
Berencana bekerja di rumah Dinar, nyatanya Kelana harus dibuat ikut pusing karena sang mama terus saja menanyakan pendapatnya tentang acara yang beberapa jam lagi akan mereka adakan. Sebenarnya, ada udang di balik bakwan, selain ingin membuat menantunya menikmati hidangan ikan tambak, Dinar juga berniat membuat sang adik kesal, dia tidak ingin kalah dari Tata.
Kepalang tanggung, Kelana akhirnya memilih untuk ikut menyiapkan acara itu. Ia ingin Hana mendapatkan apa yang diinginkan. Ya, tambak-food seperti kata wanita itu, meski jauh berbeda dengan tambak yang asli, tapi Kelana harap Hana senang dan menghargai usahanya dan Dinar.
Sore pun menjelang, Kelana berpamitan dulu ke sang mama untuk menjemput Hana. Setengah jam yang lalu Dinar sudah mengirim pesan ke semua orang untuk hadir ke pesta kecil-kecilan yang sudah dia persiapkan. Wanita itu bahkan memberikan dress code untuk acara itu - soft blue.
***
Hana heran, setelah pulang Kelana langsung menuju kamar. Pria itu mengecek deretan kemejanya yang tergantung di lamari dan tersenyum lebar. Tak hanya itu, Kelana berpindah ke lemari milik Hana dan mencari baju sang istri yang bernuansa soft blue, beruntung Hana mempunyai rok selutut dengan warna biru meski ada aksen bunga sakura kecil di beberapa bagian.
“Mau apa?” tanya Hana yang bingung karena Kelana meletakkan kemeja dan rok miliknya ke ranjang secara bersisian.
“Kita akan pergi ke suatu tempat,” jawab Kelana. Ia kecup dalam-dalam kening Hana yang hanya bisa mengedip karena masih belum menemukan kejelasan atas sikap sang suami yang tiba-tiba aneh sepulang kerja.
“Sayang, apa kamu ada acara? Atau kita mau bertemu dengan kolega?” Hana sentuh baju yang ada di atas ranjang. Ia bahkan lupa sudah berapa kali memakai rok itu karena memang sudah dimilikinya sejak lama.
__ADS_1
“Tidak, aku hanya akan mengajakmu ke suatu tempat,” balas Kelana dengan cara berteriak dari dalam kamar mandi.
Hana pun mengangguk, dia sadar ke suatu tempat yang disebutkan suaminya bisa memiliki banyak kemungkinan. Bisa jadi rumah Dinar atau nenek Ayu, bisa juga sebuah restoran mewah, hotel atau balai pertemuan. Untuk itu Hana bergegas menuju depan meja rias, dia memolos make up tipis agar terlihat segar natural.
_
_
Setelah semuanya siap mereka pun berangkat, Kelana masih tidak mau memberitahu Hana mereka akan datang ke mana. Hingga mobil yang dikendarai suaminya masuk hampir bersamaan dengan sebuah van mewah ke sebuah tempat yang Hana pikir sedikit tak lazim.
Kelana mematikan mesin mobil, dan baru memberitahu Hana bahwa dia dibantu Dinar membuat sebuah pesta di tempat itu agar Hana bisa makan hidangan ala tambak-food yang diidamkan.
“Hei …. Kamu pikir aku Bandung Bondowoso? No .. no, kami beda era, dan aku rasa aku lebih hebat darinya.” Sombong Kelana. “Aku hanya menggesek kartu dan membuat sesuatu yang aku inginkan menjadi milikku."
“Astaga! jangan bilang kamu membeli tambak untukku karena aku mau makan ikan?” mulut Hana menganga lebar, dia semakin syok karena suaminya hanya mersepon dengan senyuman.
__ADS_1
Mereka turun dari mobil, Hana semakin terperanga mendapati papanya juga berada di sana. Ia pikir hanya dirinya, Dinar dan Kelana saja yang akan makan berdua, nyatanya Tata, anak dan menantunya juga ikut hadir. Arman bahkan terlihat mengobrol dengan Ayu di depan seorang chef yang sedang membakar ikan.
“Apa ini acara kumpul keluarga?” Hana tak percaya, bahkan dia semakin terpana dengan kelap-kelip lampu di sana. Suasananya memang meriah bak pesta. “Apa kamu menyiapkannya sendiri, apa tambak buatan ini kamu yang menyulapnya?”
“Tentu saja tidak, aku dibantu Mama dan dia dibantu orang yang aku bayar.” Kelana menjawab sambil menunjuk Dinar dengan pandangan mata, ibundanya itu nampak sedang mengobrol dengan Tata.
“Hei … apa kamu buta warna? Aku sudah bilang dress code-nya soft bule Tata,” sembur Dinar.
“Memang aku salah? bajuku ini ‘kan berwarna soft blue.”
“Coba kamu buka gulugulu, bajumu itu bukan soft blue tapi biru telur asin!”
_
_
__ADS_1
_
Bersambung dulu 🙈