Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Extra Part 5 : Kasihan Betina


__ADS_3

Kelana seolah termakan kesombongannya sendiri saat melihat mahkluk yang sudah hampir punah itu berjalan mendekati pantai.


Ya, itu memang seekor penyu. Mahkluk yang sudah hampir punah itu menggali pasir pantai dan nampak diam beberapa waktu.


“Apa dia menangis?” tanya Kelana dengan cara berbisik.


Meski secara ilmiah bisa dijelaskan bahwa air yang dikeluarkan dari mata hewan adalah satu bentuk respon fisiologis dari udara bahkan debu, tapi kesempatan itu dimanfaatkan Hana untuk membuat hati Kelana agar lembek seperti jelly.


“Ya dia menangis, melahirkan itu sakit apa lagi setelah itu dia harus kembali ke laut dan meninggalkan telur-telurnya, dia bahkan tidak bisa melihat anak-anaknya keluar dari cangkang,” ujar Hana.


“Sialan! siapa jantan yang berani menghamili penyu betina itu? di mana tanggungjawabnya, mokondo!” amuk Kelana yang terbawa suasana. Karena ucapannya Rafli pun menoleh dan mereka terlibat adu tatap mata lalu salah tingkah.


“Betina itu tidak tahu siapa jantan yang menghamili, jadi bagaimana mau minta tanggung jawab,” sambar Lucky.


“Apa? bagaimana bisa? ah … iya dia hewan, tapi meski begitu seharusnya dia tahu mana pejantannya. Ingat kucing oren milikmu waktu kecil sebelum hilang?” tanya Kelana ke Rafli. Suami Hana itu membangunkan kenangan sedih Rafli kehilangan kucing berwarna oranye miliknya.


“Hem … sepertinya dia hilang karena sibuk mencari pejantan yang menghamilinya,” imbuh Rafli.

__ADS_1


Lucky dan Hana pun melongo mendengar permbicaraan aneh itu, sampai Lucky bercerita bahwa satu penyu betina biasanya dikawini oleh sepuluh jantan, jadi bagaimana bisa menentukan siapa yang menghamili.


“Astaga, apa di laut sana ada ramuan mak war?” cicit Kelana yang langsung disenggol oleh Hana.


Lucky pun bingung sementara Rafli sekuat tenaga menahan tawa. Ia tahu ramuan apa yang disebutkan sepupunya tadi, Rita bahkan sering menggunakannya tapi berhenti saat hamil sama seperti Hana.


“Ramuan apa?”


“Ah … tidak apa-apa!” Hana dan Rafli kompak menjawab pertanyaan dari Lucky. Mereka tidak ingin rahasia perduapuluh satuannya menjadi gosip di pulau indah itu.


“Oh … ramuan ibu perang? Kami malah membuatnya sendiri di sini,” kata Lucky dengan santai.


***


Pagi harinya, semua orang bangun terlambat. Selain karena melihat penyu sampai malam, rasa lelah karena sisa perjalanan pun membuat mereka memilih untuk tidur lebih lama dari biasanya. Kelana membuka jendela pondok, ia merentangkan tangan hingga otot punggungnya terekspos dengan sempurna.


Hana yang silau karena sinar matahari yang masuk dibuat tersenyum mendapati pemandangan seksi saat dia bangun. Wanita itu menggeliat, lalu memaggil prianya dengan suara serak dan lengket.

__ADS_1


“Sayang! mau peluk!” Hana menggeliat kecil, dia merentangkan tangan saat Kelana menoleh.


Pria itu kembali merebah di samping Hana lalu memeluk tubuh istrinya. Mereka benar-benar sudah menemukan kebahagiaan dan hanya menunggu puncaknya saat buah hati mereka lahir nanti.


“Sepulang dari sini kita ke dokter lagi ya? bukankah kemarin dokter bilang sudah bisa melihat dia laki-laki atau perempuan?” bisik Kelana mesra. Ia belai rambut Hana dan menciuminya dengan penuh kasih sayang.


“Kamu ingin anak laki-laki atau perempuan? Kita belum pernah membicarakan ini,” kata Hana.


“Aku kira kamu memang tidak ingin membahasnya, karena aku pikir mau laki-laki atau perempuan dia tetap anak kita.”


_


_


_


 

__ADS_1


ada 3 bab ya geng


__ADS_2