Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 229 : Pilihan Sulit


__ADS_3

“Apa maksudmu? Bicara yang jelas!” bentak Bunga, dia menjadi tak konsentrasi karena ucapan Bagas dan memilih menepikan mobil dari pada celaka.


Bagas menceritakan semua, dari mulai tingkah nekatnya yang memasang kamera di bawah meja kerja Hana, sampai balasan perbuatan yang sama dari Kelana, juga perintah pria itu agar dirinya mengundurkan diri.


“Kamu memang brengsek!” umpat Bunga. “Untuk apa kamu ngadi-ngadi memasang kamera, Ha? kamu ingin menginitp selangkaangan Hana? Dasar kamu memang tidak bisa dipercaya.”


“Ini bukan saatnya kamu mengolok-ngolok dan marah ke aku. Pak Kelana berniat menjebakmu, jadi sebelum semua terlambat dan masuk ke dalam perangkapnya lebih baik turuti apa kataku!” Bagas berbicara dengan serius. Ia tak sadar bahwa ini lah yang sebenarnya Kelana inginkan.


“Perangkap?” Bunga masih belum bisa mencerna permintaan Bagas yang terdengar agak koyol.


“Intinya dia ingin kamu bertemu dengan preman yang kita bayar dulu, kamu pikir apa yang akan terjadi jika kalian bertemu? kamu akan dijebloskan ke penjara Bunga,” ucap Bagas dengan kecemasan yang sudah mencapai ubun kepala.


“Kembalilah ke kantor! carilah alasan agar kamu tidak jadi menemui orang yang diperintahkan Pak Kelana, dia bahkan sudah mengancam akan memberiku surat dari kantor polisi.” Bagas mengatakan apa yang Kelana ucapkan tadi, dan hal ini dia sampaikan ke Bunga bukan bermaksud untuk melindungi, tapi lebih ke antisipasi.

__ADS_1


“Bunga, kalau aku sampai masuk penjara, apa kamu pikir aku akan membiarkanmu lolos begitu saja? aku juga akan menyeretmu. Kita harus mempertanggung jawabkan itu bersama.”


Bunga tertawa ironi, dia memutuskan panggilan itu sepihak lalu melempar ponselnya ke kursi penumpang yang ada di sebelah. Bunga memukul kemudi mobil dengan kencang tak peduli tangannya sakit karena perbuatannya itu.


“Hana … Hana … Hana, kenapa wanita itu selalu hidup sempurna, seharusnya aku lenyapkan saja dia, dari pada seperti ini. Dia menyulitkan hidupku dan mas Bagas.” Bunga mengeram, tangannya mengepal kencang seolah ingin mencengkeram dan menghancurkan sang kakak tiri. Lama dia terdiam di dalam mobil yang masih berhenti di pinggir jalan, sampai seorang polisi yang sedang patroli mendekat dan mengetuk kaca jendela.


Bunga kaget dan ketakutan. Wanita itu menurunkan kaca jendela mobil dan meminta maaf. Ia beralasan mengantuk lalu menepi untuk beristirahat sebentar. Melihat polisi, Bunga merasa pilihan terbaik baginya adalah kembali ke kantor. Ia akan mencari alasan dan berbohong kepada Kelana.


“Aku bisa bilang mobilku mogok, atau terjadi kecelakaan sampai menyebabkan kemacetan.” Gumam Bunga. “Ya benar, aku harus melakukan itu. Aku tidak akan datang ke Sky Hotel, dia tidak bisa menjebakku seperti ini.”


_


_

__ADS_1


Sementara itu, Kelana tertawa membayangkan bagaimana bingungnya Bagas saat ini, dia memang sengaja membuat posisi Bunga bak makan buah simalakama, jika dia datang menemui orang yang diakuinya kolega maka wanita itu akan benar-benar bertemu dengan preman yang dia dan Bagas bayar untuk mencelakai Hana, tapi jika dia tidak datang artinya Bunga sebagai sekretaris sudah melalaikan tugasnya, sehingga Kelana memiliki alasan yang kuat untuk menendangnya. Ia benar-benar memikirkan hal ini secara matang, bahkan dia tidak memberitahu Hana. Hal ini Kelana lakukan karena dia khawatir Hana malah akan merasa iba ke Bagas dan Bunga, lalu mempengaruhi pikiran dan semua rencananya.


“Aku tunggu mana yang akan kamu pilih, melompat ke dalam mulut singa atau masuk ke kolam buaya,” gumam Kelana, dia yakin Bunga pasti dirundung dilema. Dia puas menjadikan wanita itu seolah mati segan hidup pun tak mau. Namun, Kelana sudah menduga bahwa Bunga pasti ingin kembali ke kantor.


“Semua staff di bagian HRD Pasti akan menepuk jidat mereka, jika tahu aku memecat sekretaris lagi.”


_


_


_


_

__ADS_1


scroll ke bawah 👇


__ADS_2