkan Hana ke atas meja kerjanya. Ia menumpukan kedua tangan di sisi wanita itu dengan lidah yang masih membelit di dalam sana. Hana kalang kabut, dia benar-benar terbakar gairah. Tak tahan, tangannya mulai melepaskan kancing kemeja Kelana tak sabaran.


Kelana yang melihat istrinya seperti itu pun tersenyum bahagia. Hana seperti ingin melahapnya. Ia berpikir mungkin semalam Hana menginginkan bercinta dengannya, tapi sayang dia malah harus pergi karena hal penting yang belum dia ceritakan ke wanita itu.

__ADS_1


“Agh …” Kelana mendesau, lidah Hana menyapu lehernya dan bahkan memberikan bekas merah keunguan di sana. Pria itu hanya bisa memejam menikmati perlakuan sang istri. Hingga mata Hana mulai nampak nakal dan genit. Wanita yang masih duduk di meja kerja itu pun melepas ikat pinggangnya dengan terburu-buru. Kelana sampai heran dibuatnya.


Hana melompat turun dari atas meja, dan berlutut di depan Kelana. “Ini hukuman untukmu,” ucapnya sebelum memasukkan senjata berbahaya Kelana ke dalam mulutnya.


Kelana sampai tak bisa nerkata-kata. Hana membuatnya mendesah beberapa kali dan bahkan menjambak rambutnya sendiri. Ia sesekali menunduk melihat wanita itu mempermainkan senjata berbahayanya dengan tangan dan lidah.


“Oh … Hunny.” Kelana sampai tercekat. Kakinya terasa tak kuat untuk menahan berat badannya. Hana benar-benar hebat melakukan itu, bahkan tanpa dia minta wanita itu dengan sukarela memanjakannya.


“Hunny … “ Kelana tak bisa berkata-kata, padahal dia ingin meminta Hana menghentikan aksi, dia ingin berperang dengan formasi selayaknya. Namun, sepertinya Hana tak mau mendengarkan, lidahnya semakin lincah saja, hingga dia benar-benar harus mengaku kalah saat Hana menyeringai lebar dan lahar dinginnya meleleh ke mana-mana.


Wanita itu baru saja membuang-buang bibit kecebong suaminya dengan percuma. Hana pun mengusap bibir. Ia perlahan berdiri dan membiarkan Kelana mengatur napas.

__ADS_1


Hana berniat mengambil tisu yang ada di meja. Namun, tak dia duga, Kelana menyergap pinggangnya dari belakang. Pria itu menyibakkan rambutnya dan menyapukan lidah ke leher.


“Aku tidak mau telanjaang seorang diri,” ucap Kelana tepat di telinga Hana. Ia bahkan sengaja meniup telinga istrinya itu dan menggigitnya kecil.


“Lalu apa yang ingin kamu lakukan?”


_


_


Bersambung

__ADS_1


Komen yang banyak dulu


__ADS_2