
“Ini!”
Hana menyodorkan kopi yang sudah agak dingin ke Bagas, pria itu benar-benar sedang berada di WC saat dirinya menelepon tadi. Mungkin Bagas stress setelah berbicara dengan Kelana sampai perutnya mulas-mulas.
“Kenapa mencariku?”
“Apa kamu sakit perut?” Hana membalas pertanyaan Bagas dengan pertanyaan juga. Namun, sedetik kemudian dia pun berdecak saat pria itu menatapnya dengan sorot mata tajam. “Aku ingin menyampaikan pesan dari Pak Kelana, setelah kamu keluar dari ruangannya tadi, mamanya menelepon. Dia menginginkan aku segera berhenti menjadi sekretaris putranya,” ucap Hana.
“Lalu?”
Bagas menunjukkan raut muka yang susah ditebak oleh Hana, sampai wanita itu harus sedikit merayu agar Bagas tak lagi ketus saat berbicara padanya.
“Kamu kenapa sih? apa aku punya salah? Ha?” Hana sengaja mencengkeram lantas menggoyangkan lengan sang mantan suami, jijik juga dia sebenarnya tapi mau bagaimana lagi, demi mengambil hati Bagas dia harus melakukan ini.
“Kamu tidur dengannya, aku tahu. Aku bisa menebak itu,” dusta Bagas padahal dia diam-diam memasang kamera di bawah meja Hana.
Hana yang tidak tahu dengan apa yang dilakukan Bagas pun menolak tuduhan itu pada awalnya, tapi melihat gurat ketidakpercayaan Bagas, dia pun memilih untuk jujur.
“Iya aku sudah melakukan itu, dia suamiku. Bisa apa aku?”
__ADS_1
“Sekali? Dua kali? Kalau kamu benar-benar mencintaiku kamu seharusnya menolak saat dia mengajakmu bercinta,” kata Bagas.
“Kalau kamu benar-benar mencintaiku ceraikan Bunga sekarang juga,” sambar Hana, tatapannya tajam menelisik, dia tidak ingin Bagas menyudutkannya. “Bukankah kamu juga masih bisa bercinta dengan Bunga meski berkata mencintai aku? kamu sama saja.”
Hana berpura-pura marah, padahal sejatinya dia masa bodoh dengan apa yang dilakukan pria itu. Hingga siasatnya berhasil. Bagas mencekal pergelangan tangannya dan memintanya untuk tidak pergi.
“Tenang saja! aku pasti akan menyingkirkan Bunga dan Kelana juga.”
DEG
Hana tentu kaget dengan ucapan Bagas, tapi sebisa mungkin dia tidak ingin menunjukkan perasaannya. Apa maksud ucapan pria buaya ini? Hana pun mencoba tenang dan bertanya arti dari ucapan sang mantan suami.
Bagas menyesap kopi yang Hana berikan lalu meninggalkannya begitu saja. Wanita itu hanya bisa termenung memandangi punggung Bagas hingga menghilang di belokan koridor.
Sementara itu, di rumah Bunga nampak tak fokus saat Tantri mengajaknya berghibah. Ia malah diam sambil menggigiti kuku jari telunjuk tangan kanannya. Bunga sedang berpikir tentang tawaran Bagas yang memintanya melamar pekerjaan menjadi sekretaris Kelana.
“Menurut Mama, apa aku harus melakukan apa yang Mas Bagas minta?” tanya Bunga ke Tantri. Wanita tua itu malah memukul lengannya, Tantri gemas karena ternyata sejak tadi sang putri tidak mendengarkan ceritanya, padahal mulutnya sudah hampir berbusa.
“Ah … kamu nyebelin,” gerutu Tantri. Ia suapkan sepotong kue pancong ke dalam mulut sebelum meminta Bunga mengulangi kalimatnya.
__ADS_1
“Apa aku harus melamar menjadi sekretaris Pak Kelana?”
Mata Tantri langsung membeliak lebar, dia kunyah cepat-cepat makanan di dalam mulut sebelum menelannya segera. Karena terlalu bersemangat, Tantri bahkan sampai memukul paha putrinya. Bunga pun mengaduh, dia menepis tangan sang mama yang baru saha membuat panas permukaan kulitnya,l.
“Hei … Bunga, bukankah itu bagus. Gajinya pasti besar, apa lagi jika kamu bisa mendapatkan hati Kelana.”
“Me-me-mendapatkan hati? apa maksud Mama?” tanya Bunga kebingungan.
“Ah … dasar, kamu kan mantan pelakor, masa gitu aja nggak tahu.”
Gigi Bunga bergemerutuk, jika Tantri bukan wanita yang melahirkannya, ingin sekali dia membentak wanita itu.
"Rebut hati Kelana, apa lagi?"
Bersambung....
...----------------...
...Kalau ada tulisan SCROLL Kebawah artinya Na UP dobel, kalau BERSAMBUNG artinya jumpa next Bab ya geng...
__ADS_1