
“Hunny … ayo lah, dikit aja! boleh ya! aku colek saja!”
“Tidak! aku bilang tidak ya tidak! tidak mau!” balas Hana, dia beringsut menjauh.
“Ayolah, tidak akan sampai dalam, colek dikit saja,” bujuk Kelana.
“Tidak mau ya tidak mau!”
Hana gemas, dipukulnya punggung tangan Kelana yang ingin mencolek cokelat miliknya. Mereka baru saja selesai berbelanja dan siapa sangka makanan biskuit polos dicolek cokelat bermerek nyaknyak yang Hana beli membuat Kelana ketagihan. Pria itu menghabiskan pasta cokelatnya sedangkan biskuit polosnya masih tersisa beberapa.
“Pelit,” gerutu Kelana. Ia letakkan sisa biskuitnya dan memandangi Hana, sudah dua hari ini wanita itu berubah. Tidak mau melakukan peperangan seperti biasa. Kelana merasa mungkinkah ada yang salah, dia sampai merenung setiap mandi belakangan ini.
“Ada apa? kamu bilang tadi tidak suka, kalau kamu suka kita seharusnya beli banyak tadi,” ujar Hana sambil menggigit biskuit dan membiarkannya menggantung di mulut. Tatapan matanya tertuju pada seseorang yang juga sedang berbelanja di supermarket itu.
Bunga. Ya, Bunga. Wanita itu terlihat bersama Tantri sedang mengantri di kasir. Hana pun meletakkan snack kesukaan kebanyakan bocah ke meja, Hana dan Kelana sedang duduk di sebuah kedai es krim tepat di depan pintu supermarket itu. Hana menenggak air mineral di botol dan masih menatap tajam sang saudara tiri. Palu pengadilan belum diketuk, tentu saja Tantri masih resmi menjadi ibu tirinya.
__ADS_1
“Apa yang kamu lihat?” tanya Kelana yang sudah menyambar jajanan milik Hana. “Hunny, aku sepertinya akan membuat pabrik cokelat setelah ini,” ujarnya.
Karena tidak mendapat respon dari Hana, Kelana pun menoleh, dia mencari tahu ke mana arah tatapan mata sang istri. “Mau menyapa?” tanya pria itu kemudian.
“Untuk apa? biarkan saja, Papa bilang mamanya Bunga menuntut harta gono-gini. Dasar lintah! Seperti tidak puas sudah menjadi benalu Papa selama ini, ingin berpisah pun dia tetap mencari keuntungan.”
“Sabar! Pak Rudi akan membantu prosesnya jadi kamu tidak perlu khawatir, semua pasti akan baik-baik saja, lagi pula apa harta yang papa punya setelah menikah dengan ibunya Bunga? tidak ada ‘kan?” Kelana menganggukkan kepala, dia yakin tidak ada yang perlu dicemaskan karena Rudi Tabuti pasti akan membantu sebaik mungkin.
Rencana Bunga yang mengompori Tantri untuk menuntut harta gono-gini membuat Bagas sedikit lega. Apa lagi, Bunga menjamin bahwa biaya hidup Tantri akan dia tanggung sendiri. Bagas pun sudah tidak perlu dipanggilkan kyai, dia tidak perlu dirukiyah karena sudah kembali seperti sedia kala.
“Ah … iya, ini kan waktu gajian, Ma. Dia pasti sedang belanja bulanan, tentu saja kita akan bertemu dengannya di sini,” jawab Bunga malas. Ia sebenarnya malu kepada Hana, karena wanita itu baru saja mengembalikan uang DP rumah sakit yang seharusnya tidak diminta lagi.
Namun, atas perintah sang suami, Bunga pun menebalkan muka dan menagih lagi, Bahkan, dia sempat terkena sindiran yang menusuk dari Hana, kakak tirinya itu berkata jika masih ada pengeluaran papanya yang dirasa menguras uang Bagas dan dirinya, maka dengan senang hati Hana akan mengganti, meskipun itu berbunga.
“Aku akan mengganti uang yang sudah kamu keluarkan plus bunganya jika memang masih ada, bukankah kamu akan semakin berbunga-bunga mendapatkan uang berkali-kali lipat?”
__ADS_1
Bunga membuang muka, dia benar-benar merasa derajatnya jauh di bawah Hana mengingat ucapan kakak tirinya itu.
Selesai berbelanja, mereka pun menuju parkiran hampir bersamaan. Kelana yang selesai meletakkan belanjaan di bagasi ingin mengembalikan kereta belanja tapi Hana mencegahnya. Wanita itu tersenyum dan meraihnya. Hana mendorong kereta belanja itu ke tempatnya. Namun, dia berpapasan dengan Tantri dan Bunga.
Tak ingin banyak bicara, Hana pun memilih langsung pergi, tapi entah setan apa yang berbisik ke telinga Tantri, wanita itu dengan sengaja mendorong Hana sampai jatuh ke dapan.
"Woi!"
_
_
_
Aku Up satu-satu soalnya review lama 🤭
__ADS_1