
Bunga berubah pikiran, awalnya dia ingin membuat Kelana dan Hana berselisih paham dengan melibatkan dirinya sendiri. Namun, bagaikan mendapat durian runtuh, sisi licik di dalam otaknya pun berbisik saat tahu mantan Kelana datang.
“Bunga, kenapa tidak kamu manfaatkan saja wanita bernama Amanda itu. Pikirkan! Menjadi pelakor itu sudah biasa, tapi menjadi calo pelakor itu sungguh luar biasa. Manfaatkan wanita itu untuk membuat Hana kembali sengsara.”
“Mba Bunga, gimana?” ulang si resepsionis itu bingung.
“Em … biarkan aku saja yang menemuinya.” Bunga langsung berdiri dan berjalan cepat menuju lift. Bibirnya tersenyum manis padahal menyimpan bisa yang berbahaya.
***
“Tumben kalian datang bersama ke sini?” sindir Ayu, dia masih sibuk memberi makan ikan arapaima gigasnya yang ada di dalam kolam.
“Nek, bukankah seharusnya nenek memelihara arwana, itu lebih cocok menurutku dengan kepribadian nenek, kenapa Nenek malah memelihara ikan predator?” Hana melongok ke dalam kolam. Terakhir kali ke sana dia yakin kolam ikan itu belum ada.
“Cocok apa? kurang ekstrim Hana, jika bisa aku ingin memelihara singa, agar bisa aku jadikan wasit saat Tata dan mertuamu bertengkar.”
Dinar yang duduk terdiam sambil makan bakpia lagi hanya mencebik sebal. Wanita itu tak sungkan memakan oleh-oleh dari Hana dan Kelana yang sebenarnya untuk Ayu.
__ADS_1
“Astaga kenapa makanan ini enak sekali. Ma, kita buka bisnis bakpia yuk!” ajaknya ke Ayu yang berpura-pura tidak mendengar.
Hana sengaja tak langsung masuk ke inti kedatangannya ke sana. Ia membiarkan dulu Ayu memberi makan ikan arapaimanya yang berukuran sangat besar. Bahkan saat diberi makan, mahkluk bersisik itu mengibaskan ekor dan membuat air memercik ke luar kolam.
“Apa ikan itu enak dimakan?” tanya Dinar lagi. mulutnya yang sembarangan dia kunci saat Ayu menatapnya nyalang.
“Apa kamu kurang kerjaan mau makan ikan peliharaan Mamamu?” sewot Ayu. “Ia berjalan menuju kursi yang berada satu meja dengan Dinar. Hana pun memegang lengannya untuk memapah. Takut juga jika Ayu tiba-tiba jatuh terjengkang karena lantai di sekitar kolam agak basah.
“Sudah katakan saja, apa niatan kalian datang ke sini. Aku tidak yakin kalian kompak dan rukun.”
“Eh … jangan salah! memang dikira aku si Tata yang selalu memusuhi mantunya. No .. no, aku baik. Iya kan Hana?” Dinar mengangkat dagu, tak sudi wanita itu disamakan dengan sang adik.
Ayu geleng-geleng, dia pun merampas sekotak bakpia yang Hana bawakan untuknya. Bakpia itu malah hampir dihabiskan oleh Dinar.
“Mama tidak boleh makan banyak-banyak, nanti diabetes Mama kumat,” ucap Dinar membela diri.
“Halah … tidak usah sok peduli, Mama tahu kamu dan Tata pasti mendoakan agar Mama cepat mati.”
__ADS_1
“Astaga naga Mama, tega sekali Mama berburuk sangka sama anak sendiri. Aku terluka, Mama melukai perasaanku.” Dinar membuang muka.
Hana yang berada di antara pasangan anak dan ibunya itu hanya bisa memijat pelipis. Sungguh semakin mengenal keluarga sang suami, Hana merasa keluarga itu memang aneh. Ia membuang napas kasar. Mencoba menghentikan perdebatan yang jika diteruskan malah akan tambah memperkeruh keadaan.
“Nek, sebenarnya aku datang ke sini untuk menanyakan sesuatu ke nenek. Kenapa Nenek memberikan nomor Kelana ke Amanda. Nenek ‘kan tahu mereka mantan. Aku benar-benar kecewa karena nenek seperti ingin mendorong pelakor masuk ke kehidupan rumah tangga kami.” Hana lega akhirnya bisa mengungkapkan isi hati, tapi tak bertahan lama karena kini dia harap-harap cemas menunggu respon Ayu.
“Aku tidak memberikan nomornya dengan sengaja, sebenarnya aku kalah taruhan dengan Amanda. Jadi akibat dari kekalahan itu, aku harus memberikan apa pun yang dia minta. Dan Amanda meminta nomor Kelana,” ucap Ayu. “Bayangkan jika dia meminta seluruh hartaku, untung tidak,” imbuhnya.
Mendengar kata harta, Dinar yang sejak tadi masih memalingkan muka pun menolah. Ia penasaran taruhan apa yang dilakukan oleh mamanya sampai mengakibatkan Hana ketar-ketir.
“Memang Mama taruhan apa?”
“Tebak skor bola antara yu pentus dan mak drid.”
_
_
__ADS_1
_
Scroll ke bawah 👇