
Hana membelalak, kenapa muka suaminya harus bonyok? Apa ada preman yang mengincar suaminya? atau apa mungkin di negara Wakanda ini ada perkumpulan orang yang anti dengan kontrak pernikahan. Hana menggeleng, dia peluk erat lengan Kelana bak pria itu akan berangkat mengikuti perang dunia.
“Di sini saja! tenang! aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakitimu.” Hana berlagak bak pahlawan, padahal jika memang Kelana berada dalam bahaya, pria itu juga tidak akan mungkin membiarkan sang istri menjadi tameng untuk melindunginya.
“Hunny, aku tidak akan terjadi apa-apa padaku,” tegas Kelana.
_
_
Karena tidak menemukan Kelana di kantor, akhirnya Ayu memilih pulang. Begitu pun Dinar dan Tata, setelah sampai rumah sang mama, keduanya berpamitan dan bergegas masuk ke mobil masing-masing. Dinar meminta sang sopir pelan-pelan karena dia ingin menghubungi Kelana, sedangkan Tata meminta sopirnya ngebut agar dia bisa cepat sampai ke kantor Rafli. Wanita itu ingin berbicara ke putranya tentang kecurigaan Dinar.
“Aduh … jangan sampai dia tahu kalau aku biang keladinya.” Tata gemetaran, takut juga dia jika diumpankan sang kakak ke macan.
“Kamu di mana? Mama akan ke sana?” Dinar menghubungi putranya, dia bergegas meminta si sopir menuju ke tempat yang Kelana sebutkan.
__ADS_1
Di pihak lain, Bunga yang tahu bahwa Ayu tadi datang untuk marah-marah pun segera bergerak menghubungi Bagas, dia ingin memberikan kabar terpanas yang baru saja dia dapatkan. Bahwa Kelana dan Hana sebenarnya memang melakukan sebuah kontrak pernikahan. Berniat ingin bersekongkol dengan suaminya, Bagas malah percaya diri bahwa Hana memang dulu benar masih menyukainya. Pria itu tersenyum bahagia, pikiran mesumnya seketika berkeliaran di kepala.
***
Beberapa menit kemudian Dinar sampai ke sebuah perumahan, dia tahu perumahan itu. Perumahan berisi wanita-wanita yang juga disegani di kalangan sosialita. Dinar menoleh ke kanan dan kiri lalu duduk tegak. Pikirannya seketika tertuju ke satu hal.
“Kenapa Kelana memintaku datang ke sini? apa jangan-jangan dia membeli rumah di sini? Wah … anak itu.”
Sopir Dinar menghentikan mobil setelah mereka tiba di depan gerbang sebuah rumah dengan nomor yang Kelana sebutkan. Dinar langsung keluar dan disambut oleh Kelana yang membukakan gerbang. Wanita itu masuk, dan malah dibuat kagum melihat bagian dalam rumah itu.
“Murah lah Ma,” jawab Kelana ambigu.
“Murah berapa? Sepuluh? Dua puluh? Hei … sofamu ini saja tiga ratus juta.”
Kelana menelan ludah, dia padahal sudah sekuat hati merahasiakan semua ini dari Hana, tapi Dinar malah berubah menjadi lambe lumer yang malah ember. Hana mulai curiga, wanita itu memandang sang suami dan mertuanya bergantian.
__ADS_1
“Sudah lah tidak perlu dibahas, bukankah ada yang lebih penting. Siapa yang Mama bilang akan membuatku babak belur?” tanya Kelana. Dia sukses mengalihkan fokus Hana. Istrinya itu mengangguk dan antusias dan bahkan ikut menimpali pertanyaan sang suami.
“Apa salah suamiku Ma, siapa yang ingin membuatnya terluka?”
“Nenek kalian," ketus Dinar. "Kalian tidak bisa mengelak, dan jangan berani-beraninya berbohong pada Mama. Surat perjanjian yang viral itu … milik kalian ‘kan?”
Hana meraih jemari tangan Kelana, mereka mengangguk bersamaan seperti anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan. Tanpa bersepakat dulu ekspresi wajah mereka pun sama memelasnya.
“Kalian memang pantas dihajar, nenek kalian murka dan bahkan membawa pentungan ke perusahaanmu tadi. Datangi dia sebelum meminta mafia-mafianya bergerak."
_
_
_
__ADS_1
Bab lain menyusul ❤❤