
“Aku sepertinya bisa masuk ke jajaran pria tersabar di dunia.”
Kelana memuji diri sekaligus menggerutu. Hana yang berbaring disebelahnya pun hanya bisa memasang muka bersalah karena tidak bisa memberikan apa yang pria itu inginkan.
“Kemarikan bantal itu!” pinta Hana tiba-tiba.
Kelana menolehkan kepala, mau tak mau dia dan Hana pun saling pandang. Pria itu tahu Hana pasti berpikir dia tidak akan rela diusap dadanya malam itu, hingga wanita itu meminta bantal sebagai gantinya.
“Hey … untuk apa, kamu boleh merabaku sesuka hatimu.” Kelana meraih tangan Hana, meletakkan tangan istrinya itu ke atas dada dan mulai menaikturunkannya dengan sengaja.
“Aku pikir kita terlalu cepat jika berpikir ke sana, bahkan dua minggu yang lalu kita masih seperti kucing dan anjing,” ujar Hana.
“Hem … maka dari itu aku tidak akan memaksa, meski aku harus merasakan penderitaan ini.”
Hana terkekeh, dia merapatkan badan sebelum menyembunyikan wajahnya di samping tubuh Kelana. Tangannya bergerak membelai lembut dada pria itu dan kembali berbicara.
“Bagas …, apa yang harus aku lakukan ke dia?”
“Apa maksudmu?”
Kening Kelana terlipat halus, dia kurang bisa mencerna pertanyaan Hana. Sedangkan saat matanya menatap ke arah sang istri, wanita itu hanya menggeleng. Sejujurnya Hana merasakan sebuah dilema. Di satu sisi, dia ingin berhenti membalaskan dendamnya ke Bagas dan Bunga. Hana ingin mencoba hidup normal, apa lagi dia sudah menemukan Kelana - sosok pria sempurna yang menikmati belaian di dadanya ini, tapi di sisi lain ada kebencian dan luka di hati Hana yang tidak mau musnah, sebelum dia bisa mencapai tujuannya. Alam bawah sadar Hana seolah menentang, menolak untuk berhenti melupakan balas dendam.
“Aku berkata ke Bagas bahwa hanya ingin menguras hartamu,” ucap Hana.
__ADS_1
Meski awalnya sedikit ragu, dia merasa Kelana lebih baik tahu dari pada nanti Bagas yang memberitahu dan malah membuat Kelana mencurigainya. Hana tidak ingin berselisih paham dengan sang suami karena mantan suami kampretnya itu.
“Aku bisa membalaskan dendammu ke Bagas. Bagaimana kalau aku memecatnya dan memasukkan dia ke dalam daftar hitam agar tidak ada satu perusahaan pun yang akan menerimanya sebagai karyawan,” ujar Kelana. “Bukankah itu cukup membuatnya hancur?” imbuhnya.
"Atau aku buat celaka saja dia?" Kelana bertanya seolah mencelakai orang adalah hal yang mudah untuk dia lakukan.
“Aju tidak ingin kamu ikut menanggung dosa,” lirih Hana. “Aku membenci Bagas dan Bunga, jika mencelakai orang tidak ada hukumnya, aku pasti akan membuat mereka celaka sejak awal. Kamu tahu? dia dulu mengataiku badak dan jelek.”
“Apa?” Kelana menjauhkan badan dan bertanya dengan nada suara tinggi. “Dia mengataimu badak? Dasar pria itu, apa matanya buta?”
Hana tertawa melihat reaksi Kelana yang tidak dia sangka. Hana pun menarik tubuh suaminya itu agar bisa kembali mengusap dada.
“Dia pasti sudah tidak waras,” kata Kelana. Kini dia bahkan memilih untuk memeluk Hana dan mengusap kepala bagian belakang wanita itu.
“Tapi menurutku tidak semestinya menilai orang dari penampilan bukankah kenyataannya penampilan bisa dirubah?” tanya Kelana. “Maksudku jika dibandingkan dengan kepribadian.”
“Apa kamu pikir kepribadianku baik? Bu Dinar saja sampai mendaftarkanku ke kelas kepribadian karena menilai aku kurang baik.” Hana tertawa. Namun, ada nada sindirian di dalam kalimat yang baru saja dia katakan.
“Sudahlah! jika dipikir lagi kalau kamu dulu tidak gendut dan Bagas tidak menceraikanmu, kita tidak akan mungkin bisa bertemu dan menjalin hubungan seperti ini,” Kelana menjauhkan pelukan, dia ingin melihat wajah Hana dan respon wanita itu atas ucapannya barusan.
“Iya, semua ada hikmahnya.” Hana tersenyum manis, membuat Kelana terpesona.
Pria itu tidak bisa mengendalikan gelenyar di dada yang sudah dia tahan sejak tadi. Kelana pun menyambar bibir Hana dan menciumnya lembut, sebelum melumaat bagian atas dan bawahnya secara bergantian.
__ADS_1
***
“Kamu tidak boleh bekerja!”
Hana bingung dengan ucapan Dinar. Wanita yang melahirkan Kelana itu tiba-tiba saja datang ke kamar di saat putranya masih berada di kamar mandi. Meski begitu sayup-sayup Kelana mendengar perbincangan antara Dinar dan Hana. Ia bahkan sengaja mematikan kran air agar bisa mendengar lebih jelas. Persis seperti emak-emak komplek yang kepo dengan apa yang dibicarakan tetangganya.
“Tapi Bu …”
“Jangan panggil aku Ibu, panggil aku Mama!” ucap Dinar sedikit galak.
“Tapi Ma, apa yang harus aku lakukan kalau tidak bekerja?” Hana bingung, dia berharap Kelana cepat keluar dari dalam kamar mandi dan membantunya membujuk Dinar. Namun, pria itu malah sengaja memperlama diri agar bisa terus menguping pembicaraan.
“Ikut Mama bertemu dengan teman-teman Mama, mereka ingin melihat bagaimana sosokmu.”
“Teman-teman Mama? bukankah mereka sudah Mama undang ke acara resepsi pernikahan kami kemarin? Mereka pasti sudah melihat jelas sosokku,” kata Hana mencoba menolak dengan halus dan sopan.
“Kamu itu polos atau bodoh sih? jelas itu hanya kata kiasan. Mereka ingin tahu apakah menantuku berkelas atau tidak. Jadi bersiaplah! Jangan membuat aku malu di depan teman-temanku, atau kamu akan menerima akibatnya,” ancam Dinar.
“A-a-akibat apa Ma?”
"Mama akan carikan Kelana istri muda."
Kelana yang berada di dalam kamar mandi pun kaget. "Hish ... apa yang nenek sihir itu katakan?"
__ADS_1