
Hana terharu, dia tak bisa berkata-kata karena ucapan Kelana terdengar begitu sangat manis bahkan sampai menyentuh sanubari. Tak terasa air matanya pun menetes, Hana bingung belakangan dia sering sekali tak bisa membendung perasaannya. Wanita itu mati kata, hanya bisa membalas genggaman tangan Kelana di atas meja.
“Terima kasih.” hanya kata syarat makna itu saja yang bisa meluncur dari bibirnya. Isaknya lirih terdengar hingga Kelana kembali mengucapkan kalimat pamungkasnya.
“Kamu tidak berhutang apa-apa padaku Hunny, jadi tidak perlu mengucapkan terima kasih.”
Hana tertawa, begitu manis rasanya. Ia benar-benar tidak akan pernah rela melepas kebahagiaannya.
Sementara Hana dan Kelana sedang menikmati semangkuk udon panas, Bunga yang baru saja selesai makan dan naik ke lantai di mana ruang kerja barunya berada merasa heran. Karena terlalu penasaran dia sampai mendekat ke pintu ruangan Kelana dan menempelkan telinga.
“Aneh, kenapa mereka betah berlama-lama di dalam sana, apa mereka tidak lapar. Apa yang mereka berdua lakukan?” gumamnya. Ia yang masih menempelkan telinga pun kaget saat ponselnya berbunyi.
Bunga buru-buru meraih untuk melihat dari siapa panggilan itu berasal. Netranya membola sempurna mendapati nama Bagas. Ia yang tidak tahu bahwa suaminya tadi berada di kantin yang sama nampak antusias menerima panggilan itu.
“Iya Mas ada apa?”
__ADS_1
Bunga berjalan pelan sambil mendengarkan apa yang Bagas katakan, dia pun mengangguk dan menuruti apa keingian suaminya itu. Bagas memintanya bertemu di rooftop.
_
_
Bunga berjalan semakin mendekat saat melihat punggung Bagas. Suaminya itu nampak memegang satu cup kopi. Bunga sudah gede rasa berpikir bahawa kopi itu sang suami bawa khusus untuknya. Namun, dia harus kecewa saat melihat pria itu meminumnya sendiri.
“Hah … berharap dia akan romantis, tidak akan. Dia sudah berubah! tidak seperti dulu sebelum mendapatkan aku sebagai istri,” gerutu Bunga. Ia pun mendekat dan langsung membalik badan. Tubuhnya bersandar pada tembok pembatas.
“Bagaimana hari pertamamu? Lancar? Apa kamu sudah bisa menjalin kedekatan dengan baik dengan Pak Kelana?” tanya Bagas.
“Belum, Hana memberiku banyak kerjaan tahu. Menyebalkan,” gerutu Bunga. “Dan iya satu hal lagi, mereka berada di ruang kerja pak Kelana sejak berjam-jam yang lalu dan tidak keluar-keluar. Apa mereka sedang bercinta di dalam ruang kerja?” Imbuhnya dengan nada sinis. “Cih … aku yakin dia menggoda pak Kelana maka dari itu bisa dijadikan istri.”
Bunga bersedekap dada, hatinya dongkol dan cemburu melihat tingkah kakak tirinya. Ia memiliki rasa iri yang cukup tinggi. Tak ingin rasanya kalah dari Hana. Ia merasa hidup Hana sempurna sejak lahir, hidup yang dia tidak miliki dan rasakan.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak mengetuk pintu kalau penasaran," ujar Bagas.
"Apa kamu pikir aku gila? bisa-bisa aku langsung dipecat hari ini juga." Bunga bersikap ketus, dia merasa hampa. Entah kenapa ada yang kurang jika tidak bisa berada di atas Hana.
Bagas tertawa, dia menyodorkan kopi yang sudah disesapnya ke sang istri.
"Apa kamu tidak bisa membelikanku satu lagi, pelit sekali," gerutu Bunga. Namun, dia terima juga kopi itu.
_
_
_
Bersambung dulu
__ADS_1