Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 188 : Hikmah Diceraikan


__ADS_3

Namun, meski ada rasa cemburu di dalam hatinya, Hana tidak bisa membuat suaminya dipandang buruk oleh orang-orang yang melihat kejadian itu. Ia pun berdiri mengabaikan Kelana untuk membantu Amanda. Hana memapah wanita itu duduk, dia sempat bertanya apakah Amanda baik-baik saja lalu mengalihkan pandangan ke pergelangan kaki mantan kekasih suaminya itu.


“Baik, terima kasih!” Amanda merasa tak enak hati, dia tak menyangka alih-alih marah dan cemburu Hana malah membantunya seperti ini.


“Hati-hati, apa perlu aku bantu panggilkan taksi atau sopir pengganti?” tanya Hana basa-basi, dia memang tidak ikhlas membantu Amanda, hal ini dia lakukan semata-mata untuk menjaga pandangan buruk pada suaminya. “Maafkan Kelana, dia kaget sampai melepaskan pegangannya, dia mungkin berpikir aku akan marah jika melihatnya menggandeng wanita lain.” Hana pun tertawa.


“Apa kamu mau mencoba menjadi pelakor? Aku tak segan mencakar mukamu jika berani melakukan itu,” gumamnya di dalam hati. Ia tersenyum manis dan orang-orang pun mamandangnya dengan tatapan salut.


“Kamu pikir apa hikmah diceraikan karena suami diembat pelakor?” Hana masih bermonolog dengan tatapan mata fokus kepada Amanda. “Hikmahnya aku akan lebih berani mempertahankan milikku kalau memang dia pantas untuk dipertahankan.”


Hana melambaikan tangan saat Amanda dipapah keluar oleh pelayan resto, senyumannya seketika hilang berganti wajah yang masam. Ia kembali ke mejanya dan duduk dengan kasar, mengabaikan lagi Kelana yang hanya mematung sejak dia bangkit membantu Amanda tadi.


“Kelana, duduk lah, ayo kita makan! Papa sudah ngiler liat ini,” ucap Arman sambil menunjuk gambar ebi furai yang mengingatkan Hana pada sesuatu.

__ADS_1


“Jangan harap aku akan memaafkanmu hanya denga rayuan, berani-beraninya kamu bersentuhan dengan wanita itu.” Hana membuang muka lalu tersenyum ironi, sikapnya jelas tertangkap mata Kelana dan Arman. Hingga Arman berusaha memecah suasana dengan melempar guyonan. Namun, sayang Arman gagal, hingga pria itu memutuskan untuk membahas Bagas yang merayunya agar tidak jadi menceraikan Tantri.


“Apa Papa setuju?”


Berhasil, Hana seketika antusias dan kini menoleh ke arahnya. Arman pun menggelengkan kepala, meski sang putri tidak mau menatap Kelana, setidaknya Hana sudah mau bicara.


“Tidak, keputusan Papa sudah bulat, lebih baik Papa menjadi duda lagi, makan enak tinggal beli, kalau butuh hahahihi tinggal ke lorong indah,” ucap Arman. Dengan santainya dia menyebut nama sebuah lokalisasi tempat hahahihi tralala trilili yang terkenal di kota itu.


Kelana pun menunduk dan tertawa, dia tak menyangka Arman juga bisa dengan santai membicarakan hal vulgar seperti ini. Pelayan pun datang, pembicaraan mereka terjeda sesaat untuk menyampaikan pesanan. Setelah itu, Kelana mencoba bertanya ke Hana kenapa sampai dia datang terlambat.


“Hana, Papa sudah bilang tadi ada Papa juga kok, wanita itu mau bayar hutang ke Kelana, sama kayak Papa, Papa juga mau bayar hutang ke kalian,” ucap Arman, dia mengeluarkan ponsel dan meminta putrinya mengetikkan nomor rekening.


“Sudahlah Pa, pakai saja uang itu! pakai untuk makan enak, membeli apa yang papa inginkan, belilah ‘modnok’ untuk ke lorong indah, dan tisu ajaib.”

__ADS_1


“Brrttt …. “ Kelana menyemburkan air mineral yang baru saja membasahi lidah. Ia cepat-cepat mengambil tisu untuk mengelap mulut. Kelana tertawa, tapi tak bertahan lama karena Hana sudah bersedekap dada tepat di hadapannya.


“Kerena aku tidak ingin punya adik bayi yang seumuran dengan anakku nanti.”


Kelana saling bertukar pandang dengan sang mertua, dia tidak paham dengan kode yang diberikan oleh sang istri.


“Ah ... Papa malu Hana, masa Papa ke apotek atau ke bodoamart untuk membeli sarung odong-odong.” Arman lagi-lagi bercanda.


“Minta saja mantu Papa membelikannya, tu dia,” kata Hana sambil menunjuk Kelana dengan sedikit menggerakkan kepala. Hana benar-benar sedang sewot.


_


_

__ADS_1


_


 Scroll ke bawah 👇


__ADS_2