
Sesaat setelah pintu tertutup, Kelana mengambil sikat dan pasta gigi miliknya juga Hana. Mereka bercermin sambil membersihkan mulut. Hana tak sanggup untuk tidak menahan tawa, dia akhirnya memakai handuknya untuk menutup tubuh bagian bawah suaminya yang terkadang bisa bersikap sangat konyol.
Kelana bingung karena setelah selesai Hana langsung melepas baju dan masuk ke dalam bath up. Wanita itu bahkan mengambil shower dan menggunakannya untuk membasuh wajah,
“Ah … Hunny kenapa langsung masuk?”
Entah apa yang ada di dalam benak Kelana. Pria itu buru-buru melepas handuk dan ikut masuk ke dalam bath up seperti apa yang dilakukan oleh sang istri.
“Aku mau mandi, bukan mau bermain air,” jawab Hana diplomatis seolah tidak tahu bahwa Kelana menginginkan itu. “Cepat mandi, kita bukan anak kecil yang sengaja berlama-lama di kamar mandi untuk bermain.”
“Tapi aku mau bermain, aku mau main jungkat-jungkit denganmu.” Kelana mengedipkan mata genit. Hana sampai merinding dibuatnya. Wanita itu jelas tahu yang dimaksud suaminya itu pasti bukan permainan yang biasa tapi memiliki konotasi lain.
__ADS_1
Hana menggeleng, memilih abai dan masih sibuk membasuh tubuh. Ia bahkan menekuk kaki dan menggosok betis. Namun, jelas apa yang dia lakukan tak bertahan lama. Kelana dengan agresif menangkup pipinya, melumaat bibirnya dalam-dalam dengan tangan menelusup di bawah sana.
Hana tercekat bahkan hanya bisa mengedipkan mata, tak lama dia ingin mendesau tapi tertahan dengan gerakan bibir Kelana yang menguasai bibirnya. Hana semakin tak kuasa, dia mencengkeram pinggang Kelana saat tangan pria itu semakin lincah saja mengaduk-aduk palungnya. Hana akhirnya mendorong dada Kelana menjauh, dia terengah-engah dengan wajah yang sudah berselimut napsu. Sedangkan suaminya tersenyum bahagia sudah bisa membuat dia seperti itu. Kelana bahkan memperlihatkan jemarinya yang basah dan berlendir.
“Kau!” Hana memasang muka kesal, setelahnya dia mendorong tubuh Kelana hingga condong kebelakang. Ia pun naik ke pangkuan pria itu. Tak perlu berbasa-basi, Hana meraih senjata mematikan suaminya yang sudah menantang dan melesatkannya masuk.
Erangan Kelana terdengar begitu jelas, bahkan pria itu memejamkan matanya beberapa detik sebelum membukanya kembali. Ia merasakan rudalnya terhimpit palung marihana di bawah sana. Bunyi kecipak air akibat gerakan Hana pun terdengar erotis. Wanita itu benar-benar bermain jungkat-jungkit seperti apa yang Kelana sebutkan tadi.
Hana benar-benar membuat Kelana tak bisa berkata-kata, wanita itu bahkan tidak memberi jeda dan kini menyambar bibir. Hana menyesap bahkan sampai membelit lidah, kini giliran Kelana yang sampai tak bisa mendesau, dia bahkan menahan napas sebelum balik mendorong sang istri.
Hana menyeringai, Kelana mengungkung tubuhnya di dalam bath up yang sangat sempit sebelum melesatkan miliknya dan mulai menumbuk pelan. Pria itu menikmati sentuhan Jamari lentik Hana yang menggerayangi bagian bawah tubuhnya. Beberapa saat kemudian mulut Kelana menganga karena merasa seperti tersengat aliran listrik. Wanita itu tersenyum setelah memastikan bahwa benar memang ada di sana.
__ADS_1
Sebenarnya ini lah yang Hana tanyakan ke dokter andrologi kemarin, titik sensitive dari seorang pria. Kelana bahkan tak bisa bertahan lebih lama dan memilih menarik tangan Hana agar tidak membuatnya cepat-cepat mengakhiri peperangan ini.
“Kenapa?” tanya Hana dengan suara yang syahdu.
“Aku bisa cepat klimaaks jika kamu terus menyentuhnya,” jawab Kelana.
“Hei … Pak, itu memang yang aku inginkan, mengalahkanmu dalam peperangan air ini.” Jawab Hana dengan seringai nakal. Ia kembali menyentuh bagian itu dan membuat Kelana mengerang.
_
_
__ADS_1
_
Scroll ke bawah 👇