Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Extra Part 1 : Asetku


__ADS_3

Pagi yang cerah untuk pasangan yang selalu merasa diri meraka adalah pengantin baru. Setelah melalui masa-masa sulit dalam hidup, kini saatnya menyongsong masa depan yang indah.


Hana masih berada di dalam dekapan Kelananya, tangan wanita itu mengusap dada seperti yang biasa dia lakukan. Meski sudah sama-sama bangun, tapi entah kenapa mereka enggan beranjak dari empuknya kasur kamar.


“Hari ini di rumah saja, tidak perlu berangkat ke kantor,” ujar Hana. Karena tak mendapat jawaban, dia pun menghentikan usapannya di dada Kelana.


“Kenapa berhenti?” Kelana merajuk, menekan lagi punggung tangan Hana agar kembali mengusapnya – posesif. “Bukankah kamu bilang aku tidak perlu berangkat ke kantor?”


“Hem … tapi dia lapar.” Hana memelas, dia turunkan pandangan ke perut. “Pengen bubur ayam.”


“Ya sudah akan aku pesankan lewat layanan pesan antar.” Kelana menjauhkan badan, dia raih ponsel di nakas ingin bergegas mencari resto yang menjual makanan yang diinginkan sang istri, tapi tak dia sangka secepat kilat Hana mencegah, dengan logat manja penuh rayuan ibu hamil itu berucap-


“Maunya kamu yang beli sayang.”

__ADS_1


Terdengar mulai mengada-ada, tapi meski begitu Kelana dengan senang hati mengiyakan, pria itu bahkan bergegas bangkit untuk mencuci muka di kamar mandi.


Hana mengantar Kelana sampai di depan pintu, dua ibu jari dia angkat ke atas untuk memuji kebaikan dan rasa pengertian belahan jiwanya itu. Kelana mengerlingkan sebelah mata dan membuat Hana semakin gemas saja.


“Uh … ingin kugigit dia,” ujarnya sambil melambaikan tangan.


Setelah Kelana pergi, Hana kembali masuk ke dalam. Ia mengecek dapur mencari beberapa makanan yang bisa dia telan untuk mengganjal perut dulu. Pada akhirnya beberapa snack sisa acara syukuran kemarin menjadi pilihannya.


“Hana … Hana, senam yuk!”


Hana buru-buru memasukkan potongan terakhir kue ke dalam mulut, setelah itu cepat-cepat membuka pintu. Ia agak surprise mendapati di depan pagar rumahnya ada Bu Erin, Mina dan juga Bianca sudah mengenakan baju senam seksi, terlebih Mina. Meski memakai celana panjang sampai melebihi lutut tapi atasan yang digunakan nyaris hanya seperti push bra. Bentuk badan ibu-ibu yang sudah tak lagi muda itu sungguh sangat aduhai. Hana pun merasa insecure.


“Ah … tunggu sebentar bu Ibu, aku ganti baju dulu,” ujar Hana. Ia memindai penampilannya yang masih memakai piyama dan buru-buru naik ke lantai atas.

__ADS_1


***


Beberapa menit kemudian, Hana terbengong. Ibu-ibu itu melakukan gerakan senam dengan semangat enam sembilan, bahkan teriakan mereka kompak sekali. Hana yang baru saja mengikuti untuk pertama kali jelas keteteran, dia bahkan banyak membuat kesalahan di gerakan. Hana terlihat setengah hati, padahal dia hanya takut terjadi sesuatu yang buruk ke janin di dalam kandungan.


“Ayo ibu-ibu semangat, putar pinggulnya hentak ke depan. Hoo …. “


Teriakan instruktur yang sengaja diundang oleh ibu-ibu itu membuat mata Hana melotot tak percaya. Belum lagi setelah itu mereka dengan mudah melakukan split saat senam memasuki gerakan inti. Hana tersenyum cengo, dia mundur dari barisan tapi iseng mencoba gerakan tadi, dan tak dia duga sebuah teriakan membuat kaget setengah mati.


“Hunny!”


Kelana nampaknya sudah pulang dari membeli bubur ayam. Pria itu berjalan cepat, tapi bukannya cemas dengan kandungan sang istri, dia malah takut Hana melukai palungnya dengan melakukan gerakan kaki merentang seperti itu.


“Asetku … asetku …,” ujar Kelana sambil bersungut-sungut.

__ADS_1


__ADS_2