Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 141 : Biaya Perawatan


__ADS_3

“Mas Bagas dari mana? kok malam-malam keluar rumah. Mas pergi ke klub ya?”


Bunga mendekat dan menghidu baju Bagas, dia yang bangun karena kebelet ke belakang kaget mendapati suaminya tidak ada di kamar. Wanita itu sempat turun ke bawah dan mencari-cari keberadaan Bagas, mendapati mobil suaminya tidak ada, Bunga pun yakin Bagas sengaja pergi diam-diam saat dia tertidur.


“Mana ponselmu, Ha? apa kamu sudah mengecek ponselmu,” sinis Bagas.


Bunga pun diam seribu bahasa, dia lupa mengisi kuota. Namun, bukan Bunga namanya jika tidak membela diri. Wanita itu berucap sambil bersedekap, “Kuotaku habis, lagian mas sendiri yang minta buat kita nggak lagi langganan Wifi.”


Bagas hanya tergelak ironi, dia melepas kaos dan celana untuk berganti dengan piyama tidur. Bagas melempar dua potong baju itu ke keranjang cucian dengan kasar setelah itu naik ke atas ranjang.


Bunga yang masih curiga memilih mengambil kaos sang suami dan memeriksa. Ia mengendus lebih dalam kalau-kalau ada bau parfum wanita yang tertinggal di sana.


“Kamu pikir aku habis jajan perempuan, Ha?” ketus Bagas yang kesal melihat tingkah sang istri, “Aku dari rumah sakit, Papa tirimu masuk rumah sakit dan ibumu yang seperti nenek sihir itu terus meneleponku,” ungkapnya dengan intonasi marah.


“Apa? Papa masuk rumah sakit?” ulang Bunga yang kaget. Bagas awalnya terkesan dengan sang istri yang masih memiliki perasaan dengan mencemaskan papa tirinya, tapi pria itu dibuat melongo saat Bunga mendekat dan duduk tepat di sebelahnya berbaring.

__ADS_1


“Apa dia mati?”


“Hah … “ Bagas memutar badan untuk memunggungi Bunga. Pria itu memejamkan mata dan tak ingin lagi berbicara pada sang istri. Namun, sebelum itu Bagas sempat berucap bahwa dia membayar DP dan biaya administrasi kamar sebesar dua puluh juta.


“Kalau kamu mendoakan papamu cepat mati, kamu tidak akan dapat apa-apa, aku yakin semua asetnya akan diberikan ke Hana.”


“Begitu ya,” jawab Bunga. “Tapi, Mas kok enteng banget keluarin duit, aku akan minta Hana menggantinya. Enak saja dua puluh juta,” ucap Bunga. Ia mencoba melongok untuk memastikan Bagas mendengar suaranya atau tidak. “Mas Bagas!” panggilnya.


“Terserah kamu!” bentak Bagas. “Ya, lebih baik kamu minta duit itu, biar saja suaminya yang kaya raya itu yang membayarnya,” gumam pria itu di dalam hati.


_


_


“Baik Pak, jadi saya akan pindahkan pasien ke VVIP ya,” ucap si petugas.

__ADS_1


Kelana pun mengangguk, saat mengeluarkan kartu dia kaget karena Hana menahan tangannya. “Kenapa Hunny?”


“Biar aku saja yang bayar, pakai ini ya Mba,” jawab Hana. Sekarang gilirannya yang kaget karena Kelana menahan.


“Hunny, aku sudah bilang kalau aku yang akan membayar biaya rumah sakit Papa, jadi tidak perlu,” kata Kelana.


“Sayang, aku punya tabungan bahkan jatah bulanan darimu lebih dari cukup untuk membayar.” Hana memelas. “Aku mohon biar aku saja ya! biarkan aku menunjukkan baktiku pada Papa.”


“Aku juga mohon, bukan kamu saja yang ingin menunjukkan bakti ke Papa.” Kelana memindai wajah Hana, tapi saat mata mereka bersirobok pria itu akhirnya mengalah, tak kuasa saat Hana memberikan tatapan seperti itu.


“Terima kasih.” Hana tersenyum lebar, dia melepas kartunya saat petugas administrasi memegang sisi satunya. Petugas itu bahkan heran, baru kali ini ada keluarga pasien yang berebut untuk membayar.


Tak jauh dari tempat Hana dan Kelana mengurus biaya perawatan Arman, ada Bunga yang melihat dengan tatapan benci. Ia sengaja datang pagi-pagi juga karena Tantri mengirim pesan untuk membawakannya sarapan. Ibunya itu meminta dibawakan makanan enak karena lelah tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Padahal dia mendapat uang jutaan dari Kelana.


_

__ADS_1


_


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2