Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 204 : Curang


__ADS_3

“Kamu bahagia?”


“Tentu saja!”


Hana berdiri di depan kaca jendela apartemen di kamar mereka dengan Kelana yang memeluknya erat dari belakang. Pria itu mencium pipi lalu leher Hana sampai wanita itu mendesis dan memejamkan mata.


“Sayang!” panggil Hana.


“Hem … aku tahu, aku tidak akan memintamu berperang, tenang saja!” Kelana menggigit cuping telinga Hana lembut, dia bahkan menggelitik dengan lidahnya meski hanya sebentar karena Hana langsung menghindar.


“Sayang jangan menggodaku! Aku tahu apa yang kamu inginkan.” Hana menjauh, dia tuding Kelana sambil berjalan mundur. “Aku mau cuci muka, gosok gigi dan tidur.”


“Hunny, tidak bisa! kamu sudah berjanji akan memberikanku pelayanan dua satu plus.”


Hana tertawa, dia sengaja membuat Kelana gemas sampai menyusulnya masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu menggelayutinya lagi, mencium belakang kepalanya bertubi-tubi agar bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


“Kita lakukan tapi pelan-pelan.” Hana menantang, dia berbicara sambil sibuk menggosok gigi. Hana ingin tahu apakah sang suami berani dan mengabaikan kecemasannya atas bayi yang masih berbentuk segumpal biji di dalam rahimnya.

__ADS_1


Berhasil. Kelana terbeku dan nampak berpikir. Dua menit kemudian dia bergerak hanya untuk berdiri tepat di sebelah Hana dan ikut menggosok gigi.


“Bagaimana?”


“Tidak lah, aku tidak mau menyakiti dia, setidaknya sampai aku mendengar sendiri penjelasan dokter dan tahu dia sehat dan baik-baik saja,” jawab Kelana.


Hana kagum, dia menyandarkan kepala ke lengan Kelana dengan perasaan bahagia, mereka bertukar tatapan penuh cinta dari pantulan kaca wastafel kamar mandi.


“Tenang saja aku akan tetap memberimu pelayanan, kamu pikir untuk apa aku menggosok gigi, agar rudalmu tidak kepedasan.”


_


_


“Keluarkan Ma!” pinta Rafli sesaat setelah menutup pintu.


Tata melakukan apa yang putranya minta, dia menyodorkan kertas perjanjian Hana dan Kelana yang sudah bertambal sana-sini. Rafli tersenyum sinis, mulutnya semakin lama semakin lebar saat membaca setiap kalimat yang terangkai di sana.

__ADS_1


“Dia memang licik, dia mendapatkan pabrik gula nenek dengan cara yang curang, ini tidak bisa dibiarkan,” kata Rafli.


“Mama pikir juga begitu, tapi kamu tahu sendiri Hana sudah hamil. Dengan Hana hamil artinya mereka mungkin sudah benar-benar saling cinta. Awalnya Mama juga berpikir kenapa kertas perjanjian ini sobek-sobek, mungkin Kelana sudah mengakhiri perjanjian itu. Tadinya Mama ingin mengolok-olok Dinar dengan ini.”


Rafli mencoba mencerna ucapan Tata, hingga sebuah kesimpulan mendarat dengan apik di kepalanya. “Apa benar Hana hamil? bagaimana jika diam-diam tanpa kita tahu nenek menawarkan sesuatu juga sebagai hadiah?”


Mulut Tata menganga tak percaya, dia mengangguk dan bahkan memukul berulang lengan putranya. “benar! Kenapa aku tidak berpikir sampai situ. Bisa saja Hana hamilnya bohongan.”


“Dan bisa saja surat ini sengaja dilenyapkan agar tidak ada barang bukti persekongkolan mereka.”


Tata mengangguk mengiyakan semua tebakan putranya, dia tidak berpikir sampai sejauh itu. Tata mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk, dia berpikir keras mencari cara agar keponakannya yang dia anggap sombong itu ketahuan berbohong.


“Ma, aku akan menggunakan surat ini agar pabrik gula nenek bisa aku ambil alih dari Kelana, atau setidaknya dibagi dua.”


_


_

__ADS_1


_


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2