Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 192 : Ketempelan


__ADS_3

Sebagai seorang anak, Bunga merasa tak tega. Ia pun meminta Tantri untuk bersabar, dia berjanji akan mengirimkan uang untuk makan sebentar lagi.


Bunga memijat kening setelah mentransfer sejumlah uang ke rekening Tantri. Jika dipikir bakti pada ibunda memang hal yang utama, tapi jika Tantri malah menjadi benalu dalam hubungannya dan Bagas, dia benar-benar harus mencari jalan keluar dari masalah ini.


Meski Bagas ketus dan mulai tak peduli padanya, tapi Bunga memang masih menyimpan rasa cinta. Perasaannya aneh, di satu sisi dia ingin membuang Bagas tapi di sisi lain dia masih sayang. Bunga seperti remaja yang baru saja puber, dia bahkan mulai mengingat semboyan satu tokoh setan berbentuk babi di serial kesukaannya saat masih anak-anak dulu. “Cinta, penderitaannya tak bertepi.”


Bunga menggeleng, dia tahu kisah cintanya tidak seperti sinetron di saluran ikan terbang kesukaan Tantri. Jadi dia harus realistis. Ia pun berpikir, otaknya yang cerdas itu memang bisa diajak Kerjasama untuk membahas hal-hal yang licik.


“Harta gono-gini. Ya, benar! tidak apa-apa mama bercerai tapi mama harus tetap mendapatkan itu. Enak saja mama ditendang begitu saja, apa pria itu tidak berpikir selama ini siapa yang merawatnya saat anaknya yang gendut itu pergi. Dia sudah memberikan harta mantan istrinya ke Hana, mama jelas harus mendapatkan juga. Apa mereka menganggap mamaku pengasuh aki-aki? Enak saja,” gerutu Bunga. Ia mengepalkan tangan dan akan membicarakan hal ini ke Tantri nanti.


_


_

__ADS_1


Sama halnya dengan sang istri, Bagas juga dalam kondisi suasana hati yang tidak baik. Staff nya sampai bingung. Ruangan pria itu memang hanya tersekat sebuah tembok yang terbuat dari kaca, alhasil gerak-gerik Bagas terpantau jika tirai tidak ditutup.


Pria itu mengomel sendiri, menggebrak meja, mondar-mandir hingga Afy dan Dewi pun saling pandang. Padahal mereka sedang terlibat perang dingin karena kisah cinta segitiga dengan Alden.


“Apa mungkin mahkluk gaib dari hotel kemarin menempel ke Pak Bagas?”


Ya, tingkat tertinggi dari kasta kejulitan adalah saat kita bisa membicarakan orang tanpa perlu mengeluarkan kata-kata. Ikatan batin yang kuat dengan sesama ‘julidin’ sebutan untuk mahkluk-mahkluk julid di negeri Wakanda membuat Afy dan Dewi bisa melakukan ikatan batin itu.


“Ya, ketempelan. Atau mungkin saja dia sedang ada masalah pribadi dengan istrinya.”


“Afy! Dewi!” Alden memanggil nama kedua gadis yang sama-sama menaruh hati kepadanya. Keduanya pun menatap bersamaan pria itu yang sudah berdiri di antara kubikel mereka.


“Ada apa?”

__ADS_1


Kedua gadis itu menjawab bersamaan dengan nada ketus karena Alden dianggap tidak tegas dan masih saja mempermainkan perasaan. Ia berkata menyukai Afy tapi tetap baik kepada Dewi. Sungguh di zaman sekarang semakin susah menemukan pria yang setia seperti pemilik perusahaan mereka, the Lord Kelana.


“Lihat! Pak Bagas sejak tadi uring-uringan sampai berbicara sendiri, sana kamu masuk dan tanya ada apa?” ketus Afy, dia putar kursi kerjanya yang tadi mengahadap ke arah Dewi dan ruangan Bagas.


“Aduh, jangan aku lah! bagaimana kalau kita panggilkan saja kyai. Pak Bagas sepertinya ketempelan demit dari hotel yang dipilih istrinya, sejak kembali sikapnya memang aneh,” ujar Alden.


Afy dan Dewi pun kembali bersitatap, mereka menggunakan bahasa kalbu lagi untuk berkomunikasi.


“Benar ‘kan, bukan hanya kita yang berpikir seperti itu!”


_


_

__ADS_1


_


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2