Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Extra Part 13 : Ada Mbah Dukun


__ADS_3

Kelana girang saat pintu kamarnya diketuk, dia langsung melompat dan semangat menduga bahwa Hana datang membawakan mangga mekar seperti apa yang dia inginkan, saking senangnya dia tidak berpikir mana mungkin secepat itu Hana datang dan mendapatkan buah asam itu.


Benar saja, saat pintu kamar dibuka keterkejutan lah yang Kelana rasa. Ia melihat Dinar bersama Tata juga satu orang yang menurutnya berpenampilan aneh berdiri di depan kamar.


Kelana yang tidak mengenal mau tak mau bertanya ke sang mama. “Ada apa? siapa pria itu?”


Namun, bukannya menjawab pertanyaan sang putra. Dinar malah menoleh mbah dukun yang berniat mengobati pasiennya itu. Yang menurut Tata sakitnya Kelana mungkin karena diguna-guna. Dukun itu mengangguk dan langsung merogoh kantong celana, dia mengambil segenggam beras bercampur kacang hijau dan langsung melemparkannya ke badan Kelana.


Tak perlu dipertanyakan lagi, suami Hana itu langsung berteriak kesal, suaranya menggelegar sampai Hana yang sedang menaiki anak tangga dengan pelan membelalakkan mata lebar-lebar.


Hana memegang perutnya dan berjalan cepat, alangkah terkejutnya dia saat sudah melewati pijakan anak tangga paling atas. Hana melihat Dinar dan Tata ketakutan, sedangkan Kelana sudah menindih tubuh pria nyentrik yang ternyata adalah dukun itu.


Kelana mencengkeram bagian leher baju si dukun dengan kencang. “Apa yang kamu lakukan? sakit tahu!” amuknya.


Tubuh dukun yang kerempeng jelas kalah jika dibandingkan dengan tubuh kekar Kelana yang atletis. Dengan satu tangan, Kelana menahan pria itu sedangkan tangan lainnya dia gunakan untuk merogoh kantong celana si dukun.


Kelana mengambil segenggam beras bercampur biji kacang hijau sama seperti yang dilakukan dukun itu beberapa menit yang lalu, dia pun melemparkannya ke muka dukun gobal-gabul itu sambil bertanya, “sakit tidak? ha? sakit tidak?”


Dinar dan Tata saling berpegangan tangan, pikiran mereka kini sama - setan yang dikirim si tukang santet sangat kuat, sampai-sampai tidak takut dengan dukun yang mereka bawa.

__ADS_1


“Kok Kelana lebih mirip orang kesurupan dari pada orang terkena santet,” ujar Dinar. Suaranya terdengar di telinga sang putra juga Hana.


“Santet?” Hana dan Kelana menoleh secara bersamaan, kening mereka berkerut dengan tatapan tak percaya memandangi wajah Dinar.


“I-i-iya, kamu mual-mual tanpa sebab jadi mama pikir ….. “ Dinar menunda kata, dia toleh Tata dengan mata melebar. Wanita itu baru sadar akan kesalahannya, bagaimana bisa percaya begitu saja dengan dugaan sang adik yang menganggap putranya diguna-guna orang.


Dinar reflek memukul lengan Tata, memarahinya karena sadar akan kesalahan besarnya membawa dukun ke sana.


“Jadi Mama pikir suamiku kena santet?” Hana geleng-geleng tak percaya. “Kelana kena covid bukan kena santet Ma.”


Semua orang terperanga, terlebih dukun abal-abal yang berada di bawah kungkungan Kelana. Dia langsung mendorong tubuh Kelana agar bisa lolos. Dukun itu menjauh dengan cara ngesot ke belakang.


Kelana yang sadar bahwa Hana salah ucap langsung merampas tas Dinar. Dia melemparkannya ke muka dukun itu karena terlalu geram. “Couvade bukan covid,” bentaknya.


“A-a-apa itu?” Tata yang merasa bersalah melempar balik pertanyaan, tujuannya agar tidak terlalu terlihat bahwa dia lah dalang di balik kekacauan ini.


“Kehamilan simpatik,” sembur Kelana. Ia berdiri dan geleng-geleng. Ditolehnya Dinar dan Tata dengan raut muka garang.


“Oh … “ Tata menyenggol lengan sang kakak ketakutan. Ia tak menyangka Dinar malah membalas dengan senggolan kasar sampai tubuhnya terdorong ke depan.

__ADS_1


“Iya maksudku Couvade.” Hana mengusap perutnya, dia menyadari telah keliru. Seharusnya dia menyebut saja sindrom kehamilan simpatik.


Namun, sepertinya terlambat. Mereka masih berada di lantai atas saat mendengar suara sirine ambulan, tak berselang lama pak War yang baru pulang membeli mangga mekar naik ke atas dengan napas yang tersengal-sengal.


“Nyonya, Tuan di depan … “


“Pak War kenapa kayak dikejar setan gitu, tenang Pak! tarik napas hembuskan! Tarik napas hembuskan!” perintah Hana ke sang penjaga rumah.


“Ada apa di depan?” tanya Kelana yang mencium aroma-aroma masalah dari raut wajah Pak War.


“Ada banyak orang Pak, ada ambulan juga.”


_


_


_


Scroll ke bawah 👇

__ADS_1


__ADS_2