Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 181 : Mengakui Dengan Malu


__ADS_3

“Mama coba jelaskan pelan-pelan! Apa maksud Mama, main anggar apa?” Hana kikuk bertanya seperti itu. Aneh, dia sampai melirik Kelana yang masih membuang muka menghadap ke arah kiri.


“Rudi bilang kamu datang meminta bantuan dengan membawa bukti rekaman berisi pengakuan mantan suami Hana, tapi karena kalian sama-sama mabuk, kalian main anggar sampai mendesaah desaah seperti … seperti…” Dinar tak kuat untuk menjelaskan.


“Astaga!” Hana mengelus dada, dia syok begitu juga dengan Kelana, alis matanya seketika mengkerut dan matanya yang masih ngantuk itu terlihat makin menyipit.


“Aku? dan si kampret itu?” tangan Kelana sudah terangkat dengan telunjuk yang mengacung sembarangan. “Mana mungkin Ma?”


Hana menunduk, begitu juga dengan Kelana yang memijat kening karena bingung dengan kejadian pagi-pagi yang menguras emosi ini, hingga pria itu menyadari sesuatu bertepatan dengan Hana yang juga menyadarinya.


“Tidak mungkin!” teriak mereka bersamaan.


“Apa itu suara kita?”


“Hah … apa recorder yang aku lempar ternyata kepencet dan menyala?”


Keduanya seketika menyadari kemungkinan kesalahan yang dilakukan, hingga Hana bingung menjelaskan ke Dinar dan hanya bisa mengusap lembut lengan mertuanya itu berulang.

__ADS_1


“Rudi terlalu geli untuk mendengarnya, bahkan staffnya sampai demam setelah malamnya mendengar rekaman itu, Kelana kamu benar-benar keterlaluan.” Dinar masih saja menganggap putra tunggalnya memiliki orientasi menyimpang. Kini wanita itu memegang keduan lengan Hana, dengan mata yang basah Dinar seolah memohon agar Hana bisa menyembuhkan kelainan Kelana.


“Mama, itu suaraku dan Hana, sial!”


Kelana mengakui dengan menahan rasa malu, sedangkan Dinar yang masih memandangi wajah sang menantu tiba-tiba saja terkejut, sorot matanya meminta jawaban dari wanita yang tersenyum canggung di depannya.


“Be-be-benarkah itu Hana?”


“Ya, sepertinya iya Ma,” jawab Hana tak kalah malu. Bagaimana tidak malu jika ternyata keduanya merekam bunyi-bunyi erotis acara hohohehe mereka, meski tanpa sengaja.


“Sepertinya ini semua salahku, aku terlalu bersemangat memberikan rekaman itu tanpa mengeceknya dulu, aku juga tidak menjelaskan di mana lokasi aku mengambil rekaman itu. Pak Rudi pasti salah paham, dia pikir mungkin aku di klub malam berdua dengan si kempret itu, padahal kami berada di private room sebuah hotel dan Hana juga berada di hotel yang sama,” ucap Kelana. Ia menjelaskan kesalahpahaman ini, wajahnya sudah semerah tomat karena malu.


“Bagaimana membedakan jika suaramu memang mendominasi,” kata Hana. Ia membekap mulutnya karena sadar keceplosan. Dinar sampai ikutan malu dengan tingkah anak dan mantunya.


“Ja-ja-jadi itu suara kalian, jadi Kelana mancing mania bukan main anggar?” tanya Dinar dengan kondisi masih sedikit sesenggukan.


“Iya, itu suaraku dan Hana, puas Mama!” Kelana membentak lagi, dia masih emosi dan kembali membuang muka, tak lama pria itu menendang selimut lantas masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintu.

__ADS_1


“Hana … Mama salah ya, dia sepertinya marah. Apa yang harus Mama lakukan?” kini Dinar cemas, dia memegang tangan sang menantu untuk meminta bantuan.


“Ma, sebaiknya minta maaf ke suamiku, karena apa yang Mama tuduhkan benar-benar melukai harga dirinya. Anak Mama itu pria tulen Ma, terlebih …. “ Hana menjeda kata. Ia memilih berbisik ke telinga sang mertua. “Aku sudah melakukan uji kehamilan dan hasilnya garis dua.”


“Apa?” Saking terkejutnya Dinar berteriak dengan suara lantang. Ia lagi-lagi membuat Kelana yang baru saja nongkrong sampai terjingkat kaget.


“Mama apa lagi sih?” teriak pria itu frustrasi.


Hana meletakkan jari telunjuk ke mulut, menyadari itu Dinar pun mengatupkan bibir dan mengangguk. Lisannya mungkin saja tak bersuara, tapi sorot matanya kembali berkaca-kaca, dia bahagia mendengar kabar itu dari Hana.


“Tolong Mama rahasiakan dulu! aku akan memberitahu suamiku nanti, aku ingin memberinya kejutan,” kata Hana dengan berbisik.


“Pasti, pasti akan Mama lakukan, tapi kamu harus membantu Mama untuk membuat Kelana tidak marah lagi, Mama takut Hana!” wajah memelas Dinar tunjukkan, tak biasanya wanita ini begitu takut ke sang anak, mungkin karena dia sudah membuat kesalahan dengan menuduh putranya ‘jeruk minum keruk’.


_


_

__ADS_1


_


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2