Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 191 : Patut Waspada


__ADS_3

Suasana yang mulai mencair membuat Kelana tahu bahwa Hana sudah tidak memiliki rasa kecemburan yang tingkatannya seperti tadi. Ia berani mendekat, menggeser kursi makan tepat di sebelah sang istri lalu mengambil tangan Hana dengan penuh kelembutan.


“Apa pun yang terjadi di masa lalu, bukankah itu tidak penting? Kita sama-sama punya masa lalu, dan sudah sepakat untuk tidak membahasnya lagi,” ucap Kelana lembut, dia benar-benar menurunkan egonya sampai ke titik terendah agar Hana luluh. “Maaf! aku benar-benar tidak menyangka dia akan datang ke resto yang sama dengan kita meski kita tahu dia memang suka ke sana, itu hanya sebuah kebetulan.”


Hana tak merespon, dia masih saja diam. Hatinya merasa aneh, awalnya sangat marah tapi kini terasa sedikit nyeri karena penuturan suaminya yang begitu tulus. Ia malah menunduk, menatap tangannya yang digenggam erat oleh Kelana.


“Baiklah, aku anggap setelah ini tidak akan ada lagi pertemuan dengan mantanmu itu.”


“Dia dokter pribadi nenek Gayung,” potong Kelana.


“Ya … kalau saat dia on duty aku tidak akan menganggapnya Amanda, tapi jika di luar dan sampai pegang-pegang pinggang dan tangan, lihat saja! bukan dia yang akan aku cakar tapi kamu. Karena artinya kamu bebal dan tidak mau mendengarkan istrimu,” sembur Hana.


Bukannya kesal, Kelana malah mengulum senyum. Ia mengangguk dan mencium tangan Hana yang masih digenggam. “Apa kamu suka bunga yang aku kirim?”


“Kan aku sudah mengirim pesan, kenapa tanya lagi? iya aku suka, terima kasih! tapi jangan hambur-hamburkan uang untuk membeli hal semacam itu, aku percaya cinta tidak perlu ditunjukkan dengan satu bucket bunga, tapi perlu ditunjukkan dengan bunga bank, mobil pakjero warna pink dan rumah dua lantai.”


Kelana terbahak, dia sampai hampir terjengkang dari kursi karena bergerak terlalu ke belakang. Beruntung Hana memegang ke dua pergelangan tangannya.


“Hati-hati!”

__ADS_1


Kelana perlahan memudarkan senyuman, wajahnya begitu dekat dengan wajah Hana. Ia menatap mata wanitanya itu sebelum menempelkan bibir dan mengecupnya lembut.


“Terima kasih mau mengerti dan mau memaafkan, kalau kamu lama-lama marah aku bisa kurus karena tak nafsu makan,”lirih Kelana.


“Kamu memang tidak boleh banyak makan, kamu juga sudah jarang nge-gym, sejujurnya saat meraba dadamu sebelum tidur, aku merasa sudah ada timbunan lemak,” goda Hana.


“Tapi aku tidak akan diceraikan karena gendut ‘kan?” Kelana tak kalah menggoda, bibir mereka sudah hampir bersentuhan lagi, hingga Hana hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala.


“Cintaku tidak memandang fisik, tapi menjaga bentuk tubuh itu penting, sayang,” timpal Hana.


“Tenang saja aku akan tetap menjadi pria seksi untukmu, baik di depan orang dan di atas ranjang.”


“Kenapa?”


Hana bingung harus mencari alasan apa, hingga yang paling masuk akal dia kabur dan beralasan, “Aku kebelet pee.”


“Hunny, kamu sejak kemarin aneh tahu, apa ada yang salah dengan servisku?” keluh Kelana. "Katakan saja! kamu boleh komplain."


Kelana melirik lagi mangga mekar di meja dan memakannya. “Ternyata lama-kelamaan rasanya nagih,” ujarnya.

__ADS_1


***


[ Pak Kelana tidak kembali ke kantor, apa kamu membuat dia dan istrinya bertengkar?]


Bunga yang penasaran memberanikan diri mengirim pesan ke Amanda, dia dibuat gelisah karena wanita itu lumayan lama membalas.


“Hih … si kue kukus kemana sih nggak bales-bales,” gerutu Bunga, dia bahkan mengatainya seperti nama makanan.


Bunga tidak bisa konsentrasi bekerja karena terlalu penasaran dengan apa yang terjadi, sampai sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya. Ia semangat enam sembilan untuk melihat, tapi harus kecewa pasalnya pesan itu ternyata dari Tantri.


[ Bunga. apa kalian itu tidak punya makanan lain di rumah selain mikurame hot level lidah mertua? ]


_


_


_


Scroll ke bawah 👇

__ADS_1


__ADS_2