
Malam harinya setelah pulang kerja dan membersihkan diri, Kelana dan Hana pun pergi ke rumah Arman. Mereka sengaja membawa banyak makanan untuk disantap bersama. Saat mobil Kelana masuk ke halaman, Hana tiba-tiba saja berdecak, wanita itu langsung bersedekap dada melihat mobil siapa yang terparkir di sana.
“Ada Bunga,” ucap Hana.
“Kenapa? ada masalah?” tanya Kelana, dia melepas sabuk pengaman dan menolehkan badan ke arah Hana. Pria itu bahkan mentowel pipi Hana yang menggelembung karena cemberut.
“Aku takut dia tebar pesona padamu.”
Kelana tersenyum senang, ada perasaan aneh di dada. “Seperti ini ya rasanya dicemburui,” gumam pria itu di dalam hati.
Dengan sedikit malas, Hana tetap keluar dari dalam mobil. Ia membantu Kelana membawa makanan, sedangkan pria itu menenteng sebuah tas kecil yang berisi baju ganti mereka.
“Sudah jangan berpikiran macam-macam, ingat tujuan kita ke sini untuk papa, bukan untuk ibu dan adik tirimu,” ujar Kelana mencoba untuk membuat suasana hati Hana sedikit lebih baik.
Mereka pun disambut dengan senyuman lebar dari Arman. Bahkan Tantri langsung menyambar makanan yang dibawa sang anak tiri, bibirnya yang setajam silet itu bahkan menyindir putrinya sendiri.
“Begini donk kalau ke sini bawa makanan, jangan hanya tangan kosong.”
Bunga mencelos hatinya, secepat kilat dia menjauh. Bukan karena marah atau terluka harga diri, tapi dia menelepon sang suami untuk menyusul dan membawakan makanan juga.
“Kenapa? aku capek Bunga.”
“Di sini ada Hana, dia akan menginap di rumah papa bersama suaminya.”
__ADS_1
Mendengar penjelasan sang istri, Bagas yang sedang rebahan malas-malasan di atas ranjang seketika bangkit. Pria itu bahkan bertanya apa mungkin Bunga juga ingin menginap di sana, dia akan membawakan baju ganti untuknya.
“Ya, kedengarannya bagus, agar kita terlihat baik juga di mata papa,” jawab Bunga mengiyakan ide sang suami.
Bagas pun bergeges. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan emas yang mungkin saja bisa membuat Kelana salah paham dan bertengkar dengan Hana.
_
_
_
“Aku dengar Papa sakit, apa sudah berobat?” tanya Hana saat mereka mengobrol di ruang keluarga. Karena Bunga berkata Bagas akan datang, maka mereka menunda makan malam agar bisa makan bersama.
“Papa tidak boleh bicara seperti itu,” sambar Kelana, pembawaannya yang berwibawa dan santun membuat Bunga beberapa kali menelan saliva, Hana yang melihat mata adik tirinya mulai mencuri-curi pandang pun langsung melingkarkan tangan ke lengan sang suami.
“Cih … dulu kamu merebut suamiku, sekarang tidak akan aku biarkan lagi,” gumam Hana di dalam hati.
“Jika masih bisa diusahakan untuk sembuh, maka Papa harus berobat. Aku akan membiayai pengobatan Papa, jika Papa ingin berobat ke luar negeri pun tak masalah, asal Papa sembuh. Papa satu-satunya keluarga yang Hana miliki jadi Papa harus melihat Hana sampai punya anak.”
Kalimat Kelana itu membuat Tantri dan Bunga saling pandang, mereka merasa janggal dengan kata ‘satu-satunya keluarga yang dimiliki’. Tantri ingin melayangkan protes tapi Bunga mengedip memberi tanda agar wanita itu diam saja.
“Terima kasih Kelana, tapi Papa tidak ingin merepotkanmu dan Hana, Papa masih punya uang untuk berobat,” jawab Arman.
__ADS_1
“Pa, jangan begitu! Punya uang apa? tabungan kita sudah menipis lho,” sambar Tantri. Dan seketika itu raut wajah Arman pun berubah, dia jelas tak enak hati.
“Kalau kamu ingin membiayai pengobatan ya diterima-terima saja, lagi pula kamu memang menantu dan anaknya, sudah sewajarnya jika orangtua sakit dan tidak punya ya harus dibantu,” imbuh Tantri dengan mimik muka yang menurut Hana sangat menyebalkan.
“Kalau bisa diberi jatah tiap bulan juga mau.”
Bunga membuang napas kasar dan memalingkan muka, dia benar-benar malu. Tak percaya bahwa sang mama sangat tak punya harga diri.
Mereka masih berbincang di ruang keluarga, hingga suara sapaan terdengar diiringi langkah kaki Bagas yang masuk ke dalam.
“Eh … Mas Bagas, mas bawa apa?” tanya Bunga sok berpura-pura, padahal dia sudah meminta suaminya itu membawa sesuatu tadi agar tidak kalah dari Hana.
Namun, Bagas sepertinya lupa, dia tidak membawa apa-apa. Sontak saja mata Bunga mendelik dengan bibir komat-kamit.
"Kamu lupa atau sengaja, Ha? memalukan sekali.”
_
_
_
bersambung
__ADS_1