
Keinginan Hana berkedok kehamilan muda bagaikan sabda bagi Kelana. Bukannya pergi ke kantor, pria itu memilih pergi ke rumah Dinar, dia ingin bertanya adakah tambak yang bisa dia beli karena Kelana tahu sang mama memiliki banyak teman sosialita yang suaminya bergerak di berbagai bidang, dari seni, fashion, makanan, dan bahkan perbecekan - sawah dan mungkin tambak.
“Jadi, kamu datang ke sini demi Hana,” cibir Dinar. “Ya, seharusnya aku sudah paham sih, mana mungkin kamu ingat Mama jika tidak ada hubungannya dengan istrimu.”
“Demi cucu Mama, bukankah Mama sekarang sudah bisa menegakkan kepala di depan tante Tata.” Kelana senggol lengan Dinar. Wanita itu pun hanya melirik tanpa tersenyum.
Dinar pun mengenakan kacamata baca, dia meraih ponsel dan mulai bertanya ke teman sosialitanya siapa yang punya tambak yang bisa dibeli seisinya.
Cukup lama Dinar berbalas pesan, Kelana sampai melepas jas dan memilih mengambil minuman di dapur sendiri. Ia merogoh benda pipih di kantong celana saat sebuah notifikasi pesan masuk. Bunga bertanya apakah dia ke kantor atau tidak hari ini.
“Ah … aku sadar erlalu lunak padanya, sekarang aku harus mulai mengeluarkan jurus mengada-ada agar dia pusing,” gumam Kelana.
[Sebentar lagi … otw , buatkan saja aku kopi dan tinggalkan di meja, lalu belikan aku croissant di toko roti yang ada di jalan Paguyuban, lalu berkas di mejaku itu kamu rangkum kembali. Aku ingin rangkumannya tak lebih dari seribu kata. Harus selesai sebelum jam sebelas ]
[ Semuanya Pak? ]
Kelana tertawa karena berhasil membuat Bunga kelabakan. [ ya selesaikan hari ini penilaian terakhirmu, mau aku perpanjang atau tidak kontrak kerjamu?]
“Kelana!” teriakan Dinar mengagetkan sang putra, Kelana pun berjalan mendekat lalu bertanya-
__ADS_1
“Sudah dapat Ma?”
“Adanya cuma kolam untuk perkembangbiakan ikan, kalau yang Hana mau tambak betulan ini ada yang jual di Jawa Timur, tiga setengah miliar nego,” jawab Dinar.
“Heh … masa mau makan ikan tambak saja harus sampai ke sana?” gerutu Kelana.
“Lha … coba tanya pada Hana, dia juga mengada-ada ingin makan apa tadi kamu bilang? tambak-food?” Dinar geleng-geleng kepala,
“Itu lah kenapa aku datang menemui Mama, aku juga pusing memikirkannya, tapi kasihan juga jika keinginannya tidak dituruti.”
Pasangan anak dan mama itu pusing sendiri, padahal Hana tidak menyebutkan secara spesifik ingin makan ikan langsung di tambaknya. Membeli ikan di pasar pun jadi, atau sekadar mengajak istrinya itu makan ikan bakar di resto - yang menyediakan ikan tambak sejenis bandeng atau lele. Orang kaya memang terkadang terlalu overthinking karena banyak uang.
“Aku berjanji memberikan pabrik gula untuk anak pertama kami,” sahut Kelana.
“Astaga, apa besok kita daftarkan anakmu ke rekor Muri? CEO termuda karena dari embrio dan orok saja sudah memiliki dua perusahaan.”
Dinar tertawa, dia sadar semenjak menikahi Hana hubungannya dan sang putra semakin dekat dan hangat. Untuk itu apa pun akan dia lakukan untuk sang menantu. Dinar sangat menyayangi Hana apalagi akhirnya wanita itu bisa membuatnya tetap bisa menyaingi Tata.
_
__ADS_1
_
Sementara itu, Tata menyeringai bahagia. Ia mendapat sesuatu yang berharga dari pembantu Dinar yang ternyata adalah mata-matanya.
Wanita itu baru saja selesai menggabungkan potongan kertas dengan isolasi. Beberapa waktu yang lalu pembantu Dinar yang merupakan tangan kanannya menemukan potongan kertas di tempat sampah kamar Kelana. Merasa di sana ada tanda tangan anak sang majikan, pembantu itu pun memungutinya dan memberikan ke Tata. Hal ini bukan tanpa alasan, Tata berpesan apa pun yang dirasa mencurigakan harus dia laporkan, siapa tahu ada barang yang bisa membuatnya mencibir Dinar.
Dan kali ini Tata seperti mendapat jackpot, dia angkat kertas perjanjian Kelana dan Hana yang sudah selesai dia satukan tadi.
“Ha …ha… ha, Dinar, aku akan mengalahkanmu kali ini,” ucapnya lalu tertawa menggelegar.
_
_
_
Scroll ke bawah 👇
__ADS_1