Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 221 : Baby Bean


__ADS_3

Hana menahan tawa, tapi dia memang sedikit ingin memberi pelajaran ke Kelana. Bisa-bisanya sudah berjanji akan bersikap tenang tapi malah ikut membuat kekacauan di rumah Rafli. Hana sengaja terus memejamkan mata hingga masuk ke dalam UGD. Ia menjauhkan kelopak mata dan tersenyum pada dokter yang sudah hampir menyorot matanya dengan senter kecil di tangan.


“Anda sudah sadar, apa bisa Anda sebutkan nama Anda?”


“Hana.”


Putri tunggal Arman itu tersenyum, dari pada menahan malu karena ketahuan bohong. Hana akhirnya pasrah saja saat dokter dan perawat memeriksanya. Bahkan dia juga di bawa ke poli kandungan untuk USG karena sang suami memberitahu bahwa dia sedang mengandung.


Saat di dorong keluar UGD menuju menuju poli kandungan menggunakan brankar, Hana kembali menutup mata rapat-rapat. Tingkahnya membuat perawat dan dokter yang menanganinya heran. Mereka sampai bingung sedangkan Kelana sungguh emosional, pria itu bahkan meratap bak Hana sedang dalam kondisi sekarat.


“Pak! tenang, istri Anda sudah siuman.” Dokter akhirnya memilih menahan Kelana. Dan pria itu tentu saja tidak dengan mudah menerima.


“Siuman apa? apa dokter tidak lihat matanya masih terpejam? Dia kelihatan sangat lemah.”


Dokter geleng-geleng, pada akhirnya dia berucap. “Pak, saya tidak tahu apa yang ada di pikiran istri Anda, tapi saya berani berkata ibu Hana dalam kondisi baik-baik saja, kami akan membawanya ke poli kandungan untuk memeriksa janinnya. Harap tenang ya Pak!”


Dokter itu sampai mengangkat ke dua telapak tangan ke depan dada agar Kelana mau kembali ke tempat duduknya dan tenang.


“Dia tadi membuka mata, tapi melihat Anda seketika memejam lagi, jika ada masalah mohon diselesaikan dengan baik ya, Pak!"


Saran dokter membuat Kelana mematung. Ia terdiam dan hanya bisa memandangi brankar yang membawa Hana hilang dari pandangan matanya

__ADS_1


***


Beberapa menit kemudian, Kelana bersungut-sungut, dia cemberut tapi tidak bisa marah karena hari belum berganti dan hari itu masih ulang tahun sang istri.


Hana merasa berdosa? Ya, tentu saja. Ia berbohong dengan berpura-pura pingsan agar huru-hara di rumah Rafli selesai. Hana merasa tidak salah, dia menganggap semua keluarga Ayu memang sangat aneh dan mungkin jika dibiarkan, dia pun akan menjadi salah satunya.


“Berhentilah cemberut padaku sayang! Aku melakukannya karena tidak ingin sampai mama dan kamu digelandang Om Tono ke kantor polisi,” ucap Hana pada akhirnya. Meski masih tidak mau menoleh tapi Kelana nampak sedikit mengendurkan urat wajah. Pria itu membuang muka seolah sedang melihat kendaraan yang ada di belakang.


"Om? memang dia om-mu?" ketus Kelana.


“Papa Sayang, jangan marah ya. Nanti baby bean sedih lho.” Hana memasang muka melas sambil mengusap perut. Ia menyebut calon anaknya bayi kacang polong, karena ukurannya yang masih sangat kecil.


Kelana akhirnya buka suara lagi. Hana yang merasa respon suaminya kali ini jauh lebih baik, memberanikan diri mengusap lengan dan mencium pipi. Dia sengaja merayu Kelana.


“Harusnya baby ebong, karena hasil dari kecebongku yang kuat."


Hana melongo, tapi hanya sesaat karena setelah itu dia membalas ucapan sang suami dengan sedikit sindirian. ”Kenapa tidak sekalian bayi kodok ekuador?”


Kelana terbahak, secara impulsif dia acak-acak rambut Hana. Kelana benar-benar tidak bisa marah ke istrinya. Hana terlalu lucu dan juga manis. Ia takut lama-lama terkena diabetes.


_

__ADS_1


_


Sementara itu, Ayu yang tidak tahu bahwa terjadi pertengkaran antara anak dan cucunya sibuk sendiri. Ia tiduran di atas ranjang dengan earphone yang menempel di telinga. Wanita tua itu sedang curhat ke Arman perihal masalah yang terjadi.


Arman menyayangkan tindakan Kelana dan putrinya. Namun, mau bagaimana? Hana sudah hamil dan itu sudah bisa menjadi bukti valid bahwa keduanya saling mencintai.


“Ya, tapi tetap saja aku kesal. Aku benar-benar akan meminta pabrik gula itu kembali dari Kelana. Aku harus adil ke cucu-cucuku. Kelana mendapat pabrik itu dengan cara curang. Aku harap Rafli tidak melakukan hal yang sama, karena aku sudah memberikan dia saham di sebuah perusahaan perkapalan saat mendengar istrinya hamil,” kata Ayu panjang lebar.


Tak ada seorang pun yang menduga bahwa Arman kini menjadi sahabat Ayu. Dan di saat keduanya masih asik berbincang di telepon, seorang wanita dibuat kesal karena tidak bisa menghubungi pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.


Tantri membanting ponsel ke sofa sampai memantul dan jatuh. Untung saja ke karpet.


“Mama! Mama itu sudah miskin, jangan sok kaya! Kalau ponsel Mama rusak siapa yang akan membelikannya?” cibir Bunga.


_


_


_


ada satu lagi tunggu ya

__ADS_1


__ADS_2