
Kelana memijat kening. Pria itu duduk di kursinya dengan Hana yang berdiri persis di depan meja. Istrinya itu baru saja menceritakan kenapa Dinar bisa sampai seperti tadi. Ia harus sampai susah payah membujuk agar sang mama mau pulang dan menjadwalkan konsultasi dengan dokter androlog nanti.
“Maaf kalau aku salah,” ucap Hana.
“Tidak Hunny! Tidak! kamu tidak salah, Mama saja memang yang terlalu reaksioner,” jawab Kelana tanpa menatap Hana, dia masih saja memijat kening dan kini beralih ke pelipis.
Senyap. Hana tak menyahut lagi dan membuat Kelana akhirnya menegakkan badan. Dibuangnya napas kasar dari mulut sebelum tangannya menjulur dan meminta Hana untuk mendekat padanya.
“Kemari lah, sini!” pinta Kelana. Ia menepuk pahanya dan Hana yang merasa bersalah pun mendekat. Wanita itu berhenti tepat di sebelah kursinya.
“Kenapa? duduk di sini!” Kelana menepuk paha tapi Hana menggeleng.
“Maaf ya karena mulutku kamu jadi harus ikut pusing dengan prasangka mama yang aneh,” kata Hana. Ia tersentak saat Kelana menarik pinggangnya sedikit kasar. Wanita itu akhirnya mau tak mau menurut dan duduk di pangkuan sang suami.
Kelana merapikan helaian rambut Hana yang berantakan, bagaimana tidak berantakan jika tadi wanita itu menjambak rambutnya saat mengejar Dinar masuk ke ruangan Kelana. Belum lagi membujuk mertuanya itu agar mau sabar yang sedikit membuat frustrasi tadi. Meski terpaksa, Kelana akhirnya berjanji untuk pergi ke dokter andrologi guna memeriksakan kesuburannya. Padahal dia yakin bahwa pabrik bahan baku manusianya itu baik-baik saja.
“Tapi pabrikmu itu harus di QC Kelana, dan yang bisa melakukan Quality control itu hanya dokter,” ucap Dinar saat Kelana meyakinkan bahwa organ reproduksinya baik-baik saja tadi.
__ADS_1
“Apa kamu siap jika kita punya anak dalam waktu dekat?” tanya Kelana tiba-tiba. Hana yang memang sejatinya menginginkan seorang bayi di dalam hidupnya pun mengangguk mantap.
“Tapi aku ingin pacaran dulu denganmu, aku ingin lebih lama dulu bermesraan, menghabiskan waktu bersama berdua tanpa ada orang lain yang mengganggu. Kita bahkan belum pergi bulan madu Hunny,” imbuh Kelana. Kini kepalanya sudah mendarat ke dada Hana yang berisi.
“Jika ada bayi, aku takut perhatianmu terbagi. Kamu akan sibuk dengannya dan bahkan mungkin tidak memeprhatikanku lagi. Yang paling penting aku belum rela asetmu dikuasai oleh anak kita.”
“Hah …. “ Hana tertawa, dia usap bagian belakang rambut Kelana yang sepertinya sedang dalam mode manja. Padahal dia tahu bahwa suaminya itu sedang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
“Kenapa tertawa? Ini bukan lelucon.” Kelana menjauhkan badan. Dengan penuh perasaan dia menyelami netra Hana.
Hana sengaja menarik kedua pipi Kelana hingga mau tak mau bibir pria itu nampak melebar, tapi Kelana tidak mau tersenyum dan malah menunjukkan sorot mata sedih.
“Ayo lah Sayang, jangan seperti in!”
“Aku tidak mau cintamu terbagi Hunny, aku tidak mau,” ucap Kelana – pria yang menjadi budak cinta Hana.
Saat mereka masih terdiam dan memandangi wajah masing-masing. Ponsel Kelana yang berada di atas meja pun bergetar. Sebuah pesan masuk ke sana dari temannya yang seorang ahli IT.
__ADS_1
[ Aku sudah mendapatkan IP address perangkat yang disambungkan ke kamera yang kamu berikan, setelah aku cek perangkat itu ternyata masih satu gedung dengan lokasi kamera itu ]
[Lalu apa artinya ]
Hana turun dari pangkuan Kelana, mendapati wajah serius suaminya saat membalas pesan itu dia menjadi gusar.
[ Orang yang memasang kamera itu ada di kantormu sendiri Bro ]
_
_
bersambung ❤
bagi vote dan poinnya ya geng
tips koin juga Mau 🙈
__ADS_1