Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 119 : Membayangkan


__ADS_3

“A-a-apa yang terjadi pada Kelana?”


Dinar yang menerima telepon dari Hana pagi itu dibuat kalang kabut. Padahal, di waktu yang bersamaan, putra dan menantunya itu sedang santai duduk bersebelahan di tepi ranjang. Mereka sudah berniat tidak berangkat bekerja pagi itu untuk mengerjai sang mama. Lagi pula tes wawancara sekretaris Kelana akan dilakukan lusa, untuk hari ini baru akan diumumkan siapa saja kandidat yang akan lolos ke tahap selanjutnya.


Semalam mereka akhirnya tidur dengan nyenyak setelah perselisihan yang terjadi. Mood Hana sudah berantakan, bercinta pun pasti setengah hati dan jelas itu tidak akan nikmat sama sekali. Meski Kelana menawarinya seperti orangtua yang membujuk anaknya yang sedang marah, dengan segala jurus. Namun, Hana tetap berkata ‘nehi’ yang wanita itu artikan ‘tidak’.


“Dia demam dan menggigil, Ma. Sejak pulang dari dokter dia terus saja melakukan 'itu' dan gagal,” ucap Hana dengan nada suara memelas, sudah bisa dipastikan apa yang dia ucapkan atas perintaj Kelana.


“Melakukan apa Hana? Ha? bicara yang jelas. Mama kalau panik itu ngeblank lho.”


Dinar mulai naik darah, tapi malah membuat Kelana senang. Pria itu mengangguk-angguk sambil mengacungkan ibu jari ke Hana.


“Memasukkan bibit manusianya ke dalam tabung untuk diperiksa, Kelana gagal terus. Dia melakukannya lagi dan lagi, putra mama itu seharian berdiam diri di dalam kamar mandi setelah pulang menemui dokter, akhirnya sakit, demam dan nyaris pingsan.”


Hana memandang Kelana dengan sorot mata dan sudut bibir yang mencibir. Pokoknya dosa ditanggung Kelana, dia tidak mau ikut menanggungnya.

__ADS_1


“Apa?”


Dinar semakin tak bisa berpikir, dia malah membayangkan seekor gajah yang sedang berusaha memasukkan air ke dalam botol dengan belalai dan gagal. Gajah itu frustrasi dan berguling-guling di tanah.


“Kasihan sekali putraku,” ujar Dinar. Terdengar sangat menyayangkan kejadian ini, hingga dia pun berjanji akan datang ke apartemen untuk menjenguk putranya.


Hana mematikan ponsel. Ia bahkan harus menepuk telapak tangan Kelana yang sudah terarah di depan wajahnya. Pria itu memintanya melakukan ‘tos’ setelah dirasa berhasil membuat sang Mama khawatir. Harapannya, Dinar tidak akan lagi memaksanya untuk pergi ke dokter atau memburu Hana agar cepat hamil.


“Sudah aku mau mandi, mengantisipasi jika mama ke sini.” Hana berdiri setelah meletakkan ponselnya ke kasur. Ia menyatukan rambutnya hingga leher bagian belakangnya terkekspos.


“Ahh … “ Hana mendesah, dia merasakan gelenyar geli yang merayap hingga ke sekujur tubuh. “Hentikan! Aku mau mandi,” katanya sambil menggoyangkan lengan agar Kelana mau melepaskan.


“Tidak bisa berhenti, aku mau ikut mandi juga,” bisik Kelana.


Hana pun tersenyum mesum, dia tahu apa yang ingin dilakukan sang suami, hingga semakin melebarkan tawa saat Kelana mendahuluinya masuk ke dalam kamar mandi dan menghidupkan air untuk mengisi bath up.

__ADS_1


“Aku sedang tidak ingin berendam, aku ingin mandi cepat Sayang,” teriak Hana. Ia sengaja melakukannya untuk mengerjai Kelana.


“Tapi aku ingin mandi lama, aku ingin berendam,” jawab pria itu dari dalam. “Bersamamu,” imbuhnya sambil keluar dari dalam kamar mandi.


Hana membeliakkan mata lebar-lebar karena suaminya itu sudah melepas semua pakaian. “Astaga Kelana apa yang kamu lakukan?” tanyanya heran. Wajahnya bahkan berubah merah seperti tomat matang.


“Mandi, apa lagi?” Kelana menarik tangan Hana masuk, dan jelas mereka tidak hanya sekadar mandi di dalam sana.


_


_


_


Scroll ke bawah 👇

__ADS_1


__ADS_2