
Karena ucapan Hana, Kelana menjadi panas dingin. Sekretarisnya itu tidak mau menjabarkan dengan jelas size apa yang dimaksud, hingga otaknya kini sama persis seperti namanya- berkelana membayangkan hal yang tidak-tidak.
Kelana menunjuk hidung Hana lantas meja kerja wanita itu,” Duduk dan jangan berkeliaran lagi tanpa izin dariku! Ada beberapa berkas yang harus kamu perbaiki,” ucapnya dengan nada marah. Pria itu berdehem sebelum masuk ke ruangannya.
Hana hanya bisa menggerutu, bibir tipisnya sudah meliak-liuk. Ia menoleh Nila dan dua pengawal yang masih setia mengawasi.
“Apa kalian tidak lapar? Ayo kita makan, aku akan mentraktir kalian.”
BRAK
Bertepatan dengan itu, Kelana membuka pintu. Ia salah tingkah karena tingkah konyolnya sendiri. Mendengar Hana ingin makan di luar, dia pun ingin ikut juga. Ternyata dia tak langsung duduk di kursinya setelah masuk, tapi menguping dulu.
“Kan sudah aku bilang, kamu tidak boleh pergi tanpa izinku,” ucap Kelana untuk menunjukkan siapa bos di sana.
Bibir Hana semakin manyun, dia akhirnya meminta izin dengan sopan ke Kelana, tapi sebelum itu Hana sengaja mengusap dadanya dan mengucapkan kata ‘sabar’ secara berulang.
“Saya minta izin makan di luar ya Pak, mohon diizinkan!” Ucap Hana dengan nada lembut.
Kelana bahkan sampai mencibir karena tingkah Hana yang kembali seperti semula, padahal beberapa menit yang lalu, wanita itu dia nilai bersikap sedikit kurang ajar.
“Aku mengizinkanmu makan siang di luar tapi aku ikut, kamu juga harus mentraktirku. Ayo!” Tanpa meminta persetujuan Hana, Kelana mendahului berjalan menuju lift. Pria itu bahkan menepuk pundak salah satu pengawal yang datang ke kantornya.
“Ayo apa yang kalian tunggu!” perintah Kelana tanpa sedikit pun ingin dibantah.
Sementara itu, Bagas tidak bisa tenang karena kedatangan Tantri ke tempatnya bekerja. Pria itu bahkan tidak jadi makan siang karena terlalu cemas. Bagas hanya duduk di kursi kerjanya sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuk ke meja. Karena terlalu penasaran, Bagas memutuskan untuk pulang.
Saat keluar dari gedung menuju parkiran, pria itu tanpa sengaja melihat Kelana dan Hana yang tengah berjalan bersisian, bahkan Hana membukakan pintu mobil untuk Kelana dan tertangkap jelas senyuman dari bibir mantan istrinya itu.
__ADS_1
Bagas hanya memandangi dari kejauhan, dia malah berpikir mungkinkah Hana ingin membuatnya cemburu dengan bertingah seperti itu.
***
Sesampainya di rumah, Bagas dikejutkan dengan aroma gosong yang menyeruak sesaat setelah membuka pintu. Pria itu berlari menuju dapur dan melihat penggorengan yang mengepulkan asap dengan dua ikan yang mungkin sudah hampir menjadi abu.
Buru-buru Bagas mematikan kompor, jelas saja kejadian ini membuatnya marah. Ia berpikir bahwa Bunga berniat membakar rumahnya.
“Bunga!” panggilnya. “Di mana dia? Apa dia tidak mencium bau gosong ini? dia juga tidak mengunci pintu rumah, bagaimana jika ada maling yang masuk?”
Bagas dengan kasar membuka pintu kamar, mendengar gemericik air dan sang istri yang sedang bernyanyi dari arah kamar mandi, pria itu pun menggedornya. Bunga yang sedang berendam di dalam bath up pun kaget. Wanita itu bergegas menggunakan jubah mandi dan membuka pintu.
“Lho Mas Bagas kok sudah pulang,” sapanya dengan senyuman manis. Bunga merasa sedikit aneh karena wajah suaminya begitu masam.
“Kalau aku tidak pulang rumah ini pasti sudah kebakar, kamu lupa ‘kan sedang menggoreng ikan,” sembur Bagas.
“Aku sudah mematikan kompornya,” ucap Bagas. “Dasar ceroboh, kerjamu itu apa sih selain merawat diri, Ha?” bentaknya.
Bunga pun merasa bersalah, dia berniat untuk masak, tapi karena tidak terbiasa dia sampai lupa sedang menggoreng ikan dan malah mandi.
“Ya Maaf! aku sedang berusaha jadi istri yang baik lho Mas, aku mau masak,” ujar Bunga membela diri.
“Masak apa? ikanmu sudah jadi abu, sana kamu makan sendiri!"
Bagas berkacak pinggang lalu melonggarkan dasi, ada rasa kesal yang bercokol di dada dan itu membuatnya sangat murka.
Bunga tak ingin memperkeruh suasana karena sadar atas keteledorannya, dia lebih memilih bertanya, kenapa Bagas sudah pulang padahal hari masih siang.
__ADS_1
“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, apa kamu meminta ibumu pergi melabrak Hana?”
Pertanyaan Bagas membuat Bunga kaget, kenapa tiba-tiba membahas Hana dan membawa-bawa sang ibu, tapi belum juga menjawab, Bagas sudah lebih dulu berucap-
“Apa kamu tahu? ibumu hampir membuatku malu, untung saja aku langsung berpura-pura tidak tahu.”
“Mas Bagas ngomong apa sih?”
Bunga yang memang tak tahu menahu nampak bingung, apa lagi dari ucapan Bagas, dia bisa menyimpulkan bahwa pria itu sepertinya malu mengakui Tantri sebagai mertua.
“Ibumu tadi ke perusahaan, dia sampai dipegangi oleh satpam karena marah-marah, memalukan! bisa tidak kamu bilang ke ibumu untuk menjaga kelakuan, dia ‘kan tahu aku juga bekerja di sana,” cerocos Bagas.
Bunga yang merasa ibunya dihina pun tak terima. Apa lagi dia juga tidak tahu duduk perkaranya.
“Jadi Mas nggak mau Hana dihina, gitu intinya?”
Bagas malah glagapan, dia bingung menjawab bagaimana pertanyaan sang istri. Ia pun menegaskan ke Bunga agar mau menasehati Tantri, untuk tidak melakukan tindakan seperti itu lagi.
“Aku akan ngomong ke Mama, tapi Mas Bagas lihat saja! kalau wanita itu masih dekat-dekat sama Mas Bagas aku akan memberinya pelajaran, dan kalau sampai Mas meladeni, aku pastikan memotong teripang Mas Bagas sampai ke pangkal!” Ancam Bunga. “Tapi sebelum itu Mas harus bisa bikin aku hamil dulu,” imbuhnya.
_
_
_
Met NgabubuREAD
__ADS_1
Yang lagi masak, jangan sampai gosong ya 🤭