
“Tapi menurut Mama, kenapa nenek Ayu memberikan nomor kontak suamiku ke Amanda? Apa jangan-jangan sebenarnya nenek tidak menyukaiku?”
Sekeras apa pun Hana berpikir, dia tidak menemukan alasan yang tepat kenapa Ayu melakukan ini. Masih terngiang di pikirannya dulu saat pertama kali Kelana mengajaknya datang dan bertamu di rumah Ayu, dia mendengar dengan jelas Ayu berucap sengaja menjadikan Amanda dokter pribadi karena berpikir Kelana masih menyukai wanita itu.
“Entah, apa yang ada di dalam pikirannya. Sebagai anak aku saja kadang tidak tahu, bagaimana kalau kita tanyakan sendiri padanya? Kamu sekarang pengangguran ‘kan? ayo kita pergi ke rumahnya, kamu membawakannya oleh-oleh juga ‘kan?” Dinar sudah berdiri dari kursi dan menepuk bagian depan bajunya yang sedikit kotor terkena remahan bakpia yang dibawakan sang menantu.
“Tunggu aku ganti baju dulu! aku tidak mau kelihatan berantakan, siapa tahu Tata ada di sana.”
Hana mengangguk, dia sandarkan punggung ke kursi setelah Dinar berlalu dari pandangannya, agak takut juga dia kalau sampai Ayu tiba-tiba saja ingin Kelana punya dua istri.
“Astaga Hana! Buang jauh pikiran burukmu itu, cukup diceraikan karena gendut jangan sampai kamu harus berbagi burung.”
Hana mengerjab, pundaknya mengedik. Ia ngeri sendiri mimikirkan apa yang ada di otaknya tadi. Hana takut Kelananya akan diminta Ayu menikahi Amanda.
_
_
Sementara itu, seorang wanita dengan celana kerja dan kemeja putih bermotif bunga berjalan memasuki lobi perusahaan Kelana. Ia membetulkan tali tas yang ada di bahunya sebelum berhenti tepat di depan meja resepsionis. Wanita itu tak lain adalah Amanda, dia tersenyum dan menyapa ramah. Resepsionis kantor Kelana pun kaget karena tahu dengan jelas siapa wanita yang ada di hadapannya ini.
__ADS_1
“Aku ingin bertemu Kelana.”
Nekat, satu kata yang tepat ditujukan ke Amanda. Wanita itu sepertinya sudah kehilangan akal sehat sehingga memberanikan diri datang untuk menemui Kelana di sana.
“Tapi, apa Anda sudah membuat janji?” tanya si resepsionis dengan kening terlipat halus. Ia tahu bahwa Amanda hanya mantan dan jelas atasannya sudah memiliki istri.
“Belum, bukankah seharusnya aturannya masih sama? dia bisa menemui satu orang setiap harinya yang datang tanpa membuat janji?” Amanda tersenyum manis, dia penuh harap keinginannya bisa terpenuhi.
“Saya tidak yakin, saya akan bertanya dulu ke sekretarisnya,” ucap resepsionis itu, dia langsung melakukan panggilan ke meja sekretaris Kelana, tapi sayang tidak ada jawaban. Merasa tidak enak hati karena tahu siapa Amanda, resepsionis itu pun meminta wanita itu menunggu sedangkan dia naik ke lantai di mana ruangan Kelana berada.
_
_
“Sibuk dengan panggilan alam, memangnya kenapa?” Mata Bunga menyipit, curiga juga dia ada apa resepsionis sampai mencarinya ke sini.
“Di bawah ada Mba Amanda.”
“Siapa? rekan bisnis? Atau pemilik perusahaan mana?” tanya Bunga dengan nada yang tidak menunjukkan sopan santun sama sekali, padahal mereka sama-sama pekerja di sana, tapi mungkin Bunga beranggapan derajatnya lebih tinggi karena posisinya adalah sekretaris pemilik perusahaan.
__ADS_1
“Bukan, dia mantan Pak Kelana.”
“Astaga! coba ulangi lagi.” Bunga menyematkan rambutnya ke belakang telinga, dia memastikan bahwa apa yang dia dengar tidak salah sama sekali.
“Dia mantan Pak Kelana,” ulang si resepsionis itu.
“Heh … kenapa tidak kamu usir saja, untuk apa dia datang ke sini. Kalau sampai Pak Kelana tahu, habis kamu! dia itu tidak mungkin sudi bertemu dengan mantannya karena dia sudah bucin ke istrinya,” cerocos Bunga. “Sudah! usir saja! bilang Pak Kelana tidak ada di tempat, dia sibuk. Tidak menerima tamu tak diundang.”
Resepsionis itu pun manggut-manggut, dia menggaruk tengkuk sebelum berpamitan ke Bunga. Namun, baru saja tangannya menekan tombol lift untuk turun ke lantai bawah, Bunga memanggilnya kembali.
“Gimana Mba?”
_
_
_
Scroll ke bawah 👇
__ADS_1