Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 250 : Pindahan Rumah


__ADS_3

Acara pindahan rumah Hana dan Kelana terselenggara sore itu, mereka hanya mengundang orang terdekat dan tetangga satu komplek. Acara bertajuk syukuran atas kehamilan Hana dan menempati rumah baru itu terasa sangat hangat. Senyuman tak sedikit pun pudar dari bibir Hana. Sore itu, dia sangat cantik menggunakan dress A line berwarna cokelat muda yang senada dengan Kelana.


Rafli - Rita datang, Tata dan Ayu, tak ketinggalan Arman juga Dinar. Mereka semua berada di satu meja. Nampak jelas Rafli sejak tadi berusaha mendekati Kelana, tapi sepupunya itu terlalu sibuk berbincang dengan bapak-bapak penghuni komplek Kamboja.


“Siapa yang tidak mengenal Skala Prawira? Mikurame produksi pabrik Anda sudah menjadi mi nomor satu di negeri ini,” puji Kelana, seperti biasa begitulah para pebisnis jika berbincang satu sama lain. Kelana yang paling muda merasa kurang pengalaman.


“Jangan terlalu memuji, banyak pengusaha muda-muda sepertimu yang sangat kompeten. Aku sudah tua.” Skala menepuk pundak Kelana dan suami Hana itu tersenyum malu mendapat pujian seperti itu.


“Sini Kel, berikan nomor HPmu! kita masukkan kamu ke grup chat bapak-bapak. Meski perumahan ini elit, tapi kami juga suka ngeronda, berdiskusi tentang saham dan banyak hal lainnya - yang kami yakini akan bermanfaat untuk kesejahteraan rumah tangga,” tutur Pak Roma. Ia mengeluarkan ponsel dari kantong celana. Kelana sampai melotot melihat merek ponsel yang dikenakan pria yang sudah tak lagi muda itu. Hi-Phone keluaran terbaru dengan logo tomat yang sudah digigit seperempat.


***

__ADS_1


“Kelana dan Hana sepertinya sudah sangat diterima di lingkungannya. Aku senang dan lega,” ujar Ayu. Pria itu berucap sambil mencondongkan badan ke arah Arman.


“Iya, semoga mereka betah tinggal di sini. Memiliki banyak anak dan sehat selalu,” sambung Arman lalu tersenyum.


Sementara itu, Dinar dan Tata sibuk berdiskusi mencari printilan bayi di sebuah market place. Mereka mulai dekat selayaknya adik-kakak, meski tetap saja masih ada hal-hal kecil yang memicu perdebatan. Seperti saat keduanya melihat sepatu bayi lucu dan hanya tinggal satu di aplikasi belanja online itu.


“Heh … sudah ini aku yang akan membelinya,” ucap Dinar.


“Enak saja, aku yang memencet dan menemukannya tadi,” jawab Tata tak mau kalah.


“Lha kamu sendiri, kamu yakin kalau anak Kelana dan Hana laki-laki? Lagi pula ini ponselku, enak saja! aku mau bayar sepatu ini."

__ADS_1


Tata sengaja menggeser posisi untuk memunggungi Dinar, dia menunjukkan sepatu itu ke Ayu dan tersenyum jemawa, tapi Dinar tak tinggal diam, wanita itu merampas ponselnya dan mengganti alamat pengiriman dengan alamat rumahnya sendiri.


“Dinar! Kamu ya!” Tata kesal, hingga kakaknya itu mematung kebingungan karena tiba-tiba saja sepatu bayi itu tidak bisa dibeli karena sudah ada label solodot alias sold out. “Ah … siapa yang sudah mendahuluiku membeli sepatu ini,” amuknya.


Ayu pun melirik Arman, dia menunjukkan ponsel di bawah meja ke pria itu dan tersenyum sombong. “Beginilah jadi ibu dari dua anak yang sudah tua tapi masih seperti bayi, pak Arman.”


“Sepertinya bukan pertama kali Anda melakukan hal sejenis,” timpal Arman. “Berapa banyak Anda mengeluarkan uang untuk membeli barang yang menjadi rebutan putri Anda?” tanya pria itu.


“Tak bisa dihitung, tapi kalau barang super konyol yang aku beli supaya mereka tidak berebut dan bertengkar aku ingat betul apa itu,” kata Ayu.


“Apa boleh tahu, Bu?”

__ADS_1


“Terpedo buaya,” jawab Ayu lantas geleng-geleng.


 


__ADS_2