Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 63 : Tanyakan Ke Mamamu


__ADS_3

Malam itu, Hana kembali menginap di rumah Dinar. Kini dia sedang duduk di sofa sambil menatap ramuan dari mertuanya yang dia letakkan di atas meja.


Hana menggigiti kuku jari telunjuk kanannya. Ia heran ternyata ada ramuan semacam itu yang bisa membuat mbak V rapet lagi, terlebih yang membuatnya semakin tak percaya adalah karena Dinar yang memberikannya. Bukankah ini berarti wanita itu sudah merestui pernikahan ini?


“Apa Bu Dinar ingin segera menimang cucu?”


“Astaga! kenapa otakku tidak bisa berhenti memikirkan dua satu plus?”


Hana berdiri, dia hendak menyambar ramuan itu dan ingin menyimpannya, tapi urung karena tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Melihat siapa yang menghubungi, Hana seketika merasa kesal. Panggilan itu tak lain berasal dari Bagas. Ia pun memijat kening, Hana bingung harus melakukan apa ke pria yang sangat dia benci ini.


“Halo, Hana! Apa kamu sakit? kenapa kamu tidak datang bekerja hari ini?” suara Bagas terdengar sangat cemas, sampai Hana menjauhkan benda pipih di tangannya agar suara pria itu tidak memecahkan gendang telinga.


“Han … Hana!” panggil Bagas.


“Aku dengar, jangan teriak-teriak! Aku tidak apa-apa, aku hanya diminta menemani mamanya Kelana hari ini,” jawab Hana apa adanya.


Ia berpikir berbohong ke Bagas hanya akan membuat pria itu mencecarnya dengan banyak pertanyaan lain.


“Apa Bu Dinar sangat menyukaimu?” tanya Bagas sedikit menurunkan nada bicara.


“Tentu saja, dia bahkan membelikan sesuatu yang sangat berharga untukku,” jawab Hana. “ Dia memberiku ramuan Mak War – ibu perang,” imbuhnya sambil menatap barang itu yang masih berada di atas meja.


“Ra-ra-ramuan apa? apa dia memberimu racun?”

__ADS_1


“Hish … bukan! sudahlah aku tidak bisa menjelaskannya padamu, aku jelaskan pun kamu tidak mungkin akan mengerti, Oh … ya apa Kelana lembur, kenapa dia belum pulang juga.” Seolah tak peduli dengan perasaan Bagas, Hana dengan santainya bertanya.


“Tidak tahu, mungkin dia pergi ke Lorong Indah,” jawab Bagas menyebutkan nama salah satu lokalisasi ternama di kota tempat mereka tinggal.


“Tidak mungkin, Kelana pria yang pilih-pilih, aku yakin kamu lah yang suka pergi ke sana,” cibir Hana, entah mengapa dia tak sungkan lagi menunjukkan rasa ketidaksukaannya ke Bagas.


Namun sayang, Bagas sudah terbutakan oleh pikiran bahwa Hana masih bucin padanya. Bagas tidak merasa ucapan sang mantan istri barusan sedikit ketus dan menyindir.


Mereka masih berbicara di telepon, sampai Hana melihat gagang pintu kamar berputar, dia yakin Kelana pasti sudah datang. Hana pun buru-buru mematikan panggilan Bagas.


“Sudah jangan telepon aku lagi atau aku blokir nomormu!” ancam Hana sebelum mematikan ponsel. Ia sempat meraih ramuan yang ada di meja dan menyembunyikannya dalam genggaman.


“Sudah pulang?” tanyanya basa-basi ke Kelana.


Suaminya itu mendekat sambil melonggarkan dasi, dan cepat-cepat Hana menyembunyikan ramuan itu agar tak terlihat oleh Kelana. Ia meletakkannya di nakas.


“Kenapa hanya diam? apa kamu sangat lelah? Mau aku siapkan air mandi?” tanya Hana lagi, dia mulai kebingungan dan berpikir yang macam-macam.


“Tunggu! kenapa kamu malah diam saja, jangan-jangan kamu genderuwo yang menyamar menjadi suamiku dan mau minta hohohehe.”


“Dasar kebanyakan ngehalu!” Kelana mendorong kening Hana, dan seketika wanita itu tertawa karena lega bahwa ketakutannya tidak lah benar.


“Nah … ini baru Kelana,” ujarnya dengan senyuman lebar.


“Aku mau menagih janji, kamu harus memberiku sesuatu yang spesial malam ini karena seharian aku bekerja sendirian.” Mata Kelana menyipit. “Aku bahkan hampir tersiram air panas saat mau membuat kopi.”

__ADS_1


“Bagaimana bisa?” Hana terperanjat. “Mana? bagian apa yang kena? Apa sakit?” dia panik dan meraih tangan Kelana untuk diperiksa.


Mendapati kecemasan di wajah sang Istri, Kelana hanya tertawa. Ia pun menggeleng dan mendaratkan ciuman di pipi Hana. “Seharian aku kesepian. Tidak ada wanita cerewet yang keluar masuk ruanganku sambil mengoceh seperti beo,” ucapnya.


Hana yang malu karena ucapan Kelana pun menangkup pipi, dia memukul dada Kelana gemas sebelum pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat. Hana masih tak percaya bisa tersipu saat pria itu menggombal.


Sementara Hana masih berada di dalam kamar mandi, Kelana nampak merogoh kantong celana dan mengeluarkan ponsel. Pria itu berjalan mendekat ke arah nakas untuk mengisi daya benda pipih miliknya.


Namun, kening Kelana perlahan terlipat saat mendapati sebuah wadah bening di atas sana. Ia meraih dan bahkan memutar untuk melihat benda apa itu.


“Hana, ini apa? apa ini obat panu? Apa kamu panuan?” Kelana menduga sesuatu hal yang membuat Hana berjalan cepat keluar dari kamar mandi.


Tanpa berkata apapun, Hana menyambar barang itu dari tangan sang suami dan menggenggamnya erat.


“Hana, apa itu?” tanya Kelana lagi. “Apa kamu memiliki penyakit kulit? Apa punggungmu jamuran?"


Gigi Hana bergemerutuk mendengar tuduhan dari Kelana. Ia yang selalu menjaga kebersihan, sering spa ke salon, tidak terima dipikir memiliki penyakit kulit oleh suaminya, tapi di sisi lain menyebutkan dan menjelaskan untuk apa barang itu Hana juga malu.


“Tidak apa-apa, tidak usah malu. Meski kamu ada panu aku tidak akan berhenti mencintaimu,” kata Kelana lagi.


Hana semakin malu, dia tidak mau sampai Kelana berpikiran seperti itu. “Bukan! ini bukan obat panu tahu, tapi obat annu,” jawabnya.


“An-anu apa?” Kelana bingung. Sejenak dia berpikir hingga ekspresi wajahnya berubah. Pria itu menutup mulut dengan kedua telapak tangan. “Apa annumu bermasalah? Apa organ reproduksimu bermasalah?”


“Astaga Kelana, kenapa pikiranmu begitu?” Hana sampai ingin menangis. “Tidak ada masalah, aku normal, aku baik-baik saja!”

__ADS_1


"Lalu apa ini? ini bukan 'salep 86' apa ini merek baru, apa mungkin 'salep 69'?"


"Tanyakan pada Mamamu!" jawab Hana yang sudah frustrasi.


__ADS_2