
Dinar memijat kening, dia tidak mau menoleh ke sang putra yang duduk di sebelahnya sedangkan Hana memilih untuk kembali ke tempatnya. Gara-gara Kelana tekanan darah Dinar langsung turun. Wanita itu masih tak mau memberi maaf kepada sang putra meski Kelana sudah jujur, kalau dia hanya bercanda.
Tepat setelah Dinar siuman, Hana berkata bahwa Kelana berbohong, dia tidak mungkin sampai berbuat hohohehe sebelum waktunya. Hana merasa bersalah, melihat betapa syoknya Dinar saat sang putra berbohong, menunjukkan betapa besar wanita itu tidak menginginkan pernikahan ini.
Hana menyandarkan punggungnya di kursi, embusan napas panjang dari bibirnya menunjukkan seberapa besar tekanan yang mengganjal di dada.
“Pak Kelana keterlaluan,” gerutu Hana. Ia hendak berdiri mengambil minum, tapi lebih dulu dikejutkan dengan sosok Dinar yang nampak keluar dari ruangan sang putra. Wanita itu menatap ke arahnya, lalu menepis tangan Kelana yang hendak memegang lengan.
“Mama bisa sendiri, kamu pikir Mama jompo?” Hardik Dinar. Meski masih nampak lemah, ibunda Kelana itu memilih berjalan sendiri meninggalkan sang putra dan Hana – yang memandanginya sampai masuk ke dalam lift.
Memalingkan wajah, Hana tanpa sengaja beradu mata dengan Kelana. Atasannya itu berpura-pura batuk dan memutar tumit untuk masuk kembali ke dalam ruangan, tapi Hana lebih dulu mencegah dengan berkata-
“Pak, saya mau bicara.”
Kelana jelas kaget, terus terang dia malu karena tadi berbohong perihal kehamilan Hana. Ia tidak berani menatap mata sang sekretaris dan menjawab hanya dengan gerakan kepala menyuruh Hana masuk ke dalam ruangannya.
“Katakan!”
Kelana tak ingin terlihat salah, dia memasang wajah angkuh dan bahkan menyilangkan kaki saat Hana sudah duduk tepat di depannya.
“Menikah bukan ide yang bagus Pak, sepertinya Bu Dinar lebih bahagia mengetahui fakta, bahwa Anda penyuka sesama jenis dari pada menikah dengan saya. Lihat saja tadi! Bu Dinar langsung pingsan saat Anda berkata saya hamil,” ucap Hana.
“Aku ‘kan sudah bilang ke Mama kalau hanya bercanda, lagi pula kenapa kamu anggap serius? kamu baper? Hana kamu tahu kita bukan menikah betulan jadi mana mungkin kamu hamil,” ujar Kelana. Ia memalingkan muka sewot. “Aku lelaki normal Hana, jangan meremehkan aku,” gerutunya. “Bawa-bawa soal penyuka sesama jenis lagi, aku potong gajimu!”
“Saya tidak baper Pak, tapi hanya sedih saja.”
“Kenapa kamu sedih? aneh!” Kelana melirik heran lantas memalingkan muka lagi.
__ADS_1
“Saya hanya membayangkan jika terjadi kecelakaan ke saya saat menikah bohong-bohongan dengan Anda, lalu saya tetekdung tetekdung tralala alias hamil. Betapa menderitanya saya nanti saat Bu Dinar tidak mengharapkan cucunya sendiri.”
Kelana mengenyit heran, dia menoleh dengan raut muka aneh yang tak terdifinisikan oleh Hana. Pria itu tidak bisa menjawab ocehan sang sekretaris karena terlalu malu membahas hal itu.
“Sudah jangan overthinking, aku pastikan kamu tidak akan hamil, ‘kan ada pengaman,” kata Kelana.
“Ha? maksud Bapak?”
Hana melongo. Seementara Kelana seketika melebarkan bola mata karena sadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Sungguh memalukan.
***
Sore menjelang, semua karyawan satu persatu beranjak pulang. Hana berjalan lemah menuju mobilnya terparkir. Tak dia sangka Bagas berlari mengejar dengan terburu-buru. Pria itu bahkan memanggil namanya berulang, tapi dengan sengaja Hana terus melangkahkan kaki. Ia merasa malas, bingung dengan hidupnya yang terlalu berwarna.
Mendesau panjang, Hana akhirnya menoleh. Ia sadar bahwa misinya balas dendam belum selesai. Sedikit terpaksa, dia memulas senyum manis ke mantan suami laknatnya.
“Sudah mau pulang?”tanya Pria itu sok perhatian.
“Hem … mau apa lagi? capek lembur terus. Lagi pula kamu juga tidak akan menaikkan gajiku.” Hana masih bisa membuat candaan.
“Aku hanya manager, yang berkuasa tetap Pak Kelana,” jawab Bagas yang ternyata sadar akan posisinya.
Mereka masih berbicara sambil berdiri berhadapan, saat sebuah sedan mewah tiba-tiba melesat melewati keduanya dengan kecepatan tinggi. Hana pun sampai menggeser tubuh karena kaget, melihat plat nomor mobil itu, dia pun mencebik kesal.
“Apa dia mau membunuhku?” gumam Hana dalam hati. Ia tahu Kelana lah yang mengendarai mobil itu.
“Bukankah itu Pak Kelana? Mau kemana dia sampai buru-buru seperti itu?” Bagas menatap Hana seolah mencari jawaban, tapi mantan istrinya itu hanya mengedikkan bahu.
__ADS_1
“Apa kalian bertengkar? Han, apa kamu benar akan menikah dengan Pak Kelana?”
“Kenapa? menunggumu bercerai dengan Bunga? aku tahu kamu sangat mencintainya.” Hana kembali melancarkan serangan. Namun, tak dia duga Bagas malah menjawabnya dengan sebuah penawaran gila.
“Bagaimana kalau kita menjadi sepasang kekasih?”
Hana pun cengo, rasanya ingin dia tampol muka Bagas yang sok ganteng itu. Ia bingung. Meski tahu mantan suaminya ini brengsek, tapi Hana tak menyangka jika kebrengsekan Bagas berada di level tertinggi melebihi mulut tetangga.
“Apa kamu sedang mengajakku berselingkuh di belakang Bunga?” tanya Hana pada akhirnya, dia benar-benar ingin mencubiti ginjal Bagas jika bisa.
“Aku akan menceraikan Bunga jika kamu memintanya, aku masih memiliki perasaan padamu.”
Hana semakin tak bisa berkata-kata, beruntung suara klakson mobil begitu memekakkan telinga sampai dia menoleh dan memasang muka kesal.
Hana dan Bagas terheran-heran, begitu juga dengan semua karyawan yang melihat. Bagaimana tidak? ternyata Kelana yang menekan klakson itu berulang. Pria itu bahkan membuka jendela mobil, sedikit melongokkan kepala dan dengan gerakan jari telunjuk meminta Hana mendekat ke arahnya.
“Kenapa dia? apa dia marah?” gumam Hana.
“Mati aku!” ucap Bagas melihat sorot tajam dari mata Kelana.
_
_
_
_
__ADS_1
Satu aja ya, soalnya kalau dua kalian lompatin likenya huhuhuhu sedih aku 🤧