Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 58 : Bekas


__ADS_3

“Sini coba lihat!”


Hana tak percaya begitu saja dengan Kelana. Ia mendekat ke arah meja dan ingin membuka kembali laptop milik pria itu untuk mengecek recent file. Namun, usaha Hana gagal karena Kelana berdiri dan mendorongnya menjauh dengan cara merapatkan badan, hingga mau tak mau Hana pun perlahan berjalan mundur.


Kelana menyeringai, dia menumpukan ke dua tangan di sisi kepala Hana setelah berhasil memojokkan wanita itu ke tembok. Mereka begitu dekat, terlebih Kelana semakin mengikis jarak dengan mendekatkan wajah. Hana pun perlahan memejamkan mata, tapi tak lama matanya membeliak lebar. Ia mendorong dada Kelana menjauh dan berucap-


“Ini masih pagi,”


“Jadi… apa kalau sudah siang boleh?” seringai nakal Kelana membuat dada Hana menjerit-jerit, ada gelitik halus di sana dan membuat pipi Hana menjadi semerah buah cherry.


“Aku wanita normal, tiga tahun lebih aku tidak dibelai laki-laki. So, jangan membuatku melewati batas diri, atau kamu akan menyesal.” Hana menarik dasi Kelana, membetulkan letaknya sebelum matanya menatap mata pria yang sejak tadi terus memindai wajahnya itu.


“Itu yang aku takutkan, tapi jika tidak dipraktekkan mana bisa tahu?” jawab Kelana dengan senyuman nakal, tangannya bahkan sudah membelai pipi Hana dan kembali ingin menyentuhkan bibir mereka. Namun, Hana lagi-lagi memundurkan kepala.


“Kopimu nanti dingin.”


Kelana menaikkan kedua alis mata - heran, dia menoleh cangkir yang diletakkan Hana di atas meja pajangan dan mengambilnya. Hana tersenyum simpul, dia berhasil membuat hati Kelana kebat-kebit, sampai pada akhirnya Hana dibuat bungkam oleh pria itu, mata Hana membeliak lebar saat Kelana yang baru menyesap kopi tiba-tiba saja menyambar bibir. Ia sampai sedikit menelan kopi yang berada di mulut Kelana, sebelum ikut menikmati morning kiss dari suami sekaligus atasannya itu.


***

__ADS_1


Hana keluar dari ruangan Kelana dengan senyum di wajah. Ia berjalan sambil mengusap bibirnya yang masih terasa kebas karena ciuman yang baru saja dilakukannya dengan Kelena. Pria itu benar-benar bisa membuatnya merasakan lagi apa yang orang sebut jatuh cinta, tapi belum juga Hana duduk di kursi kerjanya, kepala Kelana sudah menyembul lagi dari balik pintu.


“Apa? cium lagi?” tanya Hana dengan bibir yang sudah maju dua senti.


Kelana menekuk bibir, mukanya dibuat semanis mungkin dan dia pun menggeleng, kali ini putra Dinar itu meminta berkas yang harus dia periksa.


“Berikan aku catatan dari bagian produksi,” ucap Kelana. Ia membuat gerakan mencium dengan bibir sebelum masuk kembali dan tertawa.


“Hah … coba lihat! berapa umurnya? Kenapa dia bisa semenggemaskan itu?" gumam Hana. Ia pun berdiri setelah menyambar berkas yang baru saja Kelana minta.


Sementara itu, Bagas tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya terus tertuju pada Hana yang menolaknya tadi. Pria itu memijat kening lalu berspekulasi sendiri.


Tingkah aneh Bagas terpantau oleh para staf mereka saling pandang dan mulai bergunjing. Ruangan pria itu dan para stafnya memang hanya dibatasi tembok yang terbuat dari kaca, alhasil dia yang berbicara sendiri di dalam ruangan membuat para staf keheranan.


“Pak Bagas habis dari mana sih? bukannya tadi bilang ke kamar mandi? Apa dia kesambet setan toilet setelah buang air?” tanya salah satu staffnya ke sesama staff yang lain.


“Heh … mana mungkin? Aku malah takut kalau Pak Bagas terkena gejala depresi.”


***

__ADS_1


Bunga merengut di samping Tantri yang sibuk membongkar belanjaan. Wanita yang melahirkannya itu bahkan memperlihatkan kepadanya sebuah parfum limited edition yang baru saja dibeli. Tantri bisa berfoya-foya karena lebihan uang yang diberikan oleh pihak Kelana ke mereka.


Pada awalnya Tantri merencanakan mengadakan acara ngunduh mantu, tapi Hana menolak dan diamini oleh Kelana, menurut mereka tidak perlu ada acara lagi – lelah hayati, apalagi saat memutuskan hal itu mereka belum saling mengungkapkan rasa. Tantri pun bahagia setengah mati, dia tidak perlu susah-susah mengorupsi uang ratusan juta yang diberikan oleh Kelana.


“Apa Mama bahagia? Bagaimana jika nanti Hana meminta uang itu? dari mana mama akan menggantinya?” ketus Bunga.


“Oh … tidak bisa!” jawab Tantri dengan suara yang dibuat-buat sambil membuka sebuah kotak berisi gelang emas yang besarnya seperti borgol polisi lalu memakainya.


“Apa yang sudah diberikan dan masuk kantong Tantri tidak bisa diambil kembali,” imbuhnya.


Bunga melengos, dia kesal bercampur iri karena Tantri sepertinya akan bersikap baik ke Hana, karena kakak tirinya itu menikahi pria kaya, sedangkan dirinya? Hidupnya dan Bagas kini seperti bom waktu yang tidak tahu kapan akan meledak dan meluluhlantahkan semua.


Bunga yang kesal pun berdiri, dia menyambar tas dan berniat pergi, dia harus bertindak, Ia tidak ingin Hana menginjak dirinya dan merusak hubungannya dan Bagas.


“Eh … mau kemana?” tanya Tantri yang keheranan dengan tingkah putrinya. “Ini Mama belikan kamu baju juga pakai uang itu.”


Mata Bunga menyipit, demi apa pun dia tidak sudi menerima barang yang asal usulnya berhubungan dengan Hana.


“Aku tidak sudi menerima barang yang berbau Hana,” ketusnya.

__ADS_1


“Halah … bukankah kamu malah mendapat bekasnya Hana, itu suamimu si Bagas,” ucap Tantri, wanita paruh baya itu keceplosan dan baru sadar setelah mendapatkan pelototan tajam dari sang putri.


__ADS_2