
Kelana ingin bergegas keluar dari kamar mandi, dia mengenakan jubah mandinya dengan buru-buru sampai mendengar ucapan Hana yang membalas pernyataan Dinar.
“Tega sekali kalau Mama sampai mencarikan istri kedua untuk Kelana, apa Mama sendiri sebagai wanita rela dimadu?”
“Apa?”
Dinar tak bisa menjawab pertanyaan sang menantu. Mendapati mertuanya kebingungan, Hana pun berusaha untuk mengendalikan emosi, dia sadar tidak perlu berselisih paham dengan wanita yang telah melahirkan pria yang sedang membuatnya kasmaran ini.
“Baik lah aku tidak akan bekerja hari ini, aku akan bicara dulu pada Kelana, tapi jika harus mengundurkan diri menjadi sekretarisnya, aku belum bisa Ma, hatiku belum rela. Apa lagi membayangkan sekretaris baru penggantiku kegenitan, bisa-bisa aku kalang kabut sendiri," cerocos Hana.
“Cih … apa kamu tidak percaya diri? Atau meremahkan putraku gampang tergoda?” cibir Dinar. Ia pun meminta Hana untuk segera bersiap, satu jam lagi mereka akan keluar rumah.
***
Hana menutup pintu setelah punggung Dinar tak nampak lagi, dia berbalik dan seketika berjengket karena Kelana sudah berdiri di tepat di belakangnya. Pria itu nampak begitu memesona, rambutnya yang basah, wajah tampannya yang baru saja dicuci dengan sabun muka khusus pria benar-benar membuat Hana tak bisa berkata-kata. Saat mendekat, Hana bahkan bisa mencium aroma sabun yang menguar dari pori-pori kulit Kelana, sungguh membuatnya ingin melompat ke dalam pelukan pria itu dan memeluk erat.
“Hana sadar! Ini masih pagi dan kamu tidak boleh agresif, malu!” gumam Hana di dalam hati. Ia menggaruk rambut yang tidak berketombe dan bingung menjelaskan ke suaminya itu. Hana tidak tahu kalau Kelana sejak tadi menguping pembicaraan, karena dia dan Dinar tanpa sadar berbicara dengan suara lantang.
“Kenapa?” tanya Kelana, dia berjalan dan berhenti di depan lemari untuk mengambil satu setel baju ganti.
__ADS_1
“Mama memintaku untuk ikut pergi dengannya, dia tidak memperbolehkanku bekerja.”
Hana melempar diri duduk di tepian ranjang, embusan napasnya terdengar berat, dia pun hanya bisa memandangi gerak-gerik Kelana dan menunggu suaminya itu sampai memakai kemeja. Hingga Hana berdiri dan tiba-tiba melingkarkan lengannya ke pinggang Kelana.
“Masa Mamamu bilang mau mencarikanmu istri kedua, itu benar-benar membuatku sedih,” ucap Hana. “Bagaimana ini?” Hana lagi-lagi menghela napas.
“Aku sudah menyukaimu, tapi jika dipikir lagi apa benar kamu sudah memiliki perasaan padaku? hatiku tiba-tiba merasa hampa.”
Kelana membalik badan, dia tahu apa yang menjadi beban pikiran wanita di hadapannya ini. Kelana tahu bahwa Hana pasti masih belum yakin dengan perasaannya. Itu wajar, karena seperti apa yang istrinya itu bilang, sebelumnya mereka memang seperti kucing dan anjing.
“Apa kamu takut kehilanganku?”
“Seminggu yang lalu aku tidak takut karena menganggap cintaku bertepuk sebelah tangan, tapi sejak kamu juga ternyata memiliki perasaan yang sama denganku, aku takut – jangan-jangan kamu hanya berbohong untuk mengerjaiku,” ucap Hana.
“Apa kamu tahu? sertifikat pabrik gula milik nenek gayung sudah diberikan padaku tepat setelah resepsi pernikahan kita, aku sengaja tidak memberitahumu karena takut kamu akan meminta berpisah jika tahu apa yang menjadi tujuanku sudah tercapai.”
Hana mendongak, dia tatap Kelana yang tersenyum dan menempelkan bibirnya sekilas. “Aku juga takut kehilanganmu, Hunny (Hani).”
“Namaku Hana,” ucap Hana yang seketika cemberut, tapi setelah dia sadar bahwa mungkin saja Kelana baru saja memanggilnya sayang, netra wanita itu membeliak sedikit lebar.
__ADS_1
“Apa kamu baru saja memanggilku Hunny? Sayang?” tanya Hana untuk memastikan.
“Kamu pikir apa?”
Kelana mendorong kening Hana dengan telunjuk tapi setelahnya pria itu menyambar bibir dan bahkan menghisap lidah. Kejahilan Kelana itu membuat Hana sampai mendorong tubuhnya menjauh.
“Apa itu tadi?” gerutu Hana.
“Ciuman ala pasir hisap,” jawab Kelana sekenanya. Ia tertawa melihat muka kesal Hana yang bercampur malu. “Hei … bagaimana kalau nanti malam kamu mendemokan lidah tornado yang pernah kamu bilang,” godanya.
“Kelana!”
Wajah Hana semakin semerah tomat, dia bahkan menjauh karena takut diterkam oleh Kelana.
“Aku izin tidak bekerja, jadi hari ini kamu pasti akan sangat sibuk,” ujar Hana lagi.
“Tidak apa-apa asal malam nanti kamu bisa menghilangkan lelahku.”
Hana yang hendak membuka tutup botol skincare-nya pun seketika mengurungkan niat, dia toleh Kelana yang dengan santainya memandang ke arahnya dan mengerlingkan mata.
__ADS_1
“Astaga, dia membuatku merinding.”