Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 160 : Meledak


__ADS_3

“Minum? Tentu saja aku akan minum.”


Kelana menuangkan segelas minuman itu dari botolnya, dia bahkan menenggaknya tepat di depan muka Bagas lantas tersenyum jemawa. Ya, jelas Kelana tidak akan mudah tumbang hanya dengan menenggak segelas minuman itu, karena sebelumnya dia dengan sengaja mengonsumsi kafein. Kelana tahu resep itu dari temannya. Dan benar saja efek kafein memang menyebabkan dia tidak mudah mabuk.


Bagas akhirnya teler, pria itu sudah setengah sadar bahkan bernyanyi-nyanyi sendiri menggunakan botol kosong sebagai pengeras suara.


Kelana melirik Alden dan satu temannya. Ia memberi perintah agar dua staff Bagas itu meninggalkan mereka. Namun, sebelumnya dia memberikan segepok uang sebagai ucapan terima kasih. Sebenarnya Kelana memang sudah meminta bantuan Alden secara diam-diam. Jika esok Bagas sadar, Alden harus menjawab bahwa pria itu dan dirinya mabuk lalu dibawa ke kamar.


“Bagas, hei … !”


Kelana menepuk pipi mantan suami istriny itu dengan kasar. Ia mengeluarkan sebuah recorder yang sudah disiapkan dan menekan tombol on.


“Bagas, apa kamu menyukai Hana?” tanya Kelana, mencoba memancing pria itu agar masuk ke dalam jeratnya.


“Hah … suka? tapi dia ‘kan istrimu, berterima kasih lah padaku karena aku menceraikannya,” kata Bagas dengan kepala yang menggeleng-geleng dan akhirnya ambruk ke kursi.

__ADS_1


Kelana menarik lengan Bagas, mendudukkan pria itu dengan benar dan kembali bertanya,” Jadi artinya kamu sudah tidak menginginkannya, begitu? iya 'kan?"


“Menginginkannya lah bodoh! jelas aku menginginkannya, dia itu sangat ahli menggoyang ranjang, dia berbeda dari Bunga yang pasif saat bercinta. Hana lebih ‘uhhhhh’.” Bagas terbahak dan bertepuk tangan, tapi dia seketika terdiam saat Kelana menampar pipinya.


“Sialan! jangan berani-beraninya kamu memakai istriku sebagai bahan fantasi liarmu,” geram Kelana. “Jangan-jangan kamu juga memata-matai dia, kamu memasang kamera di bawah meja kerjanya, iya ‘kan?” Kelana sudah muak dan tak sabar, akhirnya dia to the point menanyakan hal itu.


Bagas terbahak, dia menggeleng menolak tuduhan Kelana. Telunjuknya bahkan dia angkat ke atas dan digoyangkan ke kiri kanan tepat di depan muka Kelana.


“No … no … no, bukan aku yang melakukannya, tapi pria ini.” Bagas menunjuk hidungnya lalu tertawa, terang saja satu tamparan mendarat lagi dari Kelana.


“Kenapa kamu menampariku sejak tadi Ha? brengsek!” Bagas menunjuk-nunjuk muka Kelana, tapi setelah itu tertawa-tawa sendiri lagi.


“Untuk apa kamu melakukan itu, kurang ajar!”


Satu tamparan mendarat lagi di muka Bagas, dada Kelana rasanya sudah ingin meledak, tapi dia terus berusaha sekuat tenaga menahan. Amarahnya pun agak mereda, saat mengingat ucapan Hana untuk tidak memukuli Bagas. Kelana memejamkan mata sejenak, agak pusing juga kepalanya karena efek alkohol yang dia minum.

__ADS_1


“Sekarang katakan padaku! kenapa kamu dulu membunuh bayinya? Kenapa kamu membuat dia sampai keguguran?”


“Karena aku tidak mau memiliki anak dari wanita gendut, jelek dan tidak bisa merawat diri, tapi sekarang aku sedikit menyesal. Apa kamu mau tukar tambah istri?” Bagas mendongak, dia benar-benar sudah tidak menyadari kalimat apa yang lolos dari mulutnya.


“Sialan!” Satu tamparan Kelana berikan lagi, dia semakin mencengkeram erat kerah baju Bagas dan nyaris mencekik pria itu. “Aku tidak akan sudi menukar Hanaku dengan istrimu yang sama gila dan jahatnya denganmu.”


Bagas malah terkekeh, pundaknya bahkan bergetar-getar karena lama-kelamaan dia tertawa terbahak-bahak. Pria yang benar-benar berada di bawah pengaruh alkohol pun meracau lagi, “Hana itu memang memiliki kandungan yang lemah, jika kandungannya kuat tidak mungkin hanya karena ditendangi preman dia keguguran.”


Kelana semakin geram, dia akhirnya melayangkan tinju ke muka Bagas dan membuat hidung pria itu sampai mengeluarkan darah.


“Kamu memang pria keji!”


_


_

__ADS_1


_


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2