Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 115 : Pemeriksaan Fisik


__ADS_3

“Apa Anda merokok? Minum alkohol? Berapa jam Anda bekerja setiap hari? Apa anda pernah mengalami masalah di organ reproduksi Anda sebelumnya?”


Kelana melipat halus keningnya, dia tidak menyangka akan diwawancari seperti ini oleh dokter. Pria itu pun menjawabnya dengan tenang, dia tahu tidak boleh membuat masalah di konsultasi pertama ini, jika tidak ingin sang Mama melakukan hal-hal yang lebih parah dari sekadar memintanya menemui seorang dokter androlog.


“Anda masih terbilang muda, melihat postur dan penampakan Anda sepertinya Anda sangat sehat, tapi untuk urusan kesuburan jelas tidak bisa dilihat dari penampilan fisik saja. Lalu berapa kali Anda berhubungan dalam satu minggu?” tanya Dokter itu sambil menatap Hana dan Kelana bergantian.


“Setiap hari.” Kelana menjawabnya tanpa rasa malu. Toh memang hampir setiap hari dia melakukan itu dan Hana – becocok tanam.


“Sebelum menikah apa Anda punya kebiasaan …. “ Dokter menjeda kata, sedangkan Kelana menelan saliva. Ia bingung harus menjawab jujur atau tidak pertanyaan dokter yang satu ini.


“Ya sekali dua kali lah Dok.” Pipi Kelana bersemu merah setelah menjawab hal ini. Nampak jelas Hana menunduk menahan tawa. Wanita itu menggosok hidung sebelum kembali menegakkan badan dan berdehem.


“Mari kita lakukan pemeriksaan fisik dulu!”


“Apa Dok?” Netra Kelana membulat sempurna, dia yang biasanya bisa membuat orang lain gemetaran kini dibuat sang Dokter gentar.


***


Kelana memalingkan muka ke arah jendela mobil. Ia tak sanggung memegang kemudi dan Hana lah yang mengambil alih. Sungguh, dia sedang nelangsa, Kelana berpikir dosa apa yang dia perbuat di kehidupan sebelumnya sampai dia harus melalui hari ini. Ia tak menyangka pemeriksaan fisik yang dimaksud oleh dokter adalah dengan cara menatap dan memegang-megang dua bola cokelat renyah miliknya. Sungguh, Kelana seperti kehilangan harga diri, jika bisa menangis dia ingin menangis sekencang-kencangnya dan berteriak.

__ADS_1


“Tidak! betapa malang nasipku!”


Namun, dia tidak mungkin melakukan itu terlebih di depan Hana. Kelana ingat betul bagaimana istrinya itu sangat antusias mendengar penjelasan dokter. Dan bahkan parahnya dua orang itu berbincang tepat di depan mukanya tadi.


“Dok, bisa tunjukkan aku bagian yang disebut … “ Hana membisikkan sesuatu ke telinga dokter, setelah itu dokter menjelaskan dengan langsung menujuk bagian itu.


“Harga diriku,” cicit Kelana. Ia benturkan kepalanya pelan ke kaca mobil.


“Sayang kamu kenapa?” tanya Hana kebingungan. Wanita itu bahkan melepas sabuk pengaman saat berhenti di lampu merah, agar bisa bergerak leluasa dan menyentuh lengan Kelana karena pria itu terlalu merapat ke pintu.


“Setelah ini aku mau menemui dokter bedah plastik,” ucap Kelana.


“Aku ingin mengubah wajahku Hunny, aku malu!” Kelana menangis, meski hanya meraung dan bahkan tidak ada setetes pun air mata yang meleleh di pipinya.


_


_


Malam harinya, Hana mematut diri di depan cermin yang berada di dalam kamar mandi. Ia sengaja memakai baju tidur tipis, bahkan dia sengaja tidak memakai bra dan panties. Meski anjuran dokter sudah sangat jelas agar mereka memberi jeda hohohehe, tapi dia tidak bisa membiarkan suaminya terus dirundung duka.

__ADS_1


Kelana menjadi pendiam sepulangnya dari dokter tadi. Ia tahu suaminya itu pasti memikirkan hasil konsultasi, apa lagi dia diminta melakukan analisis apakah pabriknya memang menghasilkan bibit-bibit berkualitas baik. Persis seperti apa yang dikatakan Dinar. Pabrik manusia Kelana harus dilakukan Quality Control dengan analisis kecebong.


Hana perlahan keluar dari kamar mandi, dia berjalan pelan, melenggok bak model papan atas menuju ranjang di mana Kelana duduk sambil menatap televisi yang menyala.


“Wangi sekali!” puji Kelana saat mencium aroma yang menguar dari tubuh sang istri.


“Kelana apa kamu tidak ingin berperang denganku malam ini?” goda Hana, dia naikkan satu kaki ke atas ranjang membuat baju tidurnya tertarik ke atas. Wanita itu bahkan mengusap kakinya dengan sensual.


“Hunny … apa kamu lupa memakai dalaman?”


_


_


_


_


scroll ke bawah 👇

__ADS_1


__ADS_2