Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 113 : Ajakan Liburan


__ADS_3

“Apa yang akan kamu lakukan ke Bagas?”


Hana yang mendapati Kelana kembali dengan melonggarkan dasi seketika disergap rasa takut saat suaminya itu berkata memanggil Bagas ke ruangannya.


“Tenang aja! aku hanya ingin menanyakan sesuatu padanya, aku tidak akan menghajarnya secara membabi buta, tidak untuk sekarang. Tapi di saat waktu itu datang, jangan harap dia bisa lolos dariku.” Kelana duduk dengan mata terarah ke pintu.


Jika tahu apa rencana yang sedang dipikirkan suaminya, Hana jelas akan mencoba membujuk lagi. Namun, dia memutuskan lebih baik menjadi penonton dan membiarkan Kelana melakukan apa yang sedang dipikirkan.


Keduanya masih berada di ruangan dan hanya saling diam saat pintu tiba-tiba saja diketuk dari luar. Bagas masuk dengan raut wajah kebingungan mendapati Kelana dan Hana - yang seperti baru saja berbicara dan terdiam setelah dirinya masuk.


“Hana, kamu bisa keluar!” titah Kelana.


“Ha?” Hana bingung karena Kelana malah mengusirnya. Ia menatap lekat Kelana yang mengangguk dengan matanya.


“Apa mau aku buatkan minum?” tanya wanita itu sopan.


“Boleh!” jawab Bagas.

__ADS_1


“Tidak perlu,” ucap Kelana di saat yang bersamaan.


Atmosfir ruangan itu berubah seperti berada di wahana rumah hantu. Bulu kuduk Hana sampai berdiri. Ia berharap semoga Bagas keluar dalam kondisi utuh. Bukan karena dia tidak ingin mantan suaminya itu kenapa-napa, tapi dia tidak ingin Kelana sampai terlibat kasus kekerasan di tempat kerja. Jika sampai Kelana memukul Bagas, Hana tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagas bisa saja menuntut atau bahkan meminta ganti rugi yang tak masuk akal.


Akhirnya Hana melangkah keluar, dia sengaja berjalan seperti keong agar setidaknya bisa mendengar apa yang akan diucapkan suaminya, tapi tingkahnya ketahuan oleh Kelana. Pria itu pun menghardiknya.


“Hana, keluar lebih cepat!”


“Iya … iya, ya ambruk ketahuan,” gumam Hana. Wanita itu lagi-lagi berulah dengan menutup pintu dengan sangat lambat.


“Hana!”


“Apa ada masalah Pak?” tanya Bagas seperti biasa. Pria licik sepertinya jelas tidak memiliki rasa takut ke siapa pun.


“Bagaimana tes hari ini?”


“Masih berlangsung Pak, sepertinya hanya beberapa yang bisa mengerjakan tes itu. Soal dibuat sedikit sulit oleh tim kami, jadi memang kandidat yang paling pintar lah yang akan lolos ke tahap selanjutnya,” terang Bagas.

__ADS_1


“Hem … baguslah, aku tidak mau mendapat sekretaris bodoh.” Kelana menegakkan badan, dia bahkan sengaja tidak meminta Bagas untuk duduk. “Sepertinya kamu banyak pekerjaan Pak Bagas, jadi aku ingin langsung saja. Aku berencana mengadakan gathering bersama tim HRD. Aku rasa selama ini selalu membuat tim kalian kerepotan, bahkan sepertinya dalam satu tahun kalian harus melakukan prekrutan sekretaris lebih dari dua kali. Pasti sangat melelahkan, ya meskipun untuk itu lah kalian dibayar.”


Bagas tersenyum, dia merasa Kelana sedang memberikan pujian padanya. Ia pun bertingkah sok rendah diri dengan mengatakan bahwa itu sudah menjadi tugasnya.


“Tidak perlu berterima kasih Pak, sudah menjadi tugas kami di bagian HRD,” jawab Bagas dengan senyum yang makin merekah.


“Maka dari itu, aku ingin merepotkan tim kalian lagi, setelah perekrutan sekretarisku selesai. Kita pergi liburan, bagaimana?”


Hana yang diam-diam menempelkan kuping di depan pintu pun mengernyit heran. Apa yang direncanakan suaminya? Kenapa malah mengajak tim si Bagas kampret untuk liburan?


“Sebaiknya aku bertanya atau tidak? takut juga kalau ketahuan menguping pembicaraan mereka,” bisik Hana ke dirinya sendiri.


_


_


_

__ADS_1


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2