Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 239 : Pasti Fitnah


__ADS_3

Tantri akhirnya meletakkan sendok dan mengusap mulut, dia bangkit menuju depan untuk mengecek sendiri apa yang Bagas katakan, tanpa berpikir bahwa dirinya lah yang akan diciduk pihak kepolisian. Dengan santai wanita itu membuka pintu, gayanya petentang-petenteng bak jagoan. Namun, saat salah satu polisi berkata datang ke sana untuk menggelandangnya, Tantri refleks memundurkan tubuh ke belakang. Ia bertanya dengan bibir gemetar.


“A-a-apa salah saya Pak?”


Bagas dan Bunga yang mendekat dibuat terkejut karena polisi menjelaskan bahwa Tantri menjadi terduga otak dari sebuah rencana pembunuhan. Pasangan suami istri itu semakin tak percaya mengetahui kapan peristiwa itu terjadi.


“Mungkinkah saat mama aku pikir keluar belanja tadi?” gumam Bunga dalam hati. Lidahnya kelu, dia melihat di depan matanya sendiri polisi memborgol Tantri.


“Pak, ini pasti fitnah, saya tidak pernah melakukan perbuatan seperti itu,” tolak Tantri mentah-mentah, sayangnya polisi tak percaya begitu saja karena sudah mengantongi bukti.


Bunga yang melihat wanita yang melahirkannya hendak digelandang pun tak terima, dia memegangi lengan Tantri dan meminta polisi untuk tidak membawa wanita itu pergi. Segala jenis alasan disebutkan oleh Bunga, sampai kesehatan dan hak sang mama untuk membela diri didampingi pengacara, tapi apa yang diucapkan oleh polisi membuat Bunga secara impulsif melepaskan cekalan tangan.


“Kemungkinan Anda juga akan segera mendapat panggilan, karena ada laporan tentang tindakan kekerasan yang Anda dan suami Anda lakukan.”


Menelan ludah yang terasa kelat, Bunga membeku. Ia hanya bisa memandangi Tantri yang berakhir masuk ke dalam mobil polisi. Bagas yang mendengar juga ikut ketakutan, dia jambak rambut di sisi kepalanya dengan kencang.

__ADS_1


“Sial! pasti Kelana benar-benar melaporkan kita tentang kejadian yang menimpa Hana dulu, dia pasti sudah memegang identitas preman bayaran itu.” Bagas memukul tembok dengan tangan yang mengepal, ekspresi wajahnya berubah dan itu membuat Bunga melipat kening.


“Sakit ‘kan?” cibir Bunga mendapati suaminya sok-sokan seperti aktor film laga.


***


Setelah memberikan keterangan, Hana mengajak Kelana pulang. Makanan yang dibawakan oleh Dinar dan Tata pun tidak dia makan. Hana lebih memilih memberikannya ke petugas dan mengajak suaminya makan di apartemen. Ia bahkan menarik lengan Kelana saat pria itu berkata ingin ikut mendengarkan keterangan mama dan tantenya.


“Please! aku tidak mau bertemu dengan ibunya Bunga.” Hana memohon dan Kelana pun luluh. Pria itu berpamitan. Tak lupa Kelana meminta Dinar mengabari bagaimana tanggapan polisi setelah dia dan Tata memberikan keterangan.


“Tidak, untuk apa sedih? Dia dan Bunga sangat jahat, tapi memasukkan wanita itu ke penjara - aku tidak yakin bisa membuatnya jera.” Hana membuang napas kasar dari mulut, dia usap permukaan perut dari balik pakaian yang dia kenakan. Hana merasa hari itu penuh dengan hal-hal yang mengejutkan.


“Bagus lah, aku lega. Bagaimanapun juga aku tidak akan meloloskan mereka, baik ibu tiri, saudara tiri dan mantan suamimu itu harus merasakan hukumannya, aku ingin membuat mereka bersujud di kakimu.” Kelana geram sampai mencengkeram erat kemudi.


Namun, Hana sepertinya tidak fokus. Matanya memindai hampir seluruh bangunan yang dilewati. Ia baru berhenti melakukan itu dan menoleh ke Kelana saat melihat sebuah restoran gelato. Hana mengguncang lengan Kelana, dia meminta suaminya berbelok ke sana tanpa berkata.

__ADS_1


Kelana tahu tapi berpura-pura tak sadar, dia terus melajukan mobil, sampai Hana memukul lengannya dan berbicara.


“Sayang, baby ebongmu mau es krim.”


“Jangan itu tidak enak,” jawab Kelana. Ia tidak. mungkin menolak keinginan Hana tanpa alasan yang jelas.


_


_


_


_


Hei … bentar lagi tamat beneran ya. mungkin setelah tamat aku akan kasih beberapa Boncap.

__ADS_1


Untuk Gift away aku share aturannya di boncap terakhir


__ADS_2