
“Siapa yang membuat buku ini, astaga! aku tidak pernah menjumpai berbagai gaya dari mulai tempe penyet sampai kecoa nungging.”
Bu Dewan memegang buku yang baru saja Hana pamerkan dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan dia gunakan untuk menyuapkan potongan mangga yang sang tuan rumah sajikan. Sejak tadi Hana sudah mengupas lima buah, tapi tak sepotong pun dia makan sendiri. Meski begitu dia senang. Ibu-ibu kompleknya sangat asyik dan informatif. Segala lini kehidupan mereka kuasai dari mulai dapur, fashion, politik sampai urusan plus dua satu.
“Mina, mana Mina? Ini lebih fenomenal dari hard disk tiga tera miliknya,” seloroh Bu Dewan. Ia biarkan saja Bu Erin merampas buku itu untuk ikut menyimak isinya.
“Mina sedang sibuk, bukankah dia bilang akan ada acara di rumahnya. Perayaan apa itu? entahlah.”
“Pe-perayaan apa?” tanya Hana bingung. Ia belum tahu kalau tetangga depan rumahnya itu masih memiliki darah India, dan untuk berbagai acara berbau budaya kadang wanita itu masih merayakannya, bahkan tak jarang Mina membuat pesta dengan nuansa Bollywood.
“Hana kamu harus pesan saree segera, jangan lupa pesankan kurta atau Sherwani untuk si hobi traveling,” ujar Bu Erin.
“Si hobi traveling? Siapa Bu?” tanya Hana bingung.
“Suamimu lah, kan dia suka berkelana.”
__ADS_1
Hana melongo sedangkan ibu-ibu itu sudah tertawa. Bu Erin pun meminta maaf, mereka memang hobi bercanda. Parahnya candaan garing seperti itu saja sudah membuat mereka bahagia.
“Apa aku harus pesan saree yang pusarnya keliahatan?” Hana menonjolkan perut lalu menggoyang-goyangkan pinggul, sontak ibu-ibu itu menggeleng.
“Jangan! tutupi saja nanti kamu masuk angin, suamimu bisa marah nanti kalau kamu pamer aurat."
Hana terbahak, dia mengangguk saja mengiyakan ucapan ibu-ibu itu. Tak lupa Hana mengingatkan bahwa besok ada acara syukuran di rumahnya. Mereka diminta datang bersama dengan suami-suami mereka karena Kelana ingin bertemu.
“Terutama dia sangat ngefans dengan Pak Skala, dia sampai ingin membuat pabrik makanan juga,” ucap Hana sungkan karena sejak tadi Bianca tetangganya hanya diam. Wanita itu sejatinya memikirkan sang putri yang sudah waktunya menikah tapi belum juga mendapatkan jodoh.
“Ah … tenang saja, aku pasti akan mengajak anacondaku datang besok.” Bianca tersenyum lantas menyambar buku di tangan Bu Erin. Hana pun bingung, apa besok dia harus membawa arapaima nenek ayu ke rumahnya agar bisa silaturahmi dengan ular milik tetangganya itu.
“Ma-maaf bukankah ular itu berbahaya? Bukankah dia bisa menelan manusia?”
“Heh … Hana, kalau anaconda yang ini bisa membuat tekdung manusia,” seloroh Bu Dewan di susul gelak tawa semua orang.
__ADS_1
_
_
Suara tawa Kelana menggelegar, pria itu bahkan memegangi perut saat istrinya bercerita tentang bagaimana acara kumpul-kumpulnya dengan geng sultini blok Kamboja. Hana yang sibuk menata pakaian ke koper pun dibuat merengut, dia tidak tahu bahwa dirinya bisa sepolos itu berhadapan dengan para suhu.
“Anaconda, bayangkan! Aku sudah ngeri sendiri,” ucap Hana. Ia tatap sekilas Kelana yang masih tertawa duduk di tepian ranjang.
“Astaga, mereka tetangga yang menyenangkan, aku tidak sabar bertemu dengan suami mereka.” Kelana mencoba menghentikan tawa saat Hana melotot masih dengan ekspresi yang sama.
“Oh … ya Hunny, aku tadi jadi menemui Bagas.”
Perkataan sang suami membuat Hana sejenak menghentikan kegiatannya menata baju. Wanita itu mendongak untuk menyelami wajah Kelana sebelum mengedikkan bahu.
“Aku tidak peduli!”
__ADS_1
“Hem … aku saja kesal, awalnya aku merasa kasihan melihat kondisinya tapi dia ketus padaku. Memang mahkluk seperti Bagas tidak bisa diberi hati.” Kelana menatap tajam Hana.
“Biarkan saja! besok setelah menempati rumah baru, aku ingin membuka lembaran baru juga. Aku ingin mengubur semua masa lalu,” jawab Hana penuh ketegasan.