Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 71 : Turun Naik


__ADS_3

Kelana menyodorkan leher, dan jelas itu dia lakukan bukan tanpa alasan. Kelana juga ingin Hana memberinya tato merah keunguan seperti tato yang dia ciptakan dengan bibir di leher istrinya itu siang tadi.


Kelana menggigit bibir bawah saat Hana menggigit lehernya, dia bahkan tidak marah sama sekali meski rasanya sedikit nyeri.


“Sudah! lunas,” ucap Hana dengan seringai nakal, dia tangkup pipi Kelana yang masih mengurung tubuh rampingnya.


Bibir pria itu mengerucut dan tanpa basa-basi Hana menyambar dan mencium penuh nafsu. Kelana bahkan hampir saja jatuh menindih tubuh Hana, jika tadi tidak sigap menekuk lengan bawah dan menjadikan tumpuan.


“Sabar Hunny,” goda Kelana. Ia melepaskan pagutan, menegakkan punggung lantas meloloskan kaos yang melekat di tubuh, sebelum kembali menyerobot bibir seksi Hana.


Suara desisan terdengar bersahutan, mereka bahkan saling menarik tubuh satu sama lain. Saat Hana mengambil napas Kelana seolah tak sabar, begitu juga sebaliknya. Saat Kelana melepaskan pagutan Hana akan langsung menarik tengkuk pria itu.


Seprei ranjang nampak berantakan, guling dan bantal berserakan di lantai, tubuh mereka kini tinggal satu penutup akhir sebelum peperangan epik di mulai.


Hana menjambak rambutnya sendiri, dia membuka lebar paha seolah menantang Kelana yang sedang berlutut di bawah sana. Wajahnya memerah seolah semua darah berkumpul di satu titik, dia benar-benar dikuasai nafsu untuk mengobarkan peperangan yang akan membawa kenikmatan.


Perlahan rudal Kelana keluarkan, bersiap untuk diluncurkan untuk mengobrak-abrik palung marihana. Namun, ada yang sedikit berbeda saat menyentuh bibir. Kening pria itu mengernyit, dan Hana menyadari sesuatu.

__ADS_1


“Kenapa?” Mereka secara bersamaan bertanya di dalam hati.


Hana merasa sakit, sedangkan Kelana merasa tak selancar tadi saat melakukan itu dengan Hana di sofa ruangannya.


“Apa ramuan Mak War manjur?” gumam Hana. “Apa benar membuat rapet lagi?”


Kelana kebingungan, dia bahkan seperti tak menemukan jalan. Hingga akhirnya terpaksa menghentak kasar. Hana menjerit begitu juga dengan Kelana yang hanya bisa menganga tak percaya. Palung Hana seperti mengecil hingga rudal dengan diameter yang tak pernah dia ukur itu merasa terhimpit.


“Hunny!”


“I-i-iya,” jawab Hana sedikit bingung.


“Salep 69,” ucap Hana.


Kelana terdiam, keningnya mengernyit dan setelahnya menjawab, “Ah … ramuan mawar.”


Hana menggeleng,”Bukan, Mak War.”

__ADS_1


Setelah saling tanya jawab perihal kenapa rasanya berbeda, mereka pun mulai berlomba menjatuhkan lawan. Hana jelas memiliki jam terbang tinggi, tapi efek ramuan ibu perang itu membuatnya kalang kabut, dia juga merasakan kenikmatan yang rasanya tak pernah dia dapat, tubuhnya menggelinjang dan bahkan tanpa sadar menancapkan kuku jarinya ke punggung Kelana yang bersusah payah menumbuk.


“Oh … shitttt!” Hana mengumpat saat dia mendapat gulungan ombak, tubuhnya lemas tapi Kelana belum juga menemukan titik akhir. Pria itu terus bekerja keras sampai Hana memintanya cepat karena kakinya mulai kesemutan.


_


_


_


Hana terkapar, dia tarik selimut sampai menutupi dua buah gundukannya yang sintal. Napasnya memburu, begitu juga dengan Kelana yang terbaring di sebelahnya dengan dada yang turun naik turun naik. Pria itu tertawa bangga, dia mengepalkan sebelah tangan lalu mengangkatnya tinggi.


“Aku hebat ‘kan? aku pemenangnya,” ucap anak tunggal Dinar itu jemawa.


Hana yang sudah tak memiliki tenaga pun hanya bisa mengangguk lemah, dia pasrah dan mencoba mengingat-ingat apa yang disantap suaminya itu sebelum perang tadi.


“Bukankah kamu hanya minum susu pengganti makan malam? Kenapa kamu bisa sekuat itu?”

__ADS_1


Kelana tersenyum, dia menaikturunkan alis mata menanggapi pertanyaan Hana. “Itu susu bukan sembarang susu Hunny, itu susu merek X-men.”


__ADS_2