Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 83 : Nakal


__ADS_3

“Hunny kemarilah!”


Kelana yang sudah berada di atas ranjang seperti tak sabar menunggu Hana yang sedang melakukan perawatan wajah. Wanita itu sedang memakai skincare tujuh lapis, tak ayal Kelana bingung kenapa sang istri tidak selesai-selesai sejak tadi.


“Sebentar, aku harus memastikan serumnya meresap sampai ke pori-pori.” Hana masih sibuk, dia mematut diri di depan cermin sambil menepuk-nepuk pipi. “Istri seorang Kelana Pramudya harus selalu tampil cantik, aku tidak ingin membuatmu malu.”


“Kamu sudah cantik.”


Pujian Kelana terang saja membuat Hana tersenyum sendiri, dia tersanjung tapi tidak sampai tinggi hati. Akhirnya wanita itu berdiri dan mendekat. Ia kencangkan tali piyamanya dan sukses membuat Kelana berdecak sebal.


“Sudah tidak usah diikat nanti juga kebuka lagi,” godanya.


“Apa kamu tidak lelah, ayo tidur!” Hana naik ke atas ranjang dan menarik selimut, tapi Kelana menyibakkannya lagi bahkan menendangnya agak jauh. Pria itu merengkuh tubuhnya dan memeluk erat.


“Em … pahit,” keluhnya setelah mencium pipi Hana.


“Astaga skincare-ku, jangan mencium seperti itu.” Hana cemberut, alih-alih mengusap bibir Kelana, dia malah mengusap pipinya sendiri.


“Untuk apa sih cantik-cantik, kamu cukup cantik di mataku.” Kelana memeluk lagi, tentu saja tidak hanya sekadar memeluk, tangannya sudah bergrilya dengan menyentuh bagian dada Hana yang memang dia tahu tidak suka mengenakan bra saat tidur.

__ADS_1


“Kelana geli,” keluh Hana, tapi pada dasarnya dia menikmati juga.


“Aku tidak bisa tidur jika tidak menyentuh ini.” Kelana menekuk bibir menahan tawa. Jika Hana tidak bisa tidur jika tidak mengusap-usap dada, dia pun ingin hal yang sama.


“Sejak kapan?” Hana tak langsung percaya begitu saja.


“Sejak menikah denganmu,” jawab Kelana sambil terus mengusap dan sesekali memelintir ujung bukit kenyal milik Hana.


“Ah … hentikan.” Hana menyingkirkan tangan sang suami, tapi tingkat kenakalan pria itu sudah tak bisa terbendung lagi. Hana tahu apa yang selanjutnya akan terjadi, karena di bawah sana permukaan kulitnya merasakan sesuatu yang sudah tegak berdiri. “Kelana, kita libur dulu ya!”


“Ini bukan hari minggu, untuk apa libur?” jawab putra Dinar itu seenak hati,


“Pabrikku bukan pabrik biasa, jadi jangan samakan dengan pabrik milik pria lain. Pabrikku bisa menghasilkan high quality cebong.”


Hana terkekeh geli, dia tegakkan kepala dan menyangganya dengan tangan. Bibirnya tersenyum sambil terus memandangi wajah sang belahan jiwa.


“Kenapa memandangiku seperti itu? aku tampan ya? aku sudah tahu,” ucap Kelana. Ia pun ikut menegakkan kepala dan menyanggahnya seperti sang istri.


“Jujur saja padaku! kamu pasti sudah menyukaiku sejak pertama bertemu.” Hana menggoda, dia menaik turunkan alis mata hingga suaminya tertawa geli.

__ADS_1


“Apa aku harus jujur?”


“Harus lah!”


Hana sangat ingin tahu bagaimana Kelana selama ini memandangnya, dia pun terkejut saat suaminya itu jujur bahwa sejak pertama masuk kerja dadanya sudah membuat iman Kelana tergoda.


“Astaga! ternyata kamu diam-diam mesum juga, Wah … aku tidak bisa berkata-kata,” ujar Hana.


“Aku jujur, jadi kamu tidak boleh marah. Aku pria normal Hana dan siapa pria yang tidak suka melihat pemandangan bukit nan indah dengan tingkat lengkungan yang sempurna.”


Kelana dengan sengaja menarik tangan Hana yang menumpu kepala hingga wanita itu melotot karena kaget. Secepat kilat Kelana mengurung tubuh Hana di bawah lengan kekarnya.


“Dan sayang sekali jika malam ini kita tidak melakukannya.” Kelana tersenyum mesum dan mau tak mau Hana pun ikut memulas senyum.


_


_


_

__ADS_1


Scroll ke bawah👇


__ADS_2