Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 105 : Infeksi


__ADS_3

“Bertempur dengan semestinya.”


Seringai Kelana cukup menjelaskan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pria itu menangkup pipi Hana dan kembali melumaat bibir wanita itu penuh gairah. Tangannya bergerak perlahan membuka satu persatu kancing kemeja Hana. Ia meloloskan kemeja istrinya itu dan langsung meraih kait bra yang membungkus dua bukit Hana.


Dua orang itu masih sibuk berada di ruang kerja dengan bibir yang menyatu itu sampai tak sadar ada orang yang naik ke lantai, di mana ruangan itu berada. Bagas clingukan, dia mendapati meja kerja Hana kosong dan perlahan mendekat. Pria itu berjongkok dan meraba bagian bawah meja. Bagas kaget, dia bahkan sampai melongokkan kepalanya untuk memastikan bahwa kamera yang dia pasang sudah tidak ada di sana.


Pria itu bingung, kini dia mulai takut dan bertanya-tanya siapa gerangan yang menemukan benda yang diam-diam dia sembunyikan di sana, Dengan kepala yang masih berada di bawah meja, Bagas samar mendengar suara ******* yang sangat erotis. Ia pun bergegas berdiri, nahas kepalanya terbentur meja kerja Hana. Beruntung dua insan yang tengah memadu kasih di dalam ruangan tidak mendengarnya. Mereka masih asyik saling mencumbu dan meraba.


_


_


“Katakan padaku! kenapa kamu pulang terlambat semalam?” tanya Hana di sela sentuhan Kelana yang membuatnya terbuai. Pria itu menggigit puncak bukitnya dan membuatnya menggelinjang.

__ADS_1


“Aku bertemu dengan temanku yang seorang ahli IT, aku sedang memintanya memeriksa kamera yang diletakkan orang gila di bawah meja kerjamu.” Kelana mencumbu leher Hana. Wanita itu lagi-lagi menggeliat bak cacing kepanasan.


“Aku keasyikan mengobrol jadi lupa waktu.”


“Di-di-dia, dia bukan wanita ‘kan?” tanya Hana terbata-bata, tapi pertanyaannya kali ini membuat Kelana menghentikan aksi, hingga Hana pun menatap heran sambil memegang kedua sisi pundaknya.


Hana yang terkurung di bawah tubuh kekar Kelana di sofa hanya bisa menggerakkan bola mata ke kanan dan ke kiri, untuk memindai wajah pria itu.


“Kenapa?” tanya Hana.


“Apa tidak boleh aku khawatir? Tidak bolehkah aku berpikir buruk tentangmu yang mungkin akan tergoda wanita lain?”


“Hunny … itu sudah sangat jelas, aku milikmu. Aku tidak akan menoleh ke wanita lain meski dia telanjang sekalipun.”

__ADS_1


Hana tersenyum lebar, dia tarik tengkuk Kelana dan mencium bibir pria itu dengan rakus, hingga kesempatan itu tak Kelana sia-siakan begitu saja. Ia melesatkan rudalnya ke dalam palung milik Hana. Hingga Hana melepas pagutan bibir dan memekik.


Bagas yang masih berada di luar sana pun membelalakkan matanya. “Bukankah Pak Kelana tidak datang bekerja?” gumamanya. Ia bergegas pergi dari sana. Mencoba memastikan sesuatu – mengecek mobil Kelana di parkiran.


Dan nyatanya Bagas harus dibuat syok, dia melihat sedan mewah pemilik perusahaannya itu terparkir di sana. Ia menggelengkan kepala berulang mencoba menepis perasaan aneh yang menghinggapi dada, rasa tak percaya yang menelusup sampai ke pembuluh darah.


“Mereka? mereka bercinta di ruang kerja?” batin Bagas tak percaya.


Ya, Mereka bercinta di ruang kerja. Hana membiarkan Kelana yang tadi pagi demam untuk mendapatkan obatnya. Pria itu tak henti-hentinya menawarkan kenikmatan surga dunia padanya. Hingga senjata berbahaya Kelana bersin-bersin dan membuat palung Hana terinfeksi.


Infeksi yang jelas bukan dalam arti sebenarnya. Seharusnya semua orang sudah tahu apa yang dimaksud, paling jika ampuh akan hanya membuat Hana hamil sembilan bulah sepuluh hari.


_

__ADS_1


_


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2