
Dengan cepat tanpa berpikir panjang, Bagas bangkit dari kursinya. Ia membuat semua staff bagian HRD yang sedang berghibah seketika diam. Tangan pria itu menyambar sembarangan satu berkas yang ada di salah satu meja staff.
“Ada apa dengan Pak Bagas?”
“Entahlah.”
“Apa yang dia sambar dari mejamu tadi?”
“Astaga, buku catatan arisan,” jawab staff itu kebingungan. Ia ingin mengejar sang manager tapi rasanya takut melihat aura muka pria itu yang nampak seperti menahan murka tadi.
Bagas menekan lift menuju lantai di mana ruangan Kelana berada, dia jelas sedang dilingkupi rasa cemburu yang menggebu. Bahkan sampai menolak staff lain yang ingin masuk ke dalam lift bersamanya.
“Hana, tidak akan aku biarkan kamu bahagia bersama Pak Kelana, kamu milikku,” gumam Bagas. Panas hatinya mendengar desaahan-desaahan erotis meski ternyata tak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Namun, apa tadi? pompa memompa, artinya Hana sudah melakukan itu dengan Kelana.
“Dia bilang hanya akan menguras harta pria itu, tapi apa? dia juga menguras tenaganya di atas ranjang,” ucap Bagas.
__ADS_1
Pintu lift terbuka, Kelana dan Hana pun seketika menoleh ke arah sana. Hana yang sudah turun dari atas meja kini berdiri bersisian dengan suami sekaligus atasannya. Keningnya mengernyit melihat Bagas berjalan dengan langkah lebar menuju ke arah mereka.
“Selamat pagi Pak,” sapa pria itu dengan nada sopan.
Kelana pun mengangguk, dia pindai penampilan Bagas dan bertanya untuk apa manager HRD perusahaannya itu datang ke ruangannya pagi-pagi. “Apa mau membahas masalah sekretaris lagi? apa perlu sampai harus dibicarakan denganku? kamu malah membuatku berpikir bahwa kamu tidak begitu kompeten. Hal seperti ini saja kamu terus menggangguku,” sindir Kelana.
Bagas kicep, sedangkan Hana memalingkan muka karena hampir saja tertawa. Kelana pun berjalan masuk ke dalam ruangannya, dia meninggalkan Bagas dan Hana tanpa berkata apa-apa lagi. Pria itu menduga bahwa Bagas hanya ingin melihat Hana, meski dia sedikit kesal tapi Kelana tidak ingin menunjukkan hal itu secara gamblang. Toh Kelana yakin hati Hana sudah tertambat padanya.
Namun, ternyata tak sanggup juga. Kelana kembali keluar dan meminta Bagas masuk ke dalam ruangannya. Mata pria itu bahkan menyipit melihat tingkah Bagas yang memandangi wajah istrinya.
Tanpa mengalihkan pandangan ke Hana, Bagas pun mengayunkan langkah ke dalam. Ia lantas duduk di depan Kelana dan menjelaskan bahwa dia sudah membuat beberapa kriteria sekretaris yang sudah disesuaikan dengan catatan Hana.
Bagas pun membuka berkas yang ada di tangan, berkas yang tadi dia ambil secara sembarangan dari meja kerja salah satu staffnya tadi. Ia seketika menelan saliva setelah menyadari kebodohannya sendiri. Pria itu mengumpat dalam hati saat melihat berkas yang dia bawa ternyata berisi daftar nama-nama staffnya dan beberapa kolom-kolom yang sudah terisi maupun belum. Tertulis jelas di atasnya ‘Arisan bulanan sejahtera sentosa’.
Kelana yang melihat ekspresi Bagas yang berubah pun menyadari sepertinya ada yang salah. Senyum jahilnya pun terbit, dia sampai menjulurkan kepala untuk melihat berkas di tangan Bagas. Menyadari hal itu, Bagas dengan sigap menutup dan menggenggamnya erat.
__ADS_1
“Saya sudah hafal kriterianya Pak, tapi ada satu yang saya rasa perlu dihapus, siapa pun boleh melamar menjadi sekretaris Anda, mau itu saudara, sepupu atau bahkan kakak Anda sekalipun,” ujar Bagas.
Kelana tersenyum miring, dia pun menegakkan badan dan menatap Bagas dengan sorot tajam. “Jika seperti itu, kenapa repot-repot cari sekretaris baru? Biarkan saja Hana terus menjadi sekretarisku, itu lebih efisien bukan? atau sebenarnya kamu ada niat lain, Pak Bagas?”
“Apa?”
_
_
_
_
scroll ke bawah 👇
__ADS_1