
“Lihat! aku akui istri Kelana cantik, tapi janda? Cih … apa dia kena pelet?” ucap salah seorang teman Rafli yang juga teman Kelana. Ia yang satu meja dengan Amanda pun melirik ke arah dokter yang merupakan mantan kekasih Kelana itu.
Tatapan mata mereka mengarah ke Hana yang sedang berdiri di lantai dansa dan bergoyang mengikuti irama, lalu beralih ke Kelana yang duduk membelakangi istrinya.
“Apa dia wanita yang bisa dipakai?”
Semua orang menoleh dengan tatapan terkejut ke arah pria bernama Marko itu, bukannya memarahi karena ucapan sang teman yang sembarangan. Rafli malah tersenyum dengan sudut bibir seolah ingin berkata, bahwa ucapan Marko mungkin ada benarnya.
“Kenapa tidak kamu coba? Dekati saja dia,” jawab putra Tata itu.
Amanda pun menatap punggung Kelana. Tatapan wanita itu kemudian beralih lagi ke Hana yang nampak senang mengikuti irama musik yang tengah dimainkan disc joki malam itu.
“Aku akan mencobanya!” Marko menenggak minuman sebelum berdiri dan menghampiri Hana.
***
Sementara itu, Bunga sedikit kesal karena Bagas menolak ajakannya bercinta. Pria itu berkata banyak pekerjaan dan harus lembur, sehingga memilih keluar dari kamar menuju ruang kerjanya.
Bunga yang kesal pun menyusul. Ia tutup paksa laptop yang sedang Bagas gunakan, hal itu membuat Bagas marah tapi seketika diam karena Bunga langsung menyambar bibirnya.
“Bu-bunga!”
Bagas melepaskan pelukan sang istri dengan kasar, bahkan menghapus jejak ciuman wanita itu dari bibirnya.
“Mas masih mengharapkan Hana? Ha? mas nyesel menceraikan dia dan sekarang dia malah menikah dengan CEO tempat mas bekerja, iya?” bentak Bunga murka. “Jawab Mas!”
Bagas melihat mata Bunga menggenang, ada sedikit rasa bersalah di dalam hatinya karena sudah membuat wanita itu sampai seperti ini. Jiwa play boy Bagas pun meronta. Jika bisa memiliki Hana dan Bunga dalam satu waktu, kenapa dia tidak melakukannya saja?
“Mas Bagas jahat kalau sampai berpikir ingin meninggalkanku,” lirih Bunga.
Wanita itu seketika mendongak saat Bagas menangkup pipinya. Jurus buaya kampret pun Bagas luncurkan. Ia meminta maaf dan menempelkan bibirnya ke bibir Bunga.
__ADS_1
“Apa kamu mau bercinta di atas meja?” tanyanya dan kemudian diiyakan Bunga dengan anggukan kepala.
***
“Hei … selamat ya atas pernikahanmu dan Kelana!”
Sapaan Marko membuat kening Hana mengernyit. Ia pun mengangguk dan tersenyum karena pria itu menyebut nama Kelana barusan.
“Apa kamu teman Kelana?” tanya Hana. Ia pun berhenti menggerakkan badan dan memilih berdiri tegak di depan Marko.
“Tentu, kami teman sesama pengusaha muda,” jawab Marko dengan sedikit membusungkan dada seolah ingin berkata ke Hana bahwa dia bukan pria sembarangan.
Hana pun mengangguk, dia tersenyum dan masih ramah menanggapi. Hingga Marko merapat ke arahnya dan membisikkan sesuatu yang membuat harga diri Hana sebagai wanita terluka.
“Berapa hargamu semalam?”
“Apa?” Hana mundur ke belakang, dia pasang kuda-kuda karena nalurinya berkata bahwa Marko bukan pria baik yang harus menerima keramah tamahan darinya.
“Apa maksudmu? Sepertinya kamu ingin melecehkan aku?” ketus Hana.
“Melecehkan? Itu bukan melecehkan, begini baru melecehkan,” kata Marko sambil meremas bokong Hana.
Terang saja Hana marah dan menampar muka pria itu. Semua orang pun menoleh karena terjadi keributan, tak terkecuali Kelana. Ia melihat dengan jelas Marko memegangi pipi dengan Hana yang terlihat emosi. Kelana pun berjalan mendekat, dia semakin mempercepat langkah karena Marko hendak melakukan sesuatu lagi dengan menggerakkan tangan.
“Apa yang kamu lakukan ke istriku?” Kelana melotot tajam pada Marko, dia bahkan mencekal tangan pria itu dan menatapnya. “Mau kamu gunakan untuk apa tanganmu?”
“Kelana … Kelana, aku tahu wanita ini adalah janda, dia menjadi sekretarismu juga pasti karena ada maksud, kamu malah menikahinya, masa begitu saja kamu tidak bisa melihatnya.” Marko malah berbicara seolah dirinya orang paling benar di dunia.
“Ayo kita pergi!” Kelana memilih tak memperpanjang urusan dengan Marko, dia memilih menggandeng tangan Hana untuk mengajaknya pergi.
Namun, wanita itu tak mau bergerak hingga langkah kaki Kelana tertahan dan pria itu pun menoleh.
__ADS_1
“Apa kamu tidak bisa membelaku? Dia bahkan meremas bokongku,” ucap Hana, air mata mengalir membasahi pipinya.
“Apa?”
“Meski kita hanya …. “
Hana belum juga menyelesaikan kalimatnya, tapi Kelana sudah berjalan dengan cepat ke arah Marko yang sudah kembali ke mejanya dan Rafli. Kelana menahan pundak Marko yang hampir duduk di kursi, dan dengan sekuat tenaga, Kelana memberikan bogem mentah ke wajah pria itu.
“Kamu pikir bisa seenaknya menyentuh wanitaku! Cari mati!”
Kelana naik ke atas tubuh Marko dan dengan brutal dia memukuli pria itu dan membuat Hana seketika merasa bersalah. Wanita itu berlari dan mencoba ikut melerai Kelana yang memukuli Marko sambil meracau.
“Tidak akan aku biarkan kamu melecehkan wanita yang aku cintai!”
“Ke-kelana, dia … mencintaiku?“
Hana yang masih terkejut dengan sikap dan ucapan Kelana, dibuat semakin terkejut saat Marko melayangkan pukulan dan mengenai muka sang suami. Ia yang kesal pun memilih menjambak rambut Marko dengan sekuat tenaga, dia bahkan menariknya ke atas seolah ingin mencabut rumput dari tanah.
“Aghh …. Rambutku!” pekik Marko.
“Hana .. jangan! rambut dia baru saja dicangkok!” teriak Rafli
_
_
_
_
Siapa yang nunggu Bab 'Warning !!!' ? 🤣
__ADS_1