
Memakai bajunya kembali, Bagas bak harimau yang baru saja menikmati mangsa. Bunga hanya bisa beringsut, merapikan rambut dan menyambar panties-nya yang teronggok di lantai. Hatinya semakin hancur karena Bagas tanpa berkata apa pun buru-buru kembali memakai celana dan malah meninggalkannya pergi begitu saja.
“Bahkan pelacuur pun dibayar setelah melakukan ini,” gerutu Bunga. Ia kesal bahkan melempar bantal sofa, tapi tak disangka suaminya kembali masuk ke dalam dan menatapnya dengan sorot menyelidik.
Bunga takut saat Bagas mendekat, ternyata pria itu hanya mengambil ponselnya yang terjatuh di dekat kaki meja. Bagas pun mondar-mandir bak setrikaan. Efek obat yang diberikan sang istri sepertinya masih berefek. Hingga dengan jelas Bunga mendengar Bagas menelepon meminta izin ke bawahannya. Pria itu berkata sedang tidak enak badan.
Setelah memutuskan panggilan, Bagas membanting pintu. Mereka yang memang tidak memiliki pembantu atau pun satpam merasa bebas melakukan perbuatan mesum tadi di ruang tamu. Dan kini Bagas ingin mengulanginya lagi. Belum ada sepuluh menit teripangnya menggembung kembali.
“Bunga terima akibat dari perbuatanmu,” ujar Bagas yang tahu bahwa dia sudah dikerjai sang istri.
_
_
_
Karena merasa sangat terlambat untuk pergi bekerja, Kelana dan Hana juga memutuskan untuk absen hari itu. Mereka sedang berendam berhadapan di dalam bath tub dan bercanda. sesekali seduanya saling melempar busa dan mencipratkan air.
“Hari ini apa kamu mau jalan-jalan?” tanya Kelana, dia menghentikan gerakan tangan melempar busa agar Hana juga melakukan hal yang sama. Namun, wanita itu tak langsung menjawab dan malah nampak berpikir.
“Kenapa? bukankah itu terdengar menyenangkan?” Tanya Kelana lagi. Kali ini dia menggeser badan dan langsung menangkap pinggang Hana, mendudukkan wanita itu di atas pahanya dan membelai pipinya lembut.
“Hem … iya, sepertinya menyenangkan, tapi tidakkah kamu berpikir bahwa kamu tidak pernah membahas nenekmu lagi? cucu macam apa dirimu lupa akan neneknya setelah mendapat asetnya.”
Kelana tersenyum, dia sadar selain baik hati Hana juga perhatian. Wanita itu bahkan memikirkan nenek gayung yang terkadang sebagai cucu sendiri Kelana abaikan.
__ADS_1
“Dia bisa bersenang-senang sendiri, dia kaya dan memiliki segalanya,” jawab Kelana santai, meski ekspresi yang dia tunjukkan berkata lain. Hana bisa membaca jelas rasa bersalah di wajah suaminya itu.
“Kamu tahu, sekaya apa pun orang tua dia akan bahagia jika dibelikan sesuatu oleh anaknya, sekaya apa pun orang tua dia akan merasa disayang meski hanya ditanya ‘apa sudah makan?’, terkadang harta tidak bisa menjamin kebahagiaan orang Kelana, kamu mungkin bisa melihat nenek Ayu bersenang-senang, tapi bagaimana kalau ternyata hatinya hampa,” cerocos Hana. Kedewasaannya terpancar jelas di setiap kata yang baru saja dia ucapkan. “Sama halnya dengan mamamu, apa kamu pernah berbicara dari hati ke hati, bertanya apa yang mungkin dia ingin dan apa harapannya padamu,” imbuh Hana.
Kelana membisu, pria seksi itu hanya bisa memindai mata Hana yang mengatakan serentetan kalimat tadi dengan caranya sendiri -tanpa menggurui. Hatinya seketika merasa bersalah, Kelana malah mencurukkan kepala ke dada Hana yang jelas tak berpenutup itu.
