Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 183 : Pondasi


__ADS_3

“Pak Kelana, pagi!”


Rudi menyapa dengan ramah, senyumnya cerah bak sinar mentari pagi. Ia memersilahkan Kelana duduk dengan ramah, berpura-pura menyembunyikan rasa grogi yang merajai hati, karena sorot mata pria itu yang seperti elang.


“Pak Rudi!”


“Iya,” jawab Rudi dengan senyuman canggung.


“Anda pasti sudah tahu kenapa saya datang ke sini,” kata Kelana. Ia menyilangkan kaki dengan punggung merebah di sandaran sofa.


“Oh … tahu.” Rudi masih tersenyum tapi sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah pucat. “Maaf Pak! si Dinar pasti ember, dia tidak bercerita macam-macam ‘kan?”


“Oh … tidak.” Kelana membalas dengan nada suara persis sama seperti Rudi hingga pengacara itu tersenyum canggung lagi. “Tidak macam-macam hanya saja menuduh aku ini memiliki penyimpangan selera,” bentaknya.


“Maaf Pak! maaf, saya memang sangat syok saat mendengar rekaman itu, apa bapak ingin mendengarnya sendiri agar percaya?” tawar Rudi.


“Hah … “ Kelana membuang muka, tapi bukannya menolak, dia malah meminta recorder itu untuk memastikan sendiri.


Satu menit

__ADS_1


Dua …


Tak ada dua menit dan Kelana sudah mematikan rekaman itu, dia mengatur volume suara paling rendah dan menempelkan ke telinga. Suara erangan dari mulutnya sendiri membuat pipinya bersemu merah. Ia sadar kini, benar apa yang dikatakan oleh Hana, dirinya lah yang banyak mendesaah di peperangan itu, mungkin karena dia dalam kondisi setengah sadar karena efek minuman yang dia tenggak bersama Bagas.


“Hapus saja yang ini!” Kelana langsung menekan tombol hapus untuk melenyapkan secara permanen file kedua. Setelahnya meletakkan recorder itu ke meja lagi.


“Bagaimana? Apa bisa menjerat pria itu ke balik jeruji?” tanya Kelana kemudian.


“Sebenarnya, sedikit susah. Sudah saya jelaskan alasannya kemarin. Tapi Anda bisa menggunakan ini untuk mengancamnya secara pribadi,” jelas Rudi Tabuti.


“Tapi saya menginginkan dia mendekam di penjara.”


***


Sementara itu, aktor utama yang Rudi dan Kelana bicarakan sedang bersusah payah membujuk papa mertuanya. Bagas menemui Arman, memohon agar pria itu mengurungkan niat menceraikan Tantri karena wanita itu sekarang menumpang hidup padanya dan membuat dia kesusahan.


“Pa, aku mohon. Jika begini terus rumah tanggaku dan Bunga bisa hancur,” ucap Bagas memelas. Ia pikir Arman akan melunak dan mengurungkan niatnya itu, tapi pria itu malah menjawab permohonannya dengan ketus.


“Rumah tangga yang dibangun di atas kehancuran rumah tangga orang lain wajar jika hancur, karena pondasinya tidak kokoh.”

__ADS_1


“A-a-apa maksud Papa?”


“Bukankah sudah jelas Gas, kamu membangun rumah tangga dengan Bunga, di atas kehancuran rumah tanggamu dan Hana,” jawab Arman dengan entengnya. “Dan wajar juga rumah tanggaku hancur karena dulu aku lebih memilih mempertahankannya dari pada putri kandungku sendiri. Aku harus menunggu hampir empat tahun lebih hanya untuk sadar bahwa Tantri bukan wanita yang tepat untukku.”


Bagas kicep, dia mengepalkan tangan dan memilih balik mengancam Arman. “Jika Papa menceraikan mama, aku juga akan menceraikan Bunga.”


“Kamu tidak bisa begitu Bagas, apa salahnya Bunga, apa ada masalah? aneh kalau kamu sampai mau menceraikannya tanpa alasan?" Kening Arman terlipat halus, dia bahkan geleng-geleng karena menganggap omongan Bagas ngelantur.


“Bunga pasti lebih memilih mamanya, dan aku tidak bisa menampung wanita itu. Dia sudah jadi benalu dalam rumah tanggaku Pa, hanya Papa harapanku satu-satunya untuk menyelamatkan rumah tanggaku dan Bunga.” Bagas masih terus berusaha membuat Arman berubah pikiran.


“Gas, semua orang memiliki cobaan hidup, jadi anggap saja kini giliranmu.”


_


_


_


Bab baru coming soon ya 🤗

__ADS_1


__ADS_2