Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 161 : Kenyataan Ini


__ADS_3

Sementara Kelana masih bersama Bagas, Hana sengaja menunggu di lobi karena jalan menuju private room itu memang melewati lobi. Ia berjaga-jaga jangan sampai Bunga mencari Bagas dan kembali ke ruangan itu. Hana sendiri cemas dengan apa yang terjadi di dalam sana sampai menggigiti kuku jari.


Setelah melihat Alden dan satu temannya keluar, Hana tidak bisa tenang. Ia sempat kembali ke kamar hanya untuk berpura-pura lalu keluar lagi dan menunggu di sana.


 


Merasa aman dan Bunga tak muncul juga, Hana pun memilih untuk mencari tahu apa yang dilakukan sang suami berdua dengan Bagas. Namun, baru saja dia berdiri, dia melihat Bunga keluar dari lift dan berjalan menuju arahnya. Hana grogi tapi sebisa mungkin menyembunyikan perasaan itu.


 


“Kenapa kamu belum tidur?” tanya Bunga saat dia dan Hana berdiri berhadapan.


“Aku tadi ingin pergi ke minimarket, tapi takut dan mau kembali ke kamar,” dusta Hana.


“Cih … dasar pengecut, jika kemarin kamu melihat penampakan seperti yang dilihat Dewi pasti kamu akan langsung pingsan,” ejek Bunga. “Ke minimarket saja tidak berani padahal jalanan ramai.”

__ADS_1


“Kamu salah! aku sama sekali tidak takut pada setan, karena apa? karena kalau aku takut, aku pasti sudah lari saat melihatmu.” Hana rasanya ingin melompat kegirangan setelah membuat Bunga mati kutu.


“Aku lebih takut pada manusia yang bentukannya sepertimu,” imbuh Hana, seolah sindirannya tadi dirasa kurang pedas untuk sang adik tiri.


Karena bermuka tebal dan tak tahu malu, Bunga pun tak menganggap serius sindiran Hana. Wanita itu malah dengan sengaja menyenggol lengan sang kakak tiri lalu berjalan keluar dari hotal. Ia ingin mencari obat sakit kepala karena baru saja ditelepon oleh sang mama.


“Jika sampai mama bercerai, dia pasti akan merepotkanku,” gerutu Bunga. Tantri meneleponnya dan bercerita tentang sesuatu yang sedikit membuat Bunga tak percaya.


Setelah memastikan Bunga menyebrang jalan raya, Hana pun bergegas ke ruangan di mana Kelana dan Bagas berada. Aroma alkohol seketika menghantam indera penciuman Hana,diaa sampai menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangan.


“Sayang!” Hana mendekat ke arah Kelana yang duduk bersandar sambil memandangi Bagas yang terkapar. “Apa yang kamu lakukan?” Hana syok melihat darah mengucur dari hidung mantan suaminya.


Tangan Hana perlahan turun, meski sudah tahu kenyataan ini tapi pengakuan Bagas membuat hatinya sakit. Ia menerima benda itu dari tangan Kelana. Mendapati mata sang suami sayu, Hana tahu bahwa Kelana pasti juga terlalu banyak minum.


“Apa yang akan kita katakan ke orang-orang, kamu benar-benar menghajarnya.” Hana berjongkok, dia memastikan Bagas masih bernapas dengan meletakkan jari telunjuk melintang di depan hidung pria itu.

__ADS_1


“Bilang saja dia mabuk dan menghantam meja.” Kelana berdiri, dia bahkan mengguncang tubuh Bagas dengan kakinya.


“Sayang jangan lakukan itu! kamu memperlakukannya seperti binatang.” Meski benci tapi ada rasa kasihan di hati Hana.


“Mahkluk keji seperti dia tidak pantas dimanusiakan, coba dengarkan rekaman itu dan nilai sendiri sekejam apa dia.” Kelana berjalan keluar. Meninggalkan Hana yang masih memandangi Bagas. Ada perasaan aneh yang menyergap hatinya. Mungkinkah Kelana berpikir dia peduli dengan Bagas?


Hana bangkit, dia berjalan cepat keluar menyusul Kelana, tapi saat berada di lobi langkah kaki wanita itu seketika berhenti. Secepat kilat Hana menyembunyikan recorder yang ada di genggamannya ke kantong celana. Bunga ternyata sudah kembali dari minimarket dan kini berdiri berhadapan dengan Kelana.


“Suamimu mabuk berat, dia jatuh membentur meja, bawa ke rumah sakit jika perlu, atau terserah mau kamu apakan.”


_


_


_

__ADS_1


 


Bab lain coming soon ya 🥰


__ADS_2