“Baik lah hari ini kita pergi ke rumah mama lalu ke rumah nenek gayung,” ucap Kelana.
“Tidak perlu memaksakan diri jika tidak ingin,” goda Hana. Ia peluk kepala Kelana dan menggoyangkan badannya ke kiri dan kanan pelan.
“Tapi kita perang satu ronde dulu.” Kelana menjauhkan kepala lantas menyeringai lebar, Hana yang tak habis pikir pun spontan membenturkan dahinya ke dahi sang suami.
“Aduh!” pekik Kelana, dia lepaskan tangan dari pinggang Hana untuk memegangi jidatnya. “Hana kamu sudah melakukan kekerasa dalam rumah tangga,” ucapnya sambil terus mengaduh.
“Berhenti bersikap berlebihan Kelana,” Hardik Hana. Ia bangun dan hendak menyambar handuk, tapi secepat kilat Kelana menariknya hingga masuk ke dalam air lagi.
_
_
Sementara itu, Ayu kedatangan tamu seorang wanita sumuran putrinya. Wanita itu sibuk memutar kepala melihat setiap sudut dan isi di dalam rumah mewahnya. Tantri sengaja datang menemui Ayu karena ingin meminta sesuatu. Seperti kata orang diberi ati minta ampela, ibunda Bunga itu datang untuk meminta sesuatu ke Ayu.
“Silahkan tunggu dulu di sini,” ucap pembantu rumah Ayu. Tantri pun duduk dan belum juga si pembantu menawarinya minum, dia sudah memintanya lebih dulu.
“Buatkan aku jus melon saja, jangan lupa melon-nya yang impor, kalau bisa seperti yang dibeli mba Sista Kol, melon yang diberi pita dan stiker juga dikardus, yang harganya lima juta cek itu lho,” ucap Tantri.
__ADS_1
Pembantu itu pun mengangguk sebelum memutar tumit lalu menggerutu karena bingung atas permintaan Tantri. Saat berpapasan dengan pembantu lainnya, dia memintanya untuk memberi tahu Ayu bahwa ada tamu.
Ayu sendiri ternyata sedang diperiksa oleh Amanda di kamar. Wanita tua itu memang sudah biasa melakukan pemeriksaan rutin dengan dokter yang merupakan mantan pacar Kelana itu.
“Kamu pasti menyesal karena sudah menduakan Kelana dulu,” sindir Ayu.
Ini jelas bukan kali pertama Amanda mendapat lemparan pertanyaan seperti itu, tapi untuk berhenti menjadi dokter pribadi Ayu pun Amanda enggan, pasalnya Ayu terlalu tajir. Gaji menjadi dokter pribadi wanita tua itu sama dengan lima kali gaji menjadi dokter pribadi pasien lain, jelas Amanda yang memang tidak begitu kaya tak ingin kehilangan pekerjaan ini.
“Saya sudah tidak memikirkan masa lalu,” jawab Amanda.
“Tapi kamu masih masih berharap Kelana bisa kembali padamu, apa aku salah?” tembakan pertanyaan dari Ayu membuat Amanda tak bisa berkutik. Wanita itu hanya memulas sedikit senyum lantas memilih membereskan peralatannya.
“Tidak Anda tidak salah, sekarang saya tanya, siapa wanita yang tidak ingin bersanding dengan cucu Anda?”
“Hana,” jawab Ayu dengan entengnya. Wanita tua itu sukses membuat Amanda terkejut sampai mematung di posisinya.
Mungkinkah Ayu mengetahui sesuatu?
_
_
_
(Efek petir menyambar-nyambar dan musik wakanda pun berdendang tong dudu blek blek dudu tong …. )
__ADS_1
Bersambung …
itu yang cetak miring pikirannya Markonah ya