Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 217 : Pemadam Kebakaran


__ADS_3

Dinar menggila, dia menggunakan kekuasaannya untuk menghajar sang adik. Pembantu yang ikut dengannya pun sampai mengaga, bagaimana tidak? majikannya itu membawa satu unit truk pemadam kebakaran ke rumah putra Tata. Petugas pemadam kebakaran yang bingung pun tak berkutik, dia hanya diperintah sang atasan untuk mengikuti Dinar yang notabene adalah sahabat baik sang komandan.


Apa akibat dari langkah yang dia ambil akan Dinar pikirkan kemudian, yang penting dia bisa membuat Tata kelabakan malam itu.


“Ah …. Yang kenceng donk Pak, maksimal,” oceh Dinar. Dia rampas selang dari petugas dan menyemprotkannya ke lantai teras bahkan kaca jendela kamar di lantai dua menjadi incarannya.


“Kamu pikir akan segila apa aku kalau diusik, Ha?” gumamnya.


Dinar berjalan mendekat, meski badannya limbung ke kiri dan kanan karena tekanan air, dia tak peduli. Sedangkan petugas pemadam hanya bisa menyaksikan, begitu juga dengan pembantunya yang ketakutan melihat pot-pot tumbang bahkan dahan bunga-bunga juga ikut menjadi korban. Satpam Rafli juga tak bisa melakukan apa-apa, Dinar sudah menyemprotnya lebih dulu dengan mulut berbisa.


“Keluar kamu Tata! Kamu pikir berurusan dengan siapa?” teriak Dinar. Kini dia semprotkan air dari tengki ke pintu rumah Rafli, dia bahkan berteriak ke petugas untuk membuat tekanannya semakin besar. Wanita itu berniat menjebol pintu rumah anak adiknya.


“Mama, lakukan sesuatu!” Rafli panik, tidak ada kebakaran tapi satu unit truk pemadam berada di depan rumahnya. Ia menggaruk kepala setelah memutuskan menghubungi Kelana. Ia meminta sepupunya datang untu membujuk Dinar agar berhenti melakukan aksinya itu.


“Bagaimana caranya Rafli? Yang ada Mama nanti kejengkang disemprot sama dia.” Tata berjalan mondar-mandir bingung. “Dia pasti sudah tahu aku biang keroknya.”

__ADS_1


“Woi … keluar!” Dinar berteriak emosi.


“Pintu rumahku bisa rubuh, Ma!” Rafli menjambak kedua sisi rambut. Ia syok melihat air sudah masuk dan meluber kemana-mana. “Bik … ambil pel atau apa, tahan air itu!” titahnya ke sang pembantu.


Dua pembantu yang Rafli miliki pun bergerak cepat mengepel lantai lalu memeras air, mengepel lagi dan memeras air lagi ke dalam ember. Mereka mengerjakan pekerjaan yang tak berguna sama sekali. Benar-benar membuang waktu dan tenaga.


“Keluar! Jangan jadi pengecut!” teriak Dinar. Ia tak sadar dengan apa dia ucapkan. Bagaimana tak menjadi pengecut? jika dia terus menggempur dengan semprotan air.


“Oh … lihat saja apa yang akan aku lakukan.” Dinar mundur ke belakang, dia menyasar ventilasi udara yang ada di atas pintu rumah, tak ayal pembantu yang sibuk mengepel terkena guyuran air bak sedang bermain di waterboom. Mereka berlari dan berteriak dengan baju yang basah.


Beberapa menit kemudian, Kelana dan Hana pun sampai. Keduanya turun dari mobil tanpa memerdulikan keberadaan tetangga Rafli. Kelana berlari sedangkan Hana hanya bisa berjalan cepat karena takut terjatuh. Ia syok melihat Dinar yang masih saja menyemprotkan air ke teras rumah sang keponakan. Mata Hana tertuju pada petugas pemadam yang ketakutan, dia pun mendekat bersamaan dengan Kelana yang sudah berdiri tak jauh dari mertuanya.


“Mama! Apa yang Mama lakukan?” tanya Kelana.


Dinar menoleh dan kaget, tapi siapa sangka? bukannya mencegah sang mama menghentikan aksinya, Kelana malah meraih selang dari tangan Dinar lalu menyeringai.

__ADS_1


“Biar aku bantu Ma!”


"Sayang!" pekik Hana melihat kelakuan Kelana.


 


_


_


_


bersambung dulu


next nanti malam

__ADS_1


__ADS_